Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2019

Inilah Andrew Darwis

Andrew Darwis  lahir pada 20 Juli 1979 dan sudah menjadi entrepreneur muda sukses berkat lembaga Kaskus yang ia buat.
Setelah berkuliah di Binus, Andrew mencari universitas lain yang ‘mendukung’ hobi barunya. Ia kesulitan menemukan universitas yang cocok di Indonesia, alasannya yaitu kala itu multimedia belum menjadi lahan mata pencaharian umum di Indonesia. Namun balasannya ia menemukannya melalui informasi seorang teman yang gres pulang dari Amerika. Sebuah universitas berjulukan Seattle University dinilainya sanggup memfasilitasi hasratnya mendalami dunia web programming.
Pada awalnya, kedua orang bau tanah Andrew tidak oke dengan impian anaknya. Mereka menganggap kuliahnya kelak akan terlalu menghamburkan uang, belum lagi biaya hidup disana. Namun sehabis didesak oleh Andrew, balasannya mereka luluh juga, dengan syarat biaya hidup selama kuliah di Amerika harus ditanggungnya sendiri. Andrew menyanggupinya.
Gagasan awal untuk menciptakan situs ini muncul semasa dirinya berkuliah di Seattle University, Amerika, pada tahun 1999 silam. Pada ketika itu, ia ditugaskan untuk menciptakan sebuah  website dari sebuah free software. Ketika mengerjakan aktivitas tersebut, terbersit di benak Andrew untuk menciptakan sebuah situs lembaga dengan nama Kaskus (singkatan dari Kasak Kusuk).

Dengan dibekali modal awal sebesar 3000 US $, Andrew membeli sebuah server dan bekerja sama dengan dua orang rekan berjulukan Ronald dan Budi untuk merancang sebuah portal yang berisikan info dan informasi mengenai Indonesia. Andrew optimis sedari awal dengan situsnya ini. Ketika itu, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 40 juta jiwa. Baginya, masing-masing pengguna ini merupakan sasaran yang potensial untuk memulai bisnis dunia online.

Tujuan awal Andrew dan rekan-rekannya yaitu situs ini sanggup mengobati kerinduan orang-orang Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri. Ia menyadur info dari situs-situs absurd menyerupai CNN dan Reuters, namun Kaskus versi awal ini berkembang dengan sangat lambat, tidak banyak pengguna internet yang tertarik dengan situs tersebut kala itu. Akhirnya, alasannya yaitu patah arang, kedua rekan Andrew pun hengkang.
Lambat laun, Andrew pun berguru dari kesalahannya, ia mangematai situs lembaga lain, dan mulai menambahkan sub forum-sub lembaga ke dalam kaskus. Mulai dari game hingga lembaga wacana flora dimasukkannya ke dalam kaskus. Lambat laun, situs itu pun berkembang pesat. Salah satu daya tarik kaskus kala itu yaitu lembaga BB+17, sebuah lembaga berisi gambar-gambar porno.

Setelah itu, Andrew harus bekerja keras sendirian menjalankan situsnya. Ia harus turun tangan sendiri memperbaiki server jikalau ada kerusakan.Ketika dirinya menuntaskan kuliah dan pindah ke Jakarta, ia harus bekerja keras seorang diri mengiklankan dan membangun gambaran Kaskus semoga para pengiklan tertarik untuk memasangkan iklannya di situs tersebut. Usaha door-to-door yang dilakukan Andrew berbuah manis. Hanya berselang setahun sehabis pindah ke Jakarta dan melaksanakan pencitraan terhadap Kaskus, Andrew menerima santunan dari banyak klien yang mempercayakan pengiklanan produk mereka di Kaskus.
Akhirnya pada bulan Desember 2008, Kaskus di launching secara resmi dengan santunan banyak pihak di belakangnya.Dua bulan setelahnya, Andrew mendirikan perusahaan berjulukan PT Darta Media Indonesia untuk membawahi Kaskus sebagai perusahaan website profesional. Pada tahun yang sama pula, Andrew dengan berani menghapus sub-forum BB+17 yang sudah mengangkat nama kaskus, alasannya yaitu pada tahun tersebut Rancangan Undang-Undang antipornografi telah disahkan pemerintah dan situs kaskus terancam dibredel alasannya yaitu memuat konten berbau pornografi.

Tindakan tersebut alih-alih menghancurkan, malah melambungkan nama Kaskus. Sejak konten BB+17 dihapuskan, terjadi lonjakan jumlah netter yang mendaftar di Kaskus. Jumlahnya dapt mencapai rata-rata 150-250 anggota gres per harinya. Saat ini tercatat ada 2,310,981 member kaskus (terhitung di tanggal 27 November 2010 pukul 17.20 WITA) dan jumlah ini terus bertambah pesat. Target pasar Kaskus yaitu kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, professional dan entrepreneur. Tak hanya itu, sub lembaga e-commerce kaskus yang berjulukan FJB juga mengalami peningkatan pesat.

Kaskus yang mempunyai slogan The Largest Indonesian Community, terus berevolusi dari portal berita, lembaga komunitas dan berubah jadi lembaga jual-beli (FJB). Selama ini, kemajuan dan pencapaian Kaskus tidak hanya dari bertambahnya jumlah member tetapi sejauh mana Kaskus sanggup bermanfaat bagi usernya, salah satunya yaitu cerita sukses beberapa Kaskuser yang menjual produk mereka di FJB.
Manfaat yang disediakan kepada anggota Kaskus (Kasak-Kusuk), yang semenjak awal telah diniatkan sebagai lembaga yang membebaskan semua anggota untuk berekspresi tersebut, yaitu dengan menambah pengetahuan Kaskuser dengan thread-thread berkualitas, menimbulkan Kaskus sebagai kawasan untuk mengeluarkan gagasan & ide, member untuk beropini/ mengeluarkan pendapat. Mengajak Kaskuser untuk terus kreatif lewat aneka macam lembaga yang ada.

Dan, untuk misi kedepan, masih banyak hal yang sanggup dikembangkan Kaskus, menyerupai memperkaya content di website Kaskus, memperbanyak online activity, menyebarkan featured yang ada di Kaskus, melaksanakan serangkaian aktivitas kegiatan offline serta community engagement. Intinya berkeinginan menyebarkan lokal konten. Kaskus sebagai wadah untuk orang melaksanakan transaksi jual beli sudah memperlihatkan terms of use nya. “Kami pun selalu mengingatkan kepada siapapun yang akan melaksanakan transaksi online tetap harus berhati-hati,” kata Andrew Darwis, Founder KasKus.
Dan, tambah lulusan Art Institute of Seattle, Amerika Serikat (2003), jurusan multimedia dan disain portal ini, apabila masih ada member yang melanggar tentu kami memperlihatkan sanksi, kemudian member yang merasa terganggu dengan thread juga sanggup melapor ke hansip (istilah Kaskus) untuk segera ditindak, Setiap lembaga juga mempunyai moderator yang bertugas mengatur semoga lembaga tetap nyaman.
.
Beberapa penghargaan sudah diterima Andrew dari situsnya ini, di antaranya yaitu The Best Indonesian Communities for 2005 and 2006 versi Alexa.com and Wikipedia, dari Microsoft dengan nominasi KASKUS Indonesia Innovative Top Web Site di tahun 2008, dan dari Indosat dengan nominasi KASKUS The Online Inspiring Award di tahun 2009.

Kini Andrew dibantu oleh sekitar 30 orang karyawan dalam mengatur kaskus.us, yang terbagi menjadi beberapa tim antara lain  marketing, sales, IT dan creative.

Pada tahun 2009, penghasilan Andrew dari kaskus yaitu sekitar 600 juta rupiah per bulan. Andrew mengaku akan terus menyebarkan situsnya tersebut, dan mulai mengincar pengguna internet luar negeri dalam marketing content (isi) kaskus.

Kini,Pria yang dikenal para kaskuser sebagai ‘Mimin’ (singkatan dari Admin) ini patut berbangga, kaskus telah menjadi sebuah situs fenomenal yang mempunyai istilah tersendiri yang tidak dimiliki situs lembaga lainnya. Dirinya pun masuk ke dalam jajaran enterpreneur muda berbakat pujian Indonesia

Sumber :
http://gugling.com/2010/11/27/biografi-andrew-mimin-darwis-sang-pendiri-kaskus/

Rabu, 13 Maret 2019

Kisah: Kumpulan Berita, Artikel Dan Analisa Politik Populer



Selamat tiba di blog kumpulan isu politik dan analisa politik populer. Artikel di blog ini merupakan rangkuman dari goresan pena aku di beberapa blog dan web, termasuk goresan pena yang pernah dimuat di beberapa media massa.

Blog ini aku buat sebagai kesadaran akan pentingnya backup data berlapis sekaligus mempermudah pencarian pembaca, khususnya yang tertarik dengan ide, gagasan, acara dan penulisan isu yang pernah aku tuliskan. Beberapa judul aku rubah untuk mempermudah mesin pencarian, namun inspirasi penulisan sama menyerupai ketika pertama diterbitkan.

Silahkan berselancar di blog ini, supaya bermanfaat.

Selasa, 12 Maret 2019

Inilah Pelukis Palet Ekspresionis Kontemporer


Suwandi, yang sekarang lebih dikenal sebagai MS Wawan, seorang pelukis hebat dari Jember, yang sudah melaksanakan festival di empat benua di dunia, tak pernah menyangka nasibnya sebagai pelukis akan menyerupai ini. Mantab menjadi pelukis semenjak masih duduk di dingklik SMP, MS Wawan harus mendaki bukit terjal untuk mencapai kesuksesannya ketika ini. Masa kemudian Wawan penuh dengan ikhtiar dan keprihatinan. Dibesarkan oleh kakek dan nenek di Kota Malang, alasannya orangtua sudah meninggal dunia, membuatnya menjadi seorang anak yang pendiam dan tertutup. Sejak, masih kanak-kanak Wawan erat dengan kesunyian. Dia bahagia menyendiri dan merenung sendiri. Untuk ukuran anak lelaki, sifat Wawan bisa jadi sentimental layaknya anak perempuan. Dia bisa mendiamkan sahabat lelakinya hanya alasannya sakit hati melihat sang sahabat berpelukan mesra dengan orangtuanya. Rasa sakit yang mengiris hatinya kolam sembilu itu alasannya Wawan tak pernah mencicipi sentuhan ayah dan ibunya. Yang beliau tahu, beliau hanya anak yatim-piatu yang dibesarkan oleh kakek-nenek dan hidup bersama saudara-saudaranya. Hidup dalam keterbatasan, yang menciptakan beliau mulai termotivasi untuk mencari nafkah semenjak masih kanak-kanak. Di dingklik sekolah dasar, di Malang, beliau menentukan menjadi penjual es. Dia jual ke teman-temannya untuk menambah uang saku ke sekolah.

Berlanjut ke SMP, Wawan menentukan menjual kacang permen. Di masa Sekolah Menengah Pertama ini, beliau mulai menunjukkan ketertarikan yang sangat pada dunia melukis. Bakat itu memang ada semenjak beliau masih kecil, hanya tak terlalu menarik minatnya. Di dingklik SMP, beliau melukis wajah kakek dan nenek salah seorang temannya dalam bentuk sketsa. Karena keterbatasan bahan, waktu itu beliau tidak memakai pensil ketika menciptakan sketsa. “Saya memakai bekas baterai,” katanya. Komponen baterai memang memakai abu karbon yang berwarna hitam. Bubuk itu, beliau keluarkan dari baterai, dan beliau gunakan sebagai alat pengganti pensil. Itu pertama kalinya beliau melukis dan langsung mendapatkan bayaran. “Itu uang pertama dari lukisan. Dan saya gembira sekali,” katanya. Kejadian menggembirakan itu ialah tonggak pertama, beliau mulai berpikir untuk mencari nafkah dari melukis. Dia sudah memantabkan diri untuk menjadi seorang pelukis. Hanya saja, karirnya untuk menjadi seorang pelukis tak bisa langsung beliau wujudkan. Dia masih diharuskan untuk melanjutkan sekolah di dingklik SMA. Sambil terus melukis, beliau kembali berjualan. Kali ini, beliau menentukan menjadi penjual koran, majalah, dan buku TTS di Stasiun Tugu Yogyakarta. Setiap hari beliau menumpang kereta yang melaju di jalur Solo-Klaten-Yogyakarta-Kutoarjo. Begitu terus setiap hari. Di sela-sela menjual koran, majalah, dan buku TTS itu, rahasia Wawkat mengasah talenta lukisnya. Dia memakai aneka kardus yang sisa bungkus barang-barang yang bergeletakan di stasiun sebagai media gambarnya. Dia tentu saja tak bisa dengan gampang membeli kertas gambar. Mahal dan niscaya akan menghabiskan uang hasilnya bekerja. Dari kardus-kardus bekas itu, beliau melukis seorang anak, seorang kakek, seorang ibu, hiruk pikuk stasiun.

Awal yang mendekatkannya pada potret kehidupan anak manusia. Lulus dari Sekolah Menengan Atas Jetis Yogyakarta, beliau mantab melanjutkan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Masuk ke sekolah seni beliau menerima saingan dari kakaknya. Masa depan seniman ketika itu kerap menciptakan orang mengerutkan keningnya ketika anak sanak saudara atau anak mereka memilihnya menjadi gantungan nafkah. “Mau jadi apa kau kalau jadi seniman lukis. Itu kata abang saya. Masak kau nggak ingin menjadi dokter. Itu kan lebih enak. Masa depan terjamin,” katanya menirukan provokasi sang kakak. Secara terus menerus, sang abang terus memprovokasi Wawan untuk mengubah cita-cita menjadi pelukis. Sang abang terus menerus menekankan bahwa menjadi dokter atau pegawai akan membuatnya hidup makmur.

Wawan hanya bisa menghela napas panjang. Dengan pelan, beliau berusaha memberi pengertian kepada sang kakak. Tentu, beliau tak ingin sang abang sakit hati. Karena kakaklah yang merawat beliau sebagai pengganti orangtua. “Saya bilang, Kak, selama ini pernahkah saya menolak saran dan hikmah kakak. Tolong, sekali ini biarkan saya menempuh jalan hidup saya sendiri,” katanya. Tak ada kesepakatan. Yang ada hanya pembiaran dan perilaku diam. Sang abang menentukan tidak menegurnya ketika Wawan nekat melanjutkan pendidikannya di ASRI. Melanjutkan mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang pelukis. Tiga kali hari raya kakaknya tak menegurnya. Tapi, usang kelamaan keluarga bisa mendapatkan dirinya sebagai seorang pelukis. Perjuangannya yang tak tanggung-tanggung menciptakan beliau sukses menjadi seniman lukis.

Wawan sudah festival di 26 negara. Pertama kali festival diluar negeri, beliau sudah mengunjungi Berlin, Belgia, Rotterdam, Amsterdam, dan Brussel, serta beberapa negara lain. Bulan Juni nanti, beliau kembali akan melangsungkan festival di Menara Jamsostek Jakarta, Yogyakarta, Nusa Dua Bali, Kyoto Jepang, Singapura, dan Putra Jaya Malaysia. Pameran, bagi seorang seniman sangat mutlak diperlukan. Wawan menilai seniman itu harus konsisten untuk pameran. “Selain untuk menambah wawasan dan untuk menunjukkan inilah karyaku, festival itu untuk menambah poin kharismanya. Sebuah titik awal menjadi maestro,” katanya. Pameran di banyak sekali negara juga sangat menguntungkan pelukis tanah air alasannya menambah kemajuan bagi karya mereka. Berbeda dengan seniman di Indonesia yang kadang kelewat eksklusif, seniman mancanegara justru lebih bersahabat dengan sesama seniman. Ada sharing pengetahuan dan teknik melukis, ada rasa saling isi mengisi. “Beda jauh, kalau seniman luar negeri mereka lebih friendly. Akhirnya, kami bisa saling isi mengisi,” katanya.

Di Jember, seniman masih terikat dengan teori. Bagi Wawan itu menghambat seorang seniman untuk lebih maju. Seniman hanya karam dalam idealisme tapi tak kunjung berkembang. “Kalau teori sudah hingga Pluto, tapi orangnya masih di Jelbuk. Padahal, kalau mau lebih maju, niscaya bagus,” katanya. Untuk hingga ke festival di banyak sekali negara, selepas dari ASRI Yogyakarta, beliau masih harus magang di seorang maestro Belanda, yang sekarang tinggal di Bali. Di sana, beliau terus mengasah kemampuan melukis, sekaligus kepekaan sebagai seorang seniman. Kini, karya-karyanya sudah banyak dipesan oleh kolektor dengan pasaran sekitar Rp 40 juta ke atas. Bahkan ada sebuah karya yang sudah ditawar Rp 120 juta. Karya itu beliau beri nama Bamboo Village. Tak usang untuk menciptakan sebuah lukisan. Wawan juga tak percaya dalam proses berkreativitas, seorang seniman tergantung pada mood. “Oh saya tak percaya itu. Seniman ya seniman, mau suasana kacau, tenang, berisik, harusnya ya tetap bisa berkarya,” katanya. Dia sendiri merasa ada hutang ide bila beliau tidak segera menuangkan ide-idenya dalam sebuah karya lukis.

Untuk ide, beliau juga mengaku tidak tergantung mood. Ide bisa tiba dari mana saja. Bahkan, pertemuan dengan seorang perempuan muda Tiongkok ketika beliau berada di Shan Dong, bisa menjadi sumber inspirasi. Awalnya hanya say hello, berlanjut dalam hubungan pertemanan, balasannya perempuan muda itu bersedia menjadi modelnya. Sungguh gampang bukan, asal ada niat disitu niscaya ada jalan. “Berkarya dengan memakai otak yang diciptakan Tuhan, itu sungguh tak terbatas. Bukan alasannya mood, mood bisa dikendalikan asal kita sungguh-sungguh menjalani dengan sepenuh hati,”pungkasnya.

Sumber : sosok.kompasiana.com

Kisah: Cara Sukses Kampanye



Sukses kampanye yaitu ujung dari serangkaian proses komunikasi; goresan pena ini merupakan intisari keikutsertaan aku dalam tim sukses pada pemilu 2009 dan 2014, ringkasan berita, buku sukses Obama dan Jokowi. Dan tentu saja keberhasilan kampanye merupakan kunci utama yang sanggup mengantarkan seseorang menuju dingklik direktur (Walikota, Bupati, Gubernur dan Presiden) maupun legislatif (anggota dewan)
Sebelum anda melaksanakan kampanye, yaitu mutlak bahwa anda telah dikenal sebelumnya (setidaknya dalam setiap pencitraan / penampilan / kesan) sebagai:
1.    Orang terdekat dan yang erat dengan anda sudah yakin bahwa anda memasuki dunia politik dengan tekad kuat, tiada keraguan sedikitpun dan senantiasa optimis bisa melaksanakan perubahan di masa mendatang
2. Anda harus mempunyai kepribadan dan perilaku tenang, dalam keadaan apapun. Kemudia disertai dengan perilaku rasional, tegar menghadapi tekanan, kemampuan memberikan pesan secara konsisten dan pengendalian emosi
3.    Anda suka bersosialisasi, sentuhan personal sangat berpengaruh
4.  Menjadi perubahan itu sendiri, bukan sekedar mengucapkan. Ketidaktetapan dan ketidakpastian menghantui hidup insan di seluruh dunia, maka siapapun yang menolak perubahan dia menolak kenyataan dan hidup itu sendiri

Setelah anda merasa sudah mempunyai perilaku dan kesan tersebut diatas, tahapan berikutnya yaitu kampanye. Menurut Roger Fisk, ketua tim kampanye Barack Obama ada beberapa tips supaya kampanye berujung sukses.

Pertama, kampanye yang melibatkan partisipasi warga setempat. "Kandidat juga harus mengikuti keadaan dengan kebudayaan lokal sehingga konstituen merasa mempunyai kedekatan,"
Kedua, kandidat hendaknya menyesuaikan materi yang disampaikan dengan karakteristik massa.
Ketiga, yang tidak kalah pentingnya, sebelum kandidat mengunjungi suatu daerah, kandidat harus mampu membuat kesadaran publik akan kehadiran dirinya. "Sebelum mantan Senator Obama mengunjungi satu daerah, kami berusaha supaya ada media lokal yang memberitakan kehadirannya sehari sebelumnya," kata Fisk.
Keempat, kandidat beserta tim kampanyenya hendaknya tidak meng-anak emas-kan dan meng-anak tiri-kan wilayah-wilayah tertentu dikala berkampanye alasannya semua sama pentingnya.
Kelima, dikala pergi ke daerah, kandidat harus lebih banyak mendengar masukan-masukan dari warga setempat. "Ketika berkunjung ke suatu komunitas, 90% waktu dipakai Obama untuk mendengar," ujar Fisk.
Keenam, kandidat beserta tim kampanye harus bisa memelihara kekerabatan dengan konstituennya, contohnya dengan mengirimkan e-mail, atau grup media social atau Whattsapp beberapa hari setelahnya. E-mail tersebut sanggup berupa penyampaian kembali poin-poin kampanye, atau sekadar ucapan terima kasih.

Dari poin ke-enam, maka milikilah website dan aktif di media sosial, seringkali website tidak membuat komunikasi dua arah, rencanakan dan berdiri kaampanye medsos secara professional. Kebanyakan kandidat hanya memberikan uraian visi-misinya di website-nya, dan tidak melibatkan pengunjung.

Para caleg dan calek seringkali mengabaikan kampanye media sosial, meskipun bukti banyaknya politisi sukses memakai cyber campaign begitu banyak. Ada juga yang mulai sadar memakai kampanye siber namun terbatas pada aktifitas Faceebook dan Whatapps, sementara yang dibutuhkan yaitu integrasi semua akses kampanye siber dan koneksitas dengan acara dunia kasatmata (integrasi acara kampanye online dan offline)

Senin, 11 Maret 2019

Inilah Berbisnis Kerajinan Perak


Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada dalam genggamannya, ia justru tetapkan pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar mancanegara? Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan indah menyerupai mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat sosialita New York.  Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah, ramah dan cekatan itu, menerima julukan Suarti Perak Bali. Namanya makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai desainer perhiasan perak melanglang hingga ke London, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini. 

Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah berkibar di mancanegara seiring perannya membeli perusahaan perak Kanada, Bali Inc.  Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin produksi supaya para tukang peraknya menuntaskan order sempurna waktu. “Waktu penyelesaian menjadi hambatan terbesar dalam menuntaskan pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini dibutuhkan Suarti bisa meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan. Sementara pemasaran, Suarti semenjak awal memfokuskan diri menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah dibinanya dikala masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS, Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel produk saya serahkan sepenuhnya pada kawan bisnis,” ujarnya. Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan undangan perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu laba yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.

Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design Centre, yang dikala ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan idenya. “Saya tetap memperlihatkan makna dan jiwa pada setiap produk yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya. “Tanggung jawab desain dan memperlihatkan jiwa pada setiap produk Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan wangsit mengingat begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya.  Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang bergaya tropis, menghadap eksklusif ke maritim lepas di Desa Ketewel, Gianyar, Bali.

Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350 tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-Juli, yang menghabiskan materi baku hingga mencapai tidak kurang dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan banyak sekali bebatuan. Selain memenuhi pesanan kawan bisnis wholesale-nya, secara rutin setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang, kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk cincin, sedangkan kalung US$ 350. Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per bulan dengan margin laba rata-rata 30%. Pemasaran produk Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari kawan bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,” ungkapnya bersemangat. 

Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu bersemangat melaksanakan perjalanan lantaran baginya tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya digunakan untuk memajang pola produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia menentukan tidak mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya kawan bisnis yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris, Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata bisa memberi pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun. Karakteristik pembeli di negara maju, berdasarkan Suarti, sangat simpel ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai kesepakatan dan bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya. Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak hanya memproduksi perhiasan berbahan baku perak. Saat ini tidak kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti menyerupai Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold, Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu (koperasi).

Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa” dalam setiap produk yang dihasilkan ialah kunci keberhasilan Suarti mengekspor perhiasan perak ke mancanegara dengan omset puluhan miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya, Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, populer sebagai penari Arja yang juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah, Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10 tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali. Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa seakan-akan berada di nirwana dikala mulai membuat ukiran di atas kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu, menurutnya, lantaran sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah lantaran kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata mengundang kekaguman seorang editor populer dari New York, Mr. Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti. 

Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar negeri pada 1972 dikala diajak bergabung oleh Anak Agung Gede Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat populer dikala itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut menari di Australia. Sejak dikala itu, perjalanan Suarti melanglang buana seolah tak terbendung. Apalagi sehabis ia diperistri Charles Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil berguru fashion. Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York School of Design. 

Seiring perceraiannya sehabis 7 tahun menikah, Suarti tetapkan hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai menekuni dunia fashion dengan fokus mendesain dan membuat kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat di luar perkiraannya. Namanya berkibar sehabis ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang pengusaha populer yang juga pemilik gerai perhiasan populer di Fifth Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para desainer populer di seluruh dunia. 

Kiprah bisnis Suarti makin menjadi dikala dirinya dipercaya mempunyai gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas dunia. “Aksesori saya bisa berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung filosofi dan bermakna sehingga mempunyai ‘jiwa’,” tambah peraih Kartini Award 2007 ini.  Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang berdasarkan Suarti menjadikannya bisa menyejajarkan diri dengan para desainer perhiasan dunia lainnya yang secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya sehingga ia lebih simpel berekspresi untuk membuat suatu desain. Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga, menyerupai sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke pasar internasional seiring taktik pemasaran yang dikembangkannya lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah situs belanja dunia.

Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup usang berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham benar jikalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional. Sehingga untuk bisa menggunakan motif tertentu, perajin harus membayar sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten. Ancaman eksekusi dan penolakan dari negara pengimpor hasil kerajinan berdasarkan Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap pasang tubuh di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya leluhur kita. Jangan hingga di kemudian hari kita harus membayar pada pihak absurd untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti. Kepedulian Suarti untuk bisa maju bahu-membahu ditunjukkannya dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak wacana seluk-beluk bisnisnya mulai dari produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka, ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain mengajarkan wacana seluk-beluk desain, juga administrasi pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan melaksanakan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya. 

Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti yang erat dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung mendidik eksklusif bila ada karyawan yang gres bergabung. Hal ini dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang eksklusif bergabung begitu lulus Sekolah Menengah kejuruan Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit menyebarkan ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang tidak punya latar belakang pengetahuan wacana perak, kini tahu banyak wacana produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.

Sumber : franchise-entrepreneur.blogspot.com

Kisah: Efektifitas Kampanye Media Umum Alias Cyber Campaign



Tahun politik tahun 2018-2019 menjadi pesta demokrasi paling riuh di dunia terjadi di Indonesia. Perhelatan pilkada dan hakekat arti pemilu ialah pertarungan memperebutkan kekuasaan, merebut sesuai dengan peraturan dan perundangan alias konstitusional. Maka semua pihak yang terlibat berusaha dengan segala cara untuk memenangkan kudeta itu, kudeta itu diyakini akan berhasil melalui kampanye (campaign).

Bagi anda para tim sukses, calon walikota, calon bupati dan calon gubernur beserta wakilnya, atau bahkan anda para bakal calon anggota dewan mungkin sebagian besar kurang begitu bersemangat atau hanya menyediakan ruang kampanye dengan tim ‘seadanya’ untuk menggarap kampanye online bernama media social, malah saya yakin sebagian besar dari tim atau para kandidat ialah generasi ‘gaptek’ alias gagap teknologi.

Sebagian besar tentunya masih menempatkan alat peraga berupa baliho, spanduk, stiker, kalender atau blusukan sebagai senjata utama. Tidak ada yang salah dalam hal itu, namun data berikut ini mungkin akan membuka cakrawala anda, mengapa kampanye pilkada, pemilu dan calon legislative di media umum menjadi salah satu kunci kemenangan:

1.    Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia dengan pengguna facebook paling aktif. Ini hasil riset dari Linked pada April 2017 dengan judul We Are Social dan Hootsuite.
2.    Jumlah pengguna internet di Indonesia : 132 juta
3.    Jumlah pengguna facebook : 112 juta
4.    Akses Internet / media social melalui HP / Smartphone 70%
5.    Akses melalui Laptop atau PC (personal Computer), termasuk warnet 30%
6.    Usia pengakses internet = 80% generasi kelahiran tahun 1980, 1990, 2000 (kelahiran tahun 2000 yang di sebut Generasi Kid Jaman Now dan merupakan pemilih pemula)
7.    15% pengakses kelahiran tahun 1960-1970 dan 5% kelahiran tahun lebih awal
8.    Penelitian dalam negeri dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) juga menggambarkan hal yang sama :
9.    Jumlah 86,3 juta pengguna internet ada di pulau jawa, sisanya adalah: 
         20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera.
          8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi.
          7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan.
          6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB.
         3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua.

APJII bekerja sama dengan Lembaga Polling Indonesia untuk melaksanakan survei tersebut. Proses survei dilakukan melalui tatap muka dengan metode multistep random sampling atau secara bertahap.
Dalam penelitian tersebut juga tercatat kenaikan pengguna internet sebesar 51,8% dari tahun 2014 sampai 2017 atau setiap tahun 19%, kalau anda membaca artikel ini tahun 2018 maka akan terdapat sekitar 160 juta pengguna internet dan akan berada pada angka 180 juta pengguna internet di tahu 2019 di Indonesia, wow ! sebuah pangsa pasar dan pangsa konstituen yang sangat besar.

Apa pengaruhnya? Pada jaman kini (khususnya generasi muda) mereka tidak tertarik dengan baliho, spanduk, banner, poster dan sejenisnya (mereka kurang peduli alias cuek). Namun kalau mereka mendengar kata calon atau caleg maka dengan cepat mereka akan mencari tahu dari gadget, mengetik sesuatu di google lalu search. Disinilah kunci ‘memperkenalkan diri’ dan jadwal yang diusung. Bisa anda bayangkan jika apa yang mereka cari tidak mereka temukan atau hanya sedikit informasi dan referensi, apalagi malah seringkali gosip negative ihwal anda atau partai anda.

Anda harus ada dan tercatat cukup banyak informasi saat seseorang search google atau menjalankan facebook, twitter, instagram, Linked, G+ dan seluruh kanal media social untuk sanggup memenangkan pertarungan kampanye digital atau kampanye media social. Contoh yang berhasil memanfaatkan media umum dan internet dalam kampanye ialah Barrack Obama, Jokowi dan Ridwan Kamil, tentu saja masih banyak lainnya. Pertimbangan utama kampanye digital atau kampanye medsos ialah : Efektifitas dan Biaya Murah !

Untuk anda yang berminat meningkatkan cakupan pangsa pasar maupun jangkauan calon konstituen, terutama dari kalangan generasi muda atau pemilih pemula dan generasi kelahiran tahun 1980, 1990, 2000 (pemilih pemula dan konsumen aktif belanja online) silahkan menghubungi kami di 0812 8420 4419 untuk jasa konsultasi professional.


Minggu, 10 Maret 2019

Inilah Pendiri Gadrie Food Industries Berpenghasilan Besar


Syarifah Azizah, sang pemilik Gadrie Food Industries, tak kenal lelah mempromosikan kuliner khas Timur Tengah. Akhirnya, ia berhasil memasok sajian asal Jazirah Arab ini ke perusahaan katering hingga supermarket di Tanah Air. Kini, dalam sebulan, Syarifah bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 113 juta. Awalnya, Syarifah Azizah yaitu seorang ibu rumah tangga biasa yang hobi memasak. Keahliannya mengolah masakan asal Timur Tengah yang jarang dikuasai kebanyakan orang Indonesia, memicu keberaniannya mendirikan perjuangan katering pada tahun 2000. Produk andalannya kala itu, nasi kebuli, roti maryam, dan roti jala. Pelanggan kateringnya kebanyakan orang-orang yang menggelar program pernikahan. Tapi, Syarifah juga menjadi pemasok masakan Timur Tengah bagi katering-katering besar. Sejak 2003, pesanan roti maryam buatannya terus meningkat. Dua tahun kemudian, Syarifah menentukan berjualan eksklusif ketimbang hanya memasok katering besar. Pesaing yang masih sedikit memacu optimismenya bahwa usahanya akan berhasil.

Berbeda dengan kebanyakan pengusaha lain, Syarifah terlebih dahulu mengurus segala surat kelengkapan usaha. Dengan mengusung nama CV Abdi Walidain, Syarifah mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWO), dan Tanda Daftar Perusahaan. Ia tak lupa mendaftarkan produknya ke Kementerian Kesehatan serta mematenkan merek Gadrie di Kantor Merek dan Paten. Semua upaya aturan ini ia lakukan atas saran sang suami, Syarief Buchari yang kebetulan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang perjuangan herbal. Suaminya tentu tidak mau perjuangan Syarifah terkendala duduk masalah administrasi, atau yang lebih jelek merek Gadrie dipatenkan oleh orang lain. Syarifah kemudian menjual bermacam kuliner Timur Tengah dengan produk andalan roti maryam, sambousa, dan bumbu kari. Namun, kesuksesan tidak tiba begitu saja. Apalagi, ia memperlihatkan kuliner Timur Tengah yang tidak setenar burger atau piza. Makanya, ia menyadari promosi yaitu yang terpenting. Karena itu, Syarifah rajin mengikuti pameran di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM. Hampir setiap pekan, ia pun membuka stan dalam pameran di Jakarta Convention Center.

Dalam setiap pameran, Syarifah memperagakan cara menciptakan roti maryam dan kuliner Timur Tengah lainnya. Dia juga menjelaskan kepada pengunjung ihwal roti maryam dan keunggulannya. Dengan pelbagai upaya itu, lambat laun usahanya berkembang. PT Bogasari Flour Mills dan PT Kraft Indonesia bahkan mengundang Syarifah untuk mengikuti pameran kuliner. Pada 2008, Ranch Market dan Farmer Market juga meminta Syarifah memasok produknya ke seluruh gerai mereka. Jelas, ini merupakan sebuah pujian baginya. “Karena sebelumnya, produk sejenis yang bisa masuk ke dua supermarket tersebut berasal dari Singapura dan Malaysia,” ungkap dia. Akhir tahun 2009, produknya masuk Foodhall dan Foodhall Daily. 

Khusus Foodhall Daily, Syarifah bertugas memasok ke dua restoran cabang mereka dengan beraneka produknya. Desember 2010, produk Gadrie juga mulai masuk ke Kemchick, meski gres di satu cabangnya saja. Syarifah pun mengganti cara promosi sehabis produknya masuk supermarket. Kini, ia hanya mengikuti pameran masakan besar. Selain itu, ia juga mengandalkan internet, menyerupai Facebook dan Kaskus.

Syarifah memang mengincar supermarket kalangan menengah atas, karena harga produknya mahal. Harga roti maryam isi delapan ukuran 11 cm sebesar Rp 40.000, isi enam ukuran 13 cm Rp 40.000, dan isi empat ukuran 13 cm Rp 22.000. Sambousa isi lima, harganya Rp 20.000. Bumbu kari untuk sepuluh porsi, harganya Rp. 30.000.

Ia memproduksi beraneka kuliner itu di rumahnya di Rawa Belong, Jakarta Barat. Syarifah mempekerjakan 16 orang dengan waktu produksi Senin hingga Sabtu, mulai jam 07.00 hingga 16.00. Saban hari, ia memproduksi 500 roti maryam dan 250 sambousa. Serta, 100 kotak bumbu kari per dua pekan. Tiap bulannya, Syarifah mencetak omzet Rp 113 juta dengan keuntungan higienis sekitar Rp 60 juta. Meski tetap mempertahankan proses produksi secara manual, Syarifah Azizah berniat menyebarkan pasar dan produk Gadrie Food Industries. Ia pun menerima pertolongan sang anak, Syarief Baihaqi yang akan membantunya dalam perluasan ini. Sayang, modal masih menjadi kendala.

Untuk memperlancar bisnisnya, Syarifah Azizah juga melibatkan anggota keluarganya. Selain sang suami, Syarief Buchari, anak bungsunya, Syarief Baihaqi, juga punya banyak peran. Jika Syarifah bertanggung jawab pada proses produksi, maka Baihaqi bertugas mendesain produk, memasarkan dan melobi supermarket. Baihaqi memang mengambil kuliah jurusan desain sehingga ia memiliki kompetensi di bidang ini. Tugas pertama Baihaqi yaitu mendesain kemasan-kemasan produk Gadrie. “Ia pernah mendesain kemasan Sambousa hingga harga jualnya naik dari Rp 15.000 ke Rp 20.000,” ujar Syarifah. Baihaqi jugalah yang mencetuskan penggunaan proses vakum semoga produk Gadrie bisa disimpan beku. Pada 2011, Syarifah merencanakan ekspansi. Di pasar lokal, ia berencana merambah supermarket di kota-kota besar, menyerupai Makassar dan Balikpapan. Jadi, “Penggemar produk Gadrie di tempat nanti bisa beli di sana,” katanya. Selain pasar lokal, ibu empat putera ini juga berniat mengekspor produknya. Ia mengincar pasar Malaysia dan Singapura. Pasalnya, pesaing Gadrie hanya dari kedua negara itu. “Saya yakin, di sana pasarnya sudah terbentuk,” ujarnya.

Tak ketinggalan, Syarifah juga bertekad melaksanakan penemuan supaya produk-produknya bisa dijual di jaringan supermarket kelas menengah, sehingga jumlah pelanggan sanggup bertambah. Dia berencana menjual produk Roti Maryam dan Sambousa dalam bentuk satuan plus bumbu kari untuk porsi dua orang. Syarifah mengatakan, ia akan menjual produknya ke salah satu minimarket 24 jam. Selain itu, ia juga akan menambah varian rasa, menyerupai seafood dan keju untuk Sambousa. Penjualan produk Gadrie melalui supermarket boleh dibilang berhasil. Namun, sistem penjualan menyerupai ini juga ada ruginya alasannya mereka harus membayar listing fee pada dikala awal. Asal tahu saja, biaya itu tak murah alasannya dihitung per produk. Selain itu, Syarifah juga harus merogoh kantongnya supaya produknya bisa tampil dalam booklet yang diterbitkan supermarket. “Makanya, untuk masuk ke supermarket butuh biaya besar,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap optimistis masa depan produknya cerah.

Namun, Syarifah tak punya planning untuk membuka gerai sendiri atau waralaba untuk memasarkan produk Gadrie. “Biar orang lain yang menjual, kami tetap fokus pada produksi,” katanya. Sebab, ia juga masih menghadapi hambatan karena undangan yang jauh melebihi kemampuan produksi Gadrie. Karena itu, ia sedang mempertimbangkan pengajuan pinjaman bank. Maklum, selama ini, Syarifah selalu mengandalkan modal sendiri.

Sumber : kontan-online.co.id

Kisah: Kampanye Bagi Caleg Dan Calek Pemula



Belajar dan mengambil pesan yang tersirat dari dunia bisnis, bahwa sangat penting untuk memperkenalkan diri siapa anda, perusahaan anda atau produk dan jasa yang ditawarkan. Pembuatan dan pencetakan company profil, kalender, catalog, billboard dan semua promosi below the line serta kunjungan ke calon konsumen menjadi sangat penting dan menjadi kunci keberhasilan untuk memperkenalkan, meyakinkan dan mendorong transaksi atau penjualan. Ketika jaman telah berubah, tentu anda juga harus melengkapi atau bahkan merubah strategi.

Bagaimana kalau berkaitan dengan brand langsung atau personal branding berkaitan dengan profesi, calon anggota legislatif (caleg) dan calon direktur (calek)? Apa yang perlu anda lakukan? Bagi caleg dan calek pemula, sebaiknya mulai berkampanye melalui dunia online atau dunia internet (kampanye siber) sedini mungkin, media umum dan teknologi komunikasi yakni sebuah keniscayaan, anda tidak sanggup menghindarinya, apalagi kalau berkaitan dengan efisiensi dan efektifitas dengan sasaran konstituen atau klien.

Apa yang perlu anda lakukan? ya betul, jawabannya yakni menggabungkan teknik konvensional dan modern menjadi sebuah taktik kekinian (teknik menggabungkan kampanye online dan offline). Anda masih memerlukan media cetak atau pencetakan dan percetakan, namun dilengkapi dengan pembuatan web atau blog.


Berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi, kemudian apa yang sebaiknya anda lakukan?
1.    Mencetak APK
Tetaplah menciptakan pencetakan Alat Peraga Kampanye (APK), namun pilihlah yang efektif dan efisien, ibarat : kalender, flyer, baliho, spanduk, poster dan stiker. Buatlah biar APK ini Berbicara.

2.    Buatlah Blog atau web pribadi

Mencetak APK Berbicara
Apa APK berbicara? Anda tak perlu mencetak puluhan atau ratusan baliho serta ribuan spanduk, poster atau stiker, anda hanya perlu mencetak Alat Peraga Kampanye Berbicara bukan bertujuan anda dikenal tetapi anda memang sudah dikenal. Bagaimana caranya? Intinya yakni anda telah menanamkan kebaikan, derma dan menyebarkan ke banyak pihak, minimal anda dikenal baik. Nah, dikala anda memasang alat peraga kampanye berupa cetakan, maka para konstituen telah mempunyai kenangan, rasa terbantu dan bahagia dikala melihat photo atau gambar anda. Inilah yang disebut APK berbicara.

Buatlah blog atau web pribadi
Anda juga wajib mempunyai web atau blog pribadi. Sebagian besar caleg, calek atau jasa profesi hanya puas dan berhenti dengan mempunyai dan aktif di media social ibarat facebook, twitter dan instagram. Anda juga harus aktif menyalakan jalan masuk lain ibarat Youtube, G+, Vlog dan didukung oleh web atau blog pribadi. Mengapa?

Di kala kids jaman now, para konsumen dan konstituen akan mencari jalan termudah dan tercepat untuk mengenali calon pilihannya, mereka akan dengan cepat mengetik di google search apa yang mereka cari kemudian baca sekilas. Nah disinilah salah satu kunci efektifitas dan efisiensi blog dan web, selain tentu saja web dan blog akan lebih banyak memuat gosip perihal anda, visi-misi, jadwal dan lain sebagainya. Web dan blog serta tautan media umum juga akan sangat gampang di share melalui perangkat gadget dan bermacam-macam aplikasi, contohnya Whatapps yang tentu berbiaya murah, gampang dan cepat.


Inilah Mantan Napi Jadi Pengusaha Restoran


Kisah inspiratif Balamurukan Kuppusamy menciptakan masyarakat Singapura mengacungkan jempol. Dalam waktu lebih kurang setengah tahun, Balamurukan "mengubah jati dirinya" dari narapidana menjadi pengusaha kedai kuliner India yang sukses. Dinginnya hotel prodeo bukanlah sesuatu yang absurd bagi laki-laki berumur 41 itu. Dia sudah tiga kali masuk keluar penjara. Total satu dekade terakhir Balamurukan habiskan waktunya di balik di jeruji besi alasannya yaitu serangkaian tindak kriminal.

 Ketika kembali keluar, pada Mei tahun lalu, ayah dari seorang putra berumur 8 tahun itu mencicipi hidupnya gelap, tak menentu. Dia bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pada masa-masa sulit itu, forum Industrial and Services Cooperative Society (Iscos), muncul dan menjadi malaikat penyelamatnya. Iscos, organisasi sosial yang membantu rehabilitasi mantan napi untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat kemudian memperkenalkan Balamurukan ke Dr Leong Kaiwen.

Profesor Ekonomi di NTU itu kemudian menjadi mentor Balamurukan yang tertarik untuk membuka perjuangan makanan. Dr Leong yang memimpin forum non-profit berjulukan Princenton Mind kemudian memfasilitasi
Balamurukan mengikuti sejumlah jadwal training untuk membekali beliau dengan lebih banyak ilmu mengenai perjuangan kuliner. Dengan pertolongan Dr Leong, Balamurukan berhasil menemukan lokasi yang sesuai di Bukitu Batok dan menerima pinjaman lunak dari perusahaan yang memfasilitasi perjuangan kecil dan menengah. 

Saat ini, kedai kuliner yang dibukanya sukses besar. Bakat memasak yang dimilikinya semenjak muda benar-benar dimaksimalkan. Antrean panjang selalu terjadi setiap jam makan siang di kedainya. "Saya sangat bersyukur dengan perubahan luar biasa dalam hidup, memulai hidup gres yang penuh harapan" tuturnya. Dibantu istri dan ibunya, beliau berencana memperluas usahanya dengan membuka kedai kuliner Western dalam beberapa bulan ke depan. 

Sumber : kompas.com

Sabtu, 09 Maret 2019

Inilah Pengusaha Batako


Tujuh tahun menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea di Korea, benar-benar tidak disia-siakan oleh Mugiyanto, yang umurnya sudah tidak terbilang muda. Bapak satu anak yang tinggal di Dusun Silowan, Kelurahan Pager Sari, Kecamatan Bergas,

Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini merasa cukup mengais modal dengan tiga tahun menjadi buruh bimbel (1997-2000), dan empat tahun menjadi buruh tekstil (2005-2009). Setelah itu, beliau menekuni bisnis pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dan lain-lain.Sekitar tujuh tahun menjadi TKI merupakan waktu yang sangat singkat sekali dalam mencari modal. Oleh alasannya itu, beliau tidak membuang-buang waktu yang relatif singkat tersebut untuk bekerja dan menabung.

Mengapa beliau tidak membuang-buang waktu? Sebab, Mugiyanto sehabis mendarat di tanah Air akan menjalani perjuangan sendiri. Mugiyanto menjelaskan, untuk melakoni bisnisnya tersebut modal yang dibutuhkan mencapai ratusan juta. Modal tersebut dikucurkannya untuk membeli tanah daerah produksi dan gudang sederhana sebesar Rp90 juta. Untuk peralatan dan mesin cetak batako, bis beton, dibutuhkan modal sebesar Rp45 juta.

Membeli dua unit truk kecil untuk mengantar produk pesanan dan operasional diharapkan uang sebesar Rp100 juta. Nah, itu belum terhitung bahan-bahan, menyerupai pasir, semen, dan sirtu.

Jadi, dalam membuka usahanya, beliau menyiapkan modal kurang lebih sebesar Rp225 juta. "Semua uang saya peroleh dari menabung selama menjadi TKI di Korea," ujarnya.

Kini, usahanya berjalan maju. Mugoyanto mengaku dirinya bisa meraup untung sebesar Rp5 juta sampai Rp 7 juta per bulannya.

Sumber : artikelbisnisusaha.blogspot.com

Kisah: Seni Administrasi Sukses Kampanye, Menang Pemilu


Banyaknya pembaca dan calon klien yang masih ‘buta’ perihal bagaimana sukses dalam berkampanye menciptakan kami sedikit membuka rahasia; khususnya perihal citra umum sukses berkampanye bagi para calon legislatif, eksekutif dan tim sukses yang hendak membangun personal branding.

Setelah mencalonkan diri berbekal keyakinan dan kesungguhan, tantangan berikutnya bagi anda yakni berkampanye untuk meraih bunyi terbanyak atau mempengaruhi konstituen sebanyak mungkin. Kami menyarankan 3 aktivitas sukses kampanye yang mencakup aspek; cyber campaign, social campaign dan print talking .

Silahkan tonton video ini untuk mengetahui arti dasar kampanye : 

Tonton video ini untuk mengetahui 3 Program Sukses Kampanye :
 
Penjelasan kunci ;
Pertama, dalam hal kampanye merebut hati pemilih atau konstituen ada “3 informasi abadi” yang tak akan lekang ditelan jaman, dan jangan pernah mengabaikan atau tidak mencantumkan dalam visi – misi anda atau partai anda;
1. Isu pekerjaan
2. Isu Pendidikan
3. Isu Kesehatan

Jika anda dan tim sukses anda tidak mencantumkan informasi ini atau mengabaikannya, berdasarkan kami, anda sedang ‘bermimpi” merebut simpati.

Ke-dua, informasi lingkungan sekitar dimana anda akan menyasar konstituen atau pemilih, tentu informasi ini berbeda tempat berbeda derajat prioritasnya, namun demikian secara garis besar informasi tersebut tak jauh dari informasi perihal keamanan dan ketertiban, kenyamanan, penghijauan, jalan masuk jalan / insfrastruktur. Meski informasi ini bukan ísu wajib’namun relatif diterima jikalau anda dan tim anda menampilkan upaya untuk memperjuangkannya.

Ke-tiga, jikalau konstituen anda yakni wilayah perkotaan, maka informasi lingkungan sehat, hijau, aman, tertib, bebas macet, bebas banjir yakni informasi yang gampang diterima.

Ke-empat, jikalau konstiteun anda yakni masyarakat pedesaan, informasi pertanian, perkebunan, peternakan, fasilitas jalan masuk produksi dan alat produksi, pupuk dan sejenisnya menjadi wajib sesudah anda mencantumkan bahasan pertama di atas.

Ke-lima, Jika konstituen anda berada di wilayah daerah industri atau pabrik atau yang berkaitan dengan daerah urban dan sub urban, maka informasi utama perihal buruh, upah atau honor dan hak hak pekerja menjadi wajib.

Demikian, sekilas padat informasi bahan sukses kampanye untuk para caleg dan calek, biar bermanfaat.


Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini