Minggu, 03 Februari 2019

Inilah Teori Zigzag Buatan Pak Habibie Ketika Mengendalikan Dollar



" ..Habibie's advocacy of a strange "zig-zag theory" of economics. He believed that cutting interest rates, then doubling them, then slashing them again, would reduce inflation. " ( TIme Magazine , June , 1998 )
Tulisan di bawah ini yakni status Facebook Pak Jusman Syafii Djamal, sekarang komisaris utama PT Garuda Indonesia. - 
See more at: http://unilubis.com/2015/03/12/jusma....j2Pgv7cL.dpuf

Tahun 1998 saya bekerja di IPTN. Tahun itu tahun yang amat sulit bagi perusahaan yang bergelut di proses pembuatan pesawat terbang. Kami menyebutnya sebagai tahun krisis. Ternyata kami tidak sendirian. Semua industri juga mengalami kesulitan. Orang menyebutnya sebagai tahun krisis ekonomi Asia. Sebabnya sepele semua andal ekonomi menyebut Indonesia tahun 96,97 dan 98 yakni puncak pertumbuhan ekonomi. Tahun 95 kita sebagai bangsa gres saja melewati ulang tahun ke 50. Tahun emas kemerdekaan. Optimisme berkembang dimana-mana. Itu tahun 1995, tapi apa yang terjadi tiga tahun kemudian ??

Semua tak menyangka tornado krisis akan menghantam semua optimisme. Tiga tahun kemudian di 98, Indonesia dilanda krisis. Awalnya sederhana nilai mata uang Bath di Thailand melemah terhadap dolar AS. Mata uang Bath turun secara drastis. Semua ekonom Indonesia bilang ah mengapa pusing yang lemah kan mata uang Bath, di Thailand. Ekonomi Indonesia tak mungkin terganggu. Potensi sumber daya alam banyak. Fondasi ekonomi kuat. Mengapa khawatir pada pelemahan nilai mata uang Bath. Apa yang terjadi di Thailand mustahil merambat ke Indonesia. Kita punya benteng perekonomian besar lengan berkuasa dan kokoh menyerupai Tembok China. Our line of defence sangat kuat. Dont worry be happy. Begitu kata semua orang pada Pak Harto yang ketika itu sedang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Ketika ekonomi Indonesia collaps dan hancur berkeping di tahun 1998, semua andal ekonomi maju ke depan. Yang tadinya bilang fondasi ekonomi besar lengan berkuasa pada dua tiga tahun sebelumnya kemudian tampil dengan pelbagai teori. Intinya semua berkata :”apa kakak bilang, memang kita rapuh. Padahal sudah kakak peringati, tak ada yang peduli”. Tahun 1998 yakni “nightmare” mimpi jelek bagi perekonomian Indonesia. Turunnya mata uang Bath, mempunyai imbas domino pada mata uang rupiah. Ternyata dibalik kekokohan fondasi ekonomi yang disebut oleh para andal dan secara kasat mata terlhat kokoh dan besar lengan berkuasa tersembunyi kelemahan.

Ada lima pelajaran yang saya tulis dalam catatan harian saya berkenan dengan krisis ekonomi tahun 98. Saya menciptakan catatan lantaran kebetulan, pada tahun 1996 Prof Dr. Ing BJ Habibie, boss saya menawarkan kiprah menarik pada saya. Suatu hari di jumat pagi ketika saya sedang sarapan pagi bersama isteri saya, mesin fax saya berbunyi tat tut tit. Tanda ada fax masuk tapi kertas habis. Kemudian saya mengganti kertas lantaran telah kebiasaan biasanya kalau mesin fax hidup di hari jumat pagi, pastilah ada hal penting dari Pak Habibie, yang harus dikerjakan. Sebab ia tidak ingin saya hanyut dalam liburan sabtu dan minggu. Kalau fax-nya panjang, Pasti ada perintah Boss berkenaan dengan analisa data. Fax tanpa telpon, artinya Assignment tak biasa .

Maklum di tahun 1996 saya gres ditunjuk menjadi Direktur Sistem Senjata dan Sistem Antariksa PT IPTN oleh Pak Habibie.

Benar saja, tak usang kemudian sesudah kertas gres diinstall, mesin faks bekerja tanpa henti. Lembar demi lembar mengalir keluar. Isinya pelbagai angka dan catatan tangan yang khas. Catatan Prof Habibie di lembar kertas faks itu. Saya tau itu yakni “assigment” , kiprah lain saya bukan sebagai Direktur Sistem Senjata, melainkan kiprah sebagai seorang asisten. Sebagai “computational aerodynamics yang berfungsi menciptakan pelbagai simulasi model matematika” kalau diperlukan. Lama saya mempelajari apa yang diminta, Yang tertera diatas kertas hanya simbol lambd, alpha dan gama serta psi, istilah variabel matematik yang amat digemari Prof Habibie kalau beri assignment pada saya.

Singkat dongeng sesudah itu selama lebih tiga bulan tanpa henti siang dan malam saya ternyata diminta oleh ia menciptakan simulasi model matematika ihwal kaitan suku bunga bank, inflasi, perubahan nilai tukar dalam perubahan tingkah laris kurva supply and demand dari dua jenis prosedur pasar. Pasar terbuka dan pasar terkelola. Beliau memberi “pekerjaan rumah” untuk menciptakan simulasi model matematika dari kaitan antara fiskal and moneter dari lima negara Amerika, Jerman, Perancis, Jepang dan Indonesia.

Saya bukan andal ekonomi. Pelajaran ekonomi saya ketika di ITB hanya diberikan oleh Prof Suharsono Sagir , Pengantar Ilmu Ekonomi. Saya dididik selama 10,000 jam tanpa henti oleh assignment Pak Habibie menjadi andal perancangan pesawat terbang dan “computational/mathetemtical modelling aerodynmaics”. Karenanya dengan assigment tidak biasa ini, setiap hari saya harus membaca buku untuk memahami apa yang disebut dengan M1,M2 apa yang disebut dengan velocities of moneys, flux of money. Sebab intrument equation saya yakni pesawat terbang.

Fenomena pasar terkelola yang cenderung selalu stabil didekati dengan equation stability pesawat terbang komersial angkut penumpang, Boeing atau Airbus, Sementara fenomena pasar bebas di mana krisis, business cycle , fluktuasi, chaos sanggup terjadi di daerah yang tak terduga didekati melalui simulasi gerak “instability and maneuverability” pesawat tempur F16 dalam “multi equilibirium” keseimbangan yang bersifat sementara dan cenderung ringkih kalau tidak ada maneuver(yang fly by wire, perubahan cepat dikelola dalam setiap perubahan tingkat stablititas)

Awalnya lantaran saya tidak hini assigment apa, saya telah menciptakan semua data itu masuk ke dalam formula “systems dynamics” yang menggambarkan gerak tingkah laris pesawat terbang dalam pelbagai perubahan cuaca dan ketinggian terbang serta perubahan konfigurasi. Kita menyebutnya pendekatan “matriks koefisien pengaruh” dalam enam derajat kebebasan yang memperlakukan semua variabel, data dan angka tidak sebagai “just number” atau skala, melainkan sebagai suatu variabel yang dipengaruhi dan mempengaruhi variabel lainnya dalam perubahan ruang dan waktu. Tiap variabel menjadi vektor. Punya besar dan punya arah. Hasil kajian saya yang kemudian melahirkan obrolan intens dengan Prof Habibie, melahirkan dokumen tebalnya 400 halaman. Semua berisi model matematika suku bunga, inflasi, dan nilai tukar dalam perubahan tingkah laris pasar. Prof Habibie kemudian menyebutnya sebagai Teori Zigzag dalam mengendalikan nilai tukar yang kemudian dipakai oleh ia ketika menjadi Presiden ketiga ditengah krisis ekonomi tahun 98. Kalau sekarang saya teringat itu, kadangkala saya sering merasa sangat bersyukur menerima kepercayaan Prof Habibie menjadi pengolah data dan pengembang model matematika selama hampir lebih sepuluh tahun semenjak 1983 sampai 1996.

Pengalaman itu yang menjadikan sekarang saya sedikit merasa hawatir melihat pergerakan rupiah yang terus melemah. Apalagi saya semakin lebih khawatir ketika semua Pemimpin penentu arah kebijakan ekonomi baik pengelola fiskal maupun pengelola moneter yang terlihat masih terus tertawa dan menyatakan “tidak apa apa, tidak apa”, Kita aman. Malah ada yang menyampaikan kalau nilai rupiah terus merosot malah kita untung. Cadangan devisa meningkat, dan ekspor akan terus melaju “current account defisit” akan menyempit lantaran devisa masuk. Tahun 98 tidak sama dengan tahun 2015. Jangan hawatir. Kita telah banyak berguru dari tahun 98 dan dunia telah jauh berubah dibanding tahun 98. Krisis ekonomi yakni masa kemudian dan dimasa sekarang Insya Allah krisis ekonomi tidak bakal dan tidak akan terjadi.

Sebuah optimisme yang bikin kita lega. Akan tetapi apakah benar demikian ?

Tahun 2015 yakni tahun pertama dari Pemerintahan Jokowi JK. Pada tahun ini terjadi suatu tanda-tanda ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Harga minyak dunia turun drastis. Tiba-tiba kasus beban subsidi dalam APBN hilang lenyap begitu saja. Berganti optimisme ada anggaran tersedia untuk membangun infrastruktur. Sebab subdidi BBM sekarang sudah dialihkan. Ini berkah. Akan tetapi muncul tekanan pertama secara perlahan tapi niscaya nilai tukar rupiah terhadap dollar turun.

Hari kemarin menyentuh angka terendah semenjak krisis ekonomi 98 yakni menyentuh pada angka Rp 13.000 rupiah. Angka yang melebihi perkiraan APBN 12500. Perbedaan 500 rupiah per dolar yang tidak menghawatirkan kata pengelola Fiskal dan Moneter. Asumsi APBN berubah, kita masih damai tenang. Alarm atau Early Warning Systems kita menyatakan aman. Bahkan ada yang berteori bahwa menurun sampai 15000 menyerupai tahun 1998 pun mungkin kita tidak apa apa. Ada Negara yang punya fenomena begitu Turki begitu argumennya. Menarik untuk disimak.

Bagi pelaku industri perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar merupakan sesuatu yang sangat ditakutkan. Kenapa?

Pertama, ia melahirkan ketidak pastian Top Line and Bottom Line tamat tahun. Revenue dan Profit menjadi sukar diprediksi. Sebab harga jual produk dipasar juga mengikutinya. Apalagi kalau penurunan nilai tukar itu berfluktuasi sepanjang waktu. Harga produk di pasar akan mengalami “ajustment” alasannya yakni produk sejenis di pasar akan mengalami pasang surut. Terutama bagi industri otomotif dan elektronik.

Kedua, industri yang sedang melaksanakan proses modernisasi barang modal juga akan ketar-ketir. Barang modal berupa mesin dan alat peralatan utama pada umumnya yakni barang impor. Untuk membeli barang modal biasanya industriawan melaksanakan proses penyicilan. Hutang dibentuk tahun 2012 dan 2013 ketika ekonomi membaik dan optimisme hadir. Pada ketika hutang dibentuk nilai dolar terhadap rupiah masih dalam kisaran Rp 9000, sekarang ketika hutang jatuh tempo terjadi nilai rupiah merosot ke angka Rp 13.000. Ada perbedaan Rp 4.000 rupiah. Hampir 50 % dalam tiga tahun. Itu berarti kalau ada utang 1 juta dolar tahun 2013, utang itu bernilai Rp 9 Miliar . Kini utang itu menjadi Rp 13 Miliar. Tanpa ada problem kinerja perusahaan, utang meningkat hampir 50 %. Bayangkan kalau ada perusahaan baik swasta maupun BUMN yang uutang ketika dolar bernilai Rp 9. 000 sebesar US 100 Juta dolar, yang berarti Rp 900 Miliar??? Pastilah sekarang ia harus merogoh kocek lebih dalam dengan nilai tukar dolar AS berharga Rp 13. 000, artinya ada komplemen utang Rp 400 Miliar. Mesin yang dibelinya jadi lebih mahal 50 %. Apalagi kalau pajak dihitung dalam dolar AS. Ampun dah kata dirutnya.

Ditengah perubahan nilai tukar terhadap dolar berarti industri harus melaksanakan proses penyesuaian. Kurva penurunan nilai rupiah terhadap dolar harus dicermati setiap detik dan setiap hari. Sebab dampak terhadap peningkatan biaya operasi akan merangkah sepanjang waktu tanpa terasa. Diperlukan langkah sistematis dan berkesinambungan untuk proses efisiensi dan penurunan biaya operasi. Penurunan biaya ini kadangkala menjadikan kekuatan penetrasi produk menyempit dan pada gilirannya profit mengkerut dan makin usang makin mengecil. Perusahaan yang tadinya tumbuh sekarang sedikit oleng. Seperti pesawat menghadapi cuaca buruk, ada goncangan yang tidak nyaman.

Ketiga, tagihan vendor luar negeri meningkat. Industri masa sekarang yakni industri global. Tidak mungkin ada industri manufaktur produk semua materi mentah atau produk setengah jadi berasal dari Indonesia. Tidak mungkin industri Otomotif atau Industri Elektronik atau Industri Pesawat Terbang ataupun Tekstil materi bakunya tidak ada yang diimpor. Kecil atau besar pastilah ada yang diimpor. Dari 3000 komponen kendaraan beroda empat untuk melahirkan sebuah kendaraan beroda empat paling tidak ada 1500 komponen yang diimpor. Impor berarti mengganti rupiah terhadap dolar. Nilai barang menjadi lebih mahal.Biaya produksi meningkat, daya kompetisi mengecil. Dengan kata lain setiap kenaikan harga dolar AS seribu rupiah yang disebut oleh Gubernur Bank Indonesia tidak mempunyai pengaruh, besar dampaknya bagi kekuatan industri dalam negeri yang strukturnya masih tergantung pada komponen impor. Dunia yang global ini menjadikan Indonesia tidak sanggup melepaskan diri dari imbas nilai tukar terhadap kekuatan industri dalam negeri.

Rumus :”Hope for the best prepare for the worst” berdasarkan ekonomis saya perlu tetap dipegang. Lihat data dan fakta sebagaimana adanya. Analisa setiap perubahan angka rupiah terhadap dolar betatapun kecilnya. Sebab angka itu bukan sekedar angka statistik. Melainkan hasil interaksi pelbagai kekuatan pasar yang sedang bekerja. Kita berada dalam sistem yang mempunyai kompleksitas. Krisis ekonomi sanggup menyergap tanpa diundang, ketika semua orang tertawa lebar. Itu pelajaran economy crises tahun 1998, yang Insya Allah tidak akan terjadi. Mohon maaf kalau keliru. Salam -

sumber :
http://unilubis.com/2015/03/12/jusman-sd-rupiah-melemah-mengapa-kita-tertawa/

0 Kometar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini