Jumat, 15 Februari 2019

Kisah Sukses : Pengingkaran Diri Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pernahkah Anda melaksanakan sesuatu yang bahwasanya Anda ketahui bahwa sesuatu yang Anda lakukan merupakan suatu kesalahan atau anda tahu bahwa itu salah tetapi Anda tetap melakukannya bahkan menjadi kebiasaan?. Atau Anda melihat suatu kebenaran tapi tidak mau mengikuti malah bertahan dengan alasan Anda yang nyata-nyata salah, bahkan hati kecil pun mengakui bahwa yang dilakukan yaitu salah?. Dan ironisnya kesalahan tersebut dianggap hal biasa sampai menjadi "benar" berdasarkan evaluasi sendiri.

Banyak sikap pengingkaran diri ini yang kelihatannya normal padahal hidupnya penuh dengan topeng-topeng kepalsuan. Agar dilihat anggun dari luar tetapi bahwasanya bobrok didalamnya. Jika diambil rujukan akan berbagai sikap ibarat itu yang menyusup dalam kehidupan kita namun kita sendiri merasa semua baik-baik saja dan merasa tidak ada yang salah.

Saya ambil rujukan di bulan ramadhan ini, Seorang sahabat yang tidak berpuasa ketika diluar rumah tetapi ketika pulang kerumah pada ketika berbuka puasa ikut-ikutan berbuka bersama keluarga seperti beliau berpuasa dan pada ketika sahur pun demikian ikut-ikutan sahur. Entah alasannya yaitu takut orang tua, istri atau aib sama anak yang terang beliau tidak merasa bersalah dengan perilakunya itu. Ya… saya tidak berhak mencampuri urusan temanku tersebut, cuma ibarat itulah rujukan kecil pengingkaran diri dan itulah kadang dalam hidup hal-hal semacam ini secara sadar sering kita lakukan ibarat berbohong, atau menipu diri untuk menutupi kelemahan atau kesalahan.

Seorang pelajar yang sering membolos tentu mengingkari dirinya dengan akal-akalan pergi sekolah tetapi malahan main dan terang telah membohongi orang tuanya yang menyangka anaknya benar-benar pergi untuk sekolah.

Kita selalu kelihatan ingin tampil baik dan tepat dalam kehidupan kita, sehingga gaya dari mulai model pakaian sampai rambut pun tidak mau ketinggalan jaman plus kendaraan yang digunakan juga ingin kelihatan keren. Segala cara diupayakan biar bisa tampil gaya, gak perduli harus ngutang, pinjam sana-pinjam sini, cicil sana cicil sini, asal bisa punya motor atau kendaraan beroda empat dan penampilan yang wah.. padalahal kita sendiri tahu bahwa kita tidak bisa atau kalaupun bisa sangat terlalu memaksakan diri. Prinsip “bagaimana nanti” telah menjadi kebiasaan kita sehari-hari bukan “nanti bagaimana?”.

Memang tidak ada yang salah dengan semua itu jikalau benar kita bisa dan tidak mamaksakan diri tetapi jalas akan salah jikalau semua itu hanya upaya mengingkari keadaan diri yang bahwasanya belum mampu. Akibatnya kita terjerat dengan masa depan yang terbebani akhir ulah kita sendiri.

Seorang pecandu rokok yang bisa menghabiskan minimal 4 bungkus rokok sehari tahu bahwa beliau telah menderita kecanduan rokok yang akut alasannya yaitu konsumsi rokok yg berlebihan. Mungkin memang tidak ada aturannya berapa batang rokok yg kita hisap yang menciptakan seseorang sanggup dikatakan kecanduan, tapi kita tahu bahwa hal ini tidak baik, apalagi kalau ternyata pecandu rokok tersebut bahwasanya punya duduk kasus kesehatan dengan paru-parunya yang tidak sehat alasannya yaitu kebiasaan merokoknya tersebut, nah ini sudah termasuk kategori salah. Maaf bukan menyindir para peroko, saya sendiri masih merokok, 2 Kunci Sukses Sederhana ) Atau kalau kita tidak sanggup/bisa merubah kebiasaan yg kurang baik itu sendiri, kita perlu santunan orang lain yang bisa mengingatkan kalau kita salah, harus berubah dan berusaha menjadi lebih baik lagi.

Jika kita melihatnya dari segi Kecerdasan atau Q/quotient, berdasarkan saya semuanya berperan, alasannya yaitu kita tahu bahwa yang kita lakukan itu tidak baik dan butuh perubahan yang signifikan walaupun harus melewati proses yang tidak mudah, alasannya yaitu butuh waktu dan pengorbanan. Tapi apabila kita punya tekad yang besar lengan berkuasa dan bisa mengontrol diri untuk berubah atau minimal mengurangi perbuatan/ tindakan kita yang kurang baik tersebut, tanpa kita sadari kita sudah memiliki impian untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan apabila kita sudah merasa sedikit nyaman atau tidak merasa terlalu terbebani dengan sasaran yang hendak kita capai, saya rasa itu sudah mempermudah diri kita sendiri untuk menghadapi perubahan tersebut.

Selamat berubah untuk tidak mengingkari diri.


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini