Senin, 18 Februari 2019

Inilah Chairil Anwar



Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya berjulukan Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Selepas perceraian itu, dikala habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi beliau keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang cukup umur tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana beliau berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan beliau mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak eksklusif mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat ialah dikala neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu mendapatkan segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan murung maha tuan bertahta”

Sesudah nenek, ibu ialah perempuan kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga memperlihatkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil populer kedegilannya. Seorang sobat dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu goresan pena ihwal kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan impian hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Masa Dewasa Chairil Anwar
Nama Chairil mulai populer dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada dikala itu beliau gres berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang beliau tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga simpulan hayatnya Chairil tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya insan meraih kemerdekaan, termasuk usaha bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).

Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku hewan jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) ialah aktivis Angkatan ’45 yang membuat ekspresi dominan gres pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda lantaran penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Puisi-puisinya digemari hingga dikala ini. Salah satu puisinya yang paling populer sering dideklamasikan berjudul Aku ( “Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra abnormal ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946).

Rakannya, Jassin pun punya kenangan ihwal Chairil Anwar. “Kami pernah bermain badminton bersama, dan beliau kalah. Tapi beliau tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita ialah dunia Chairil setelah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Akhir Hidup Chairil Anwar
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akhir gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum beliau bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, beliau sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda lantaran penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.




15 Alasan Kenapa Chairil Anwar Lebih Keren Daripada Kamu

1. Chairil Tahu Gimana Caranya Deketin Cewek — Biarpun Dia Jarang Mandi.


Sepanjang hidupnya, Chairil dikenal ugal-ugalan. Matanya merah gara-gara jarang tidur, bajunya kusut lusuh, tubuhnya amis lantaran jarang mandi, tapi jangan salah — beliau selalu bisa membuat cewek-cewek tergila-gila. Tercatat nama Dien Tamaela, Sri Ajati, Ida, Tuti, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini dalam persembahan puisi-puisinya, meskipun balasannya ia kimpoi juga dengan ‘H’ alias Hapsah Wiraredja, seorang gadis asal Karawang.

2. Panggilan Sayang Chairil ke Istrinya Adalah ‘Gajah’.
Penyair sih penyair, tapi Chairil anti ngegombalin cewek dengan panggilan yang manis-manis. Hapsah Wiraredja yang sempat menjadi istrinya, misalnya, dipanggilnya ‘Gajah’ lantaran mempunyai badan yang bongsor.

3. Anak Chairil Mengenal Ayahnya Lewat Cara Yang Mencengangkan.

Ada satu dongeng unik ihwal Chairil dan putrinya, Evawani. Chairil wafat dikala Eva masih berusia 1 tahun 10 bulan, dan semenjak itu Eva diasuh oleh ibunya. Evawani gres mengetahui bahwa beliau anak Chairil Anwar waktu kelas III SD, setelah gurunya menunjuk foto penyair itu di sebuah buku sastra sambil berkata: “Eva, ini namanya Chairil Anwar, ayah kamu.”

4. Dia Super Anti-Mainstream.

Salah satu alasan Chairil sering disebut sebagai penyair terbaik yang pernah hidup ialah lantaran beliau mengubah selamanya wajah sastra dan bahasa Indonesia. Di tengah popularitas puisi dan gaya bicara Melayu yang mendayu-dayu, Chairil tampil dengan gaya yang galak dan gagah. Waktu umurnya gres 21, misalnya, beliau sudah populer dengan kata-kata ini:
Kalau hingga waktuku /
Ku mau tak seorang pun merayu /
Tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu!
…yang bahwasanya ialah cara lain untuk bilang: “Bitch please, gak usah nangisin gue kalau ntar gue mati.”

5. Dia Adalah Alasan Kenapa Pelukis Affandi Berpoligami.

Sudah diam-diam umum kalau Chairil suka “jajan” di banyak sekali tempat pelacuran. Suatu hari, setelah selesai “jajan” di daerah Senen, Jakarta, Chairil sadar bahwa beliau lupa bawa dompet. Akhirnya beliau serahkan sebuah kertas berisi alamat ke si Mbak PSK. “Besok tiba saja ke alamat ini untuk bayarannya,” katanya. Alamat itu ialah alamat rumah maestro seni lukis Indonesia, Affandi, yang memang sering dijadikan tempat Chairil menumpang.

Esoknya, Mbak PSK itu tiba ke rumah Affandi untuk menagih uang. Yang mendapatkan si Mbak PSK itu – celakanya - ialah istri Affandi, Maryati. Maryati pun murka besar lantaran menduga Affandi menyeleweng.

Biarpun balasannya Chairil tiba dan menjelaskan duduk duduk masalah yang sebenarnya, istri pelukis itu tetap curiga pada suaminya. Akibatnya, kekerabatan Maryati dan Affandi yang tadinya serasi menjadi runyam. Maryati pun merasa bahwa ia sudah “tidak cukup” lagi untuk suaminya — bahwa mungkin lebih baik kalau Affandi punya istri lagi.

Affandi menolak mentah-mentah proposal Maryati. Tapi istrinya bersikeras; perempuan itu percaya bahwa itu satu-satunya cara biar dirinya bisa tenang. Akhirnya, Affandi pun menikah dengan Rubiyem – seorang perempuan yang diusulkan Maryati – dan dikaruniai tiga anak dari ijab kabul keduanya itu.

6. Dia Adalah Alasan Kenapa Kalimat ‘Bung, Ayo Bung!’ Makara Terkenal.

Suatu hari, Bung Karno menugaskan pelukis Affandi membuat poster untuk menyemangati para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika gambar sudah selesai dan Affandi kebingungan memikirkan slogan yang tepat, Chairil pun menyambar: “Tulis saja ‘Boeng, Ajo Boeng!’” Kalimat ini pun jadi populer sebagai pembakar semangat usaha melawan penjajahan.

7. …Dan Kalimat ‘Boeng, Ayo Boeng!’ Itu Dia Comot Dari Para Pelacur Di Daerah Senen.

Sebenarnya, ‘Boeng, Ajo Boeng!’ ialah kalimat yang dipakai para pekerja seksual di daerah Senen untuk mengatakan servis mereka ke para laki-laki yang kemudian lalang.

8. Dia Adalah Keponakan Perdana Menteri Pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.

 “Sebenarnya Chairil ini harus dimintakan maaf atas segala perbuatannya,” Boeng Ketjil, yang masih paman dari Chairil, berpidato di upacara pemakaman keponakannya itu di bulan April 1949.

“Tetapi, tolak ukuran kita yang biasa tak sanggup dipakai untuk [menilai] dia.”

9. Dia Menjadikan Anak Gadis Seorang Pemilik Toko Buku Pacarnya Supaya Bisa Baca Buku Gratis.

Chairil populer di kalangan teman-temannya sebagai pencuri buku yang ulung. “Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang kini jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan Van Dorp. Chairil dan saya suka mencuri buku disitu,” kenang sutradara film Nagabonar, Asrul Sani.

Chairil akan memasukkan buku-buku itu ke dalam baju singlet atau kantong celananya yang memang gombrong. Chairil juga pernah mendekati anak gadis seorang pemilik toko buku cuma supaya bisa berlama-lama membaca di toko itu, dan supaya kalau tertangkap berair mencuri tidak dimarahi.

10. Dia Nggak Butuh Bikin Puisi Super Panjang Untuk Membuktikan Bakatnya Yang Luar Biasa.
Hampir semua puisi Chairil selesai dalam 10 hingga 15 baris. Baru di zaman W.S. Rendra, pembuatan puisi-puisi panjang jadi fashionable lagi di khazanah sastra Indonesia.

11. Walaupun Plagiat, Dia Tetap Dihormati.

Beberapa puisi Chairil diketahui merupakan hasil saduran dari beberapa penyair Barat. Yang paling kentara mungkin puisinya ‘Krawang – Bekasi’, yang menyerupai banget sama ‘The Young Dead Soldier’ karya Archibald Macleish. Dugaan plagiasi pertama kali diutarakan oleh H.B. Jassin dalam tulisannya yang berjudul ‘Karya Asli, Saduran, dan Plagiat’ di Mimbar Indonesia.

Biarpun begitu, bahkan Jassin sendiri tidak menyalahkan Chairil. Sebaliknya, Paus Sastra Indonesia tersebut malah berkata tetap ada ‘rasa khas Chairil’ di dalam ‘Krawang-Bekasi’.

12. Dia Fasih Bicara Dalam Empat Bahasa.

Meskipun putus sekolah, Chairil lancar berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Indonesia — hingga ia bisa menerjemahkan dengan sangat baik karya-karya sastra dari masing-masing bahasa.

13. Dia Adalah Penyair Indonesia Pertama Yang Karyanya Dimuat Di Majalah Sastra Luar Negeri.

Karena tema dan tata bahasanya lebih “Barat” dibandingkan penyair-penyair Indonesia lain pada zamannya, Chairil menjadi penyair pertama yang karyanya diterjemahkan dan dimuat di majalah sastra luar negeri — tepatnya majalah Amerika Prairie Schooner edisi musim panas tahun 1962.

Komentar kritikus sastra berkebangsaan Amerika Burton Raffel: “At its glowing best, this is brilliant writing: touched at times with macabre elements, and at other times with fierce sentimentality.”

14. Dia Memberikan Bukunya Judul-Judul Yang Paling Badass.

 ‘Kerikil Tajam dan Yang Terampas Dan Yang Putus’.
‘Tiga Menguak Takdir’.
‘Deru Campur Debu’.

Bandingin sama judul-judul buku yang beredar jaman sekarang:
‘Kitab Antibangkrut’.
‘Dear Zarry’.
‘Udah Putusin Aja’.

15. Dia Mati Muda – Di Umur 26 – Tapi Sampai Sekarang Orang-Orang Masih Mengenangnya.
Chairil wafat sebagai seorang twenty-something, mungkin malah nggak lebih bau tanah dari kau sekarang. Biar begitu, 70 puisinya akan memastikan bahwa beliau akan terus dikenang.

Sekarang, kita memperingati haul kematiannya di tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional. Dan sekarang, kalau kau ketemu foto Chairil di buku SD/SMP/SMA adik atau anakmu, kau bisa bercerita banyak ke mereka ihwal kisah hidup nyeleneh penyair itu, ‘kan?

Sumber :
http://profil.merdeka.com/indonesia/c/chairil-anwar/

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini