Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya
Tampilkan postingan dengan label Portal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Portal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2019

Kisah Sukses : Jual Ikan Hias Di Kaskus Pengusaha Nicholas Kurniawan

Profil Pengusaha Nicholas Kurniawan



Siapa pengusaha Nicholas Kurniawan, ialah termasuk anak muda yang keras kepala soal berbisnis. Keras kepalanya ya sebab ia selalu berusaha walau halangan menghadang. Sebagai entrepreneur, atau pengusaha muda, karirnya terbilang termasuk unik dibanding pengusaha muda lain.

Yakni bermodal sebuah thread situs jual- beli Kaskus. Sekarang, setiap bulannya, pengusaha muda yang bersahabat disapa Niko ini, sukses menjual seribu ekor ikan hias banyak sekali jenis hingga ke luar negeri, yakni Singapura, Thailand, Taiwan, dan  Hong Kong

Termasuk beberapa negara Eropa menyerupai Yunani, Belanda dan Inggris juga loh. Ketika itu, pada tahun 2003 -an, mulailah Niko iseng menjual ikan melalui lembaga jual beli Kaskus. Sedikit menyerupai dongeng, ia kala itu masih duduk di kursi SMA, mulai aktif menjual ikan hias di situs tersebut sendiri.

Awalnya sih cuma coba- coba tapi, eh, sukses itu konkret hingga keterusan. Pernah berbisnis bermacam model, pernah ikut MLM, semua dilalui sepanjang karir. Ini membangun mental menjadi pedagang tangguh.

Jual Ikan Hias di Kaskus Sukses Mampus


Pengusaha muda kelahiran Jakarata, 29 Januari 1993, yang mana bukanlah seorang anak yang manja. Dia ingat betul bagaimana keluarganya yang sering bertengkar hingga terdengar kata cerai. Masalahnya apalagi kalau bukan ekonomi, ini cukup menciptakan Niko menjadi anak broken home.

Niko bahkan pernah mendapat surat teguran sebab menunggak uang bulanan sekolah. Tapi Niko masih mempunyai kesadaran, ia tak mau terpengaruhi godaan khas anak terpelajar balig cukup akal yang tiba silih berganti. Hanya Niko tidak mau mengakibatkan hal negatif sebagai pelarian.

Dia yang selalu melihat pertangkaran, yakin walau sering terjadi pertengkaran di rumah. Ia yakin kedua orang tuanya sangatlah mengasihi anak- anak mereka. Inilah alasan yang menjauhkannya dari pergaulan bebas. Niko menentukan bekerja membantu meringankan beban keluarga saja.

Keadaan serba terbatas malah membimbing Nicholas Kurniawan mandiri. Niko lantas mulai menentukan berusaha sendiri sebagai wirausaha. Sejak masih kelas 2 SD, di usia 7 tahun sudah berjualan mainan untuk membeli mainan baru.

Dia pernah menjual aneka baju, donat, hingga camilan manis buatan mama disaat masih duduk di kursi SMP. Niko pernah pula ikut bisnis MLM dikala SMA, tetapi menyerupai yang sudah- sudah, ia sadar betul MLM bukan sumber baik dan gagal ditengah jalan.

Sampai mengenal Kaskus di Februari 2010!

Nicholas mengaku hanya iseng menjual ikan therapy dari mamanya. Dia hanya merasa kurang suka memelihara ikan semacam itu; kemudian dijualanya ke lembaga Kaskus. Hal iseng tersebut berbuah respon yang sangat baik, ini diluar dugaan Niko sebelumnya.

Otak bisnisnya menentukan untuk mencari supplier bukanya menentukan berhenti. Ia kemudian mendapat pemberian seorang teman untuk menjual ikan gura rafa lagi. Tapi, tidak cukup, Niko mencari- cari lagi hingga ke dunia maya.

Satu per- satu supplier ikan didekatinya. Niko bergeriliya di toko- toko ikan dimanapun itu. Caranya ada yang eksklusif nimbrung saja. Ada pula yang ia dekati melalui pengajuan proposal, pada dasarnya biar semoga ia bisa tetap berjualan.

"Awalnya mereka tidak begitu praktis percaya. Saya buat proposal, saya kirim ke 100 orang, yang respons hanya 10. Dari 10, yang jadi belum tentu satu," ungkapnya, kala diwawancara oleh SWA di penangkaran ikan hiasnya di daerah Jakarta Barat.

Lewat Kaskus, ia mulai berjual ke banyak sekali fish therapy ke Mall, dari Blok M, Point Square, Pulit Junction. Tidak ketinggalan, Niko mengaku pernah menjual ke sebuah hotel, Hotel Alexis, beberapa rumah anggota dewan perwakilan rakyat partai Demokrat dan PAN.

Guna mensuport toko ikan kecilnya ia tak ragu eksklusif membeli domain atau alamat situs. Caranya pun ada khusus. Niko memulai melaksanakan riset kata kunci semoga ikan yang dijual laku melalui mesin pencarian Google.

Jual Ikan Hias di Kaskus dan Online


Susah memang persaingan bisnis online, tapi ia berhasil. Pria yang kini tengah kuliah di Jurusan Pemasaran Prasetiya Mulya Business School ini, lantas menciptakan toko online sederhana, biar bisa bejualan di internet yaitu www.tropicalfish-indonesia.com.

Alasannya menentukan nama tersebut, sebab memang distributor atau penggemar ikan hias di luar negeri kerap memakai kata "ikan tropis" dalam bahasa Inggris kala mencari ikan buruannya di dunia maya. Tujuannya semoga sekali tembak dua sasaran kena: pembeli lokal dan luar negeri.

Kepercayaan toko ikan hias mulai diraih, disaat kualitas kiriman produk bisa memuaskan mereka. Pembayaran lancar ke para pemasok ikan hias dari sejumlah penangkar di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga ke tanah Papua, turut melambungkan namanya.

Berkat pasokan besar itulah jumlah kliennya mulai beranak pinak. Niko tak segan- segan beriklan di internet semoga situsnya praktis ditemukan. Alasannya menentukan bisnis iklan hias sebab memang prospeknya bagus, jelasnya.

Di bisnis ikan, Nicholas juga pernah mengalami beberapa kali kegagalan berbisnis loh. Dia pernah 3x rugi besar. Kisahnya Niko dulu pernah loh mengambil keputusan salah, menciptakan pelanggan kecewa, namun tidak berhenti berusaha.

Sebagai contoh, ia pernah mendapat order besar ikan hias dan gagal kirim. Saat itu ia mengalami kesulitan mengirim ke Medan. Pembeli membatalkan ordernya, dan rugi besar sebab tidak mampu mencari cara. Melalui kegagalan itulah, ia menemukan inspirasi gres dan cara baru.

Dia mencari pedagang ikan garra rufa (ikan therapy) di sekitaran Medan sebagai supplier. Ia tinggal telpon, mengantarkan barang, dan membayarnya. Tetapi mencari supplier bukan kasus mudah, tidak berjalan menyerupai harapan.

Dia tidak bisa mencari cepat justru tetap mencari di Jakarta. Itu semua perihal dana yang tidak menutupi pengeluarannya. Tetapi, ia mengaku mulai berafiliasi bersahabat dengan penjual ikan sebab duduk kasus tersebut, dari sana ia mulai dipercaya duduk kasus pembayaran.

Pengusaha Muda Ikan Hias yang Selalu Belajar


Niko berguru bahwa mungkin jikalau bukan ada kerena keadaan yang sulit tersebut, ia tidak akan kenal dengan penjual di Medan. Dia tidak akan mengenal bisnis tersebut lebih dalam menyerupai halnya soal pengepakan. Masuk ke kelas tiga Sekolah Menengan Atas Niko bisa mengekspor ikan hias untuk pertama kali.

Bisnisnya bergulir lebih pesat hingga hasilnya bisa mengirim seribu ekor ikan hias ke banyak sekali negara. Berbagai jenis ikan hias, diakuinya, tersedia di toko online, mulai ikan gara rufa, arwana, jenis ikan hias lain, serta ikan predator menyerupai spatula dan aligator.

Dia memulai bisnis ikan lain menyerupai arwana, pari air tawar, ikan import- menyerupai seolah-olah arapaima, acipenser, poliodon, hingga booming axolotl.

Intinya, Niko itu bukanlah orang yang suka berdiam diri. Dia selalu melihat peluang yang ada serta fokus menjalaninya. Bisnis itu perihal melihat pasar atau peka terhadap ajakan pasar. Namun, ia lebih menyarankan fokus di satu produk yang menjadi keahlian kita.

Selanjutnya? kita bisa berekspansi produk sejenis, atau bahkan memulai bisnis lain. Hanya duduk kasus waktu hingga sukses itu tiba dari fokus serta ketekunan. Hingga kini usahanya yang kini bernaung di bawah CV Venus Aquarium tidak hanya berpusat pada jual beli ikan.

Dia juga merambah bisnis dekorasi akuarium hingga perawatan ikan hias. Niko kemudian mengungkapkan, orang banyak salah sangka mengenai bisnisnya. Bisnis ikan hias ini memang dianggap tidak bisa menghasilkan uang besar.

"Orang pikir ini bisnis kecil, tidak keren. Bisnis minyak, watu bara, gres keren. Kalau bisnis ini, tidak keren. Tapi ternyata uangnya besar juga," ungkapnya seraya tersenyum.

Namun, ketika ditanya omsetnya, Niko terkesan malu-malu menjawabnya. "Cukup besar, tetapi tidak lezat menyebutnya. Sekitar ratusan jutalah," ujar cowok yang kini menuliskan perjalanan usahanya dalam bentuk yang berjudul Die Hard Antrepreneur itu.

Jumat, 21 Juni 2019

Kisah Sukses : Web Portal Bisnis Entrepreneur Takafumi Horie

Biografi Pengusaha Takafumi Horie


 Sukses web portal bisnis entrepreneur ini menggila Kisah Sukses :  Web Portal Bisnis Entrepreneur Takafumi Horie

Sukses web portal bisnis entrepreneur ini menggila. Berbeda di negara asalnya, Jepang, entrepreneur berjulukan akafumi Horie malah menentukan gaya berbeda di dalam hal fasion, bahkan soal bisnis umum. Dia tidak jarang ditemui hanya mengenakan kaos lucu ataupun kemeja tanpa dasi.

Cara bisnisnya, ia menentukan gaya ala Amerika. Atau, kita menyebutnya gaya koboi bermodal segala arogansi untuk mencoba mengkapitalis suatu hal. Media nasional bahkan menyebutnya Kind of Men atau berarti orang yang tega.

Apa Horie yang lakukan,  entrepreneur muda sekaligus CEO termuda di Jepang, wajarnya hanya mencoba untuk  membesarkan bisnis perusahaannya melalui banyak merger dan akuisisi.

Lahir di Yume, Fukuoka Perfecture, Takafumi Horie hidup sabagai standar orang Jepang kebanyakan. Yakni ayahnya hanya pegawai kantoran sementara sang ibu, hanya penggarap lahan persawahan. Horie berkuliah di universitas populer di Jepang, University of Tokyo, dan menentukan jurusan agama atau teologi walaupun itu bahu-membahu tidak semenarik internet.

Ambisi pengusaha muda


Di tahun 1995, Horie menentukan drop- out, bersama beberapa sobat sekelasnya, lantas mendirikan perusahaan yang berjulukan Living' on the Edge. Dimulailah Living' on the Edge, yakni sebuah perusahaan konsultan web yang dikerjakan Horie dan teman- temannya.

Mendadak bermetamorfosis perusahaan serius, berjulukan Livin' On the Ede.Inc waktu itu, April 1996, di Minato, Tokyo. Livin' On the Edge merupakan perusahaan tertutup, sampai terus berkembang menjadi sebuah perusahaan terbuka membuka diri untuk pasar saham.

Perusahaan ini alhasil resmi masuk ke dalam bursa saham Tokyo di July 1997, dan masuk secara publik di Tosho (bursa saham Jepang, di Indonesia IHSG) pada 2000. Pada November 2002, Livin' On the Edge sukses mengambil alih sebuah web portal berjulukan Livedoors.

Membeli perusahaan Livedoor Corp yang hampir bankrut. Di November 2003, bisnis entrepreneur Livin' On the Edge memakai nama perusahaan yang diambil alih, atau resmi bermetamorfosis Livedoor Co. LTd. Apa itu Livedoor? Situs portal populer Jepang, dan mempunyai beberapa bisnis lain.

Livedoor ini menggabungkan antara situs portal isu dan bursa saham, perbankan, hosting, sampai aspek entertainment. Aspek entertainmentnya saja, pengunjung dimanjakan oleh gosip- gosipnya selebriti, isu olah raga, isu dan tips perjalanan yang ditulis oleh Horie sendiri.

Livedoor juga menambahkan layanan email, lembaga serta layanan blog, merubah tampilan situs menyerupai sebuah komunitas besar. Salah satu perjuangan yang menarik, Livedoor pernah mencoba membeli sebuah tim Baseball, Kintetsu Buffalos, hanya berakhir gagal.

Pembelian tersebut ditolak mentah- mentah oleh menejer baseball tersebut. September 2004, mereka menciptakan tim sendiri berjulukan tim Livedoor, tetapi kalah di penyisihan oleh tim tuan rumah.

Melalui langkah akusisi semacam itu, Horie mendapat julukan nakal sebuah sistem, baik ekonomi, politik sampai sosial. Perusahaan miliknya tumbuh melalui banyak sekali aksi  akuisi "paksa", mencoba menjadi kapitalis sejati, serta memblow -up isu kontroversial pribadi.

Berita wacana CEO -nya yaitu entrepreneur berpenghasilan $3,4 miliar, atau perusahaan itu sendiri sudah menjadi perhatian khalayak Jepang alasannya bisnis tidak umumnya. Di tahun sama, Livedoor melaksanakan pengambil alihan beberapa perusahaan milik asing, menyerupai perusahaan MailCreations di Miami, Florida.

Dan, Livedoor berada dibawah kendali Horie, membeli perusahaan iklan teks dan pencarian dari Amerika. Secara resmi Livedoor telah mempunyai kantor sentra di Amerika pada November 2005. Sejujurnya media masa sangat menikmati setiap langkahnya sebagai pembangkang.

Web Portal Bisnis Entrepreneur Akusisi


Melakukan banyak sekali pengambil alihan paksa, mereka berdua, bisnis entrepreneur Horie dan Livedoor, menjadi isu dimana- mana sampai alhasil menantang raksasa media. Kali ini, bukan hanya menjadi headline satu, tetapi di setiap surat kabar di Jepang.

Bisnis selanjutnya, sebuah perjalanan ke luar angkasa untuk kamu, sayang, ini menjadi khayalan belaka. Pertama- tama, Horie mendekati Nippon Broadcasting System, perusahaan kecil yang berhubungan dengan Fuji TV. Ia kemudian membeli banyak saham melalui Livedoor.

Dua bulan kemudian, Fuji TV mencicipi ancaman dari Livedoor yang mencoba masuk ke perusahaan. Fuji menghentikan upaya pengambil alihan "paksa" tersebut alasannya bertentangan aturan Jepang.

Akhirnya? Horie tidak mendapat apa- apa, tetapi juga tidak rugi besar.

Fuji TV sepakat membeli 15 saham dair Livedoor untuk mengganti aset yang hilang. 

"Para direktur itu tidak mempunyai aset dibandingkan dengan entrepreneur pemilik perjuangan yang dengan usahnya sendiri membangun semuanya," ucapnya menanggapi penolakan yang didapatkan.

"Mereka hanyalah lintah di dunianya yang kecil dan, kurang darah segar, mereka hanya berpikir wacana membatasi dunia bisnis." terang Horie wacana para eksekutif.

Bagi Horie pemilik hak bicara ialah pemilik perusahaan yang mempunyai aset itu. Di Agustus 2005, Horie mengumumkan untuk masuk ke Politik. Di sinilah lantas problem tiba lagi, dengan perilaku yang tidak kompromi, ia harus berhadapan dengan sistem yang kuat.

Dia harus mengakui kekalahan dari Shizuka Kamei, dengan 110.979 dan 84.433. Pada bulan Januari 2006, Horie ditangkap atas tuduhan melaksanakan penerobosan keamanan dari data langsung pengguna, sampai pembersihan uang.

Efeknya Livedoor kehilangan saham senilai 14,5 persen bahkan sempat menciptakan indeks Tokyo harus berhenti total. Mereka diduga melaksanakan securities fraud (atau window dressing dan menciptakan panik pemilik saham) di 17 Januari 2006.

Ulah Livedoor memunculkan panik besar di pasar saham, sampai memaksa pemilik saham menjual secara besar- besaran di Tokyo Stock Exchange. Mereka mencoba menjual saham- saham tetapi tidak diperbolehkan oleh broker.

Bisnis Entrepreneur Skandal Pasar Saham


Disaat bersamaan ada kepanikan besar alasannya isu diluaran sana. Hal tersebut menciptakan system crash alasannya banyak pemegang saham panik menjual saham. Hingga Livedoor benar- benar mengakibatkan Tosho harus ditutup dua jam lebih awal.

Skandal ini memuncak tanggal 16 Januari 2006, ketika auditur memaksa masuk ke beberapa daerah berbeda, ke rumah Horie, dan rumah direktur Livedoor. 13 Maret 2006, Horie didakwa dua setengah tahun, disusul direktur Livedoor atas tuduhan upaya perusakan keamanan dan pembersihan uang. 

Setelah kehilangan 90% saham, dari empat bulan dan terbukti securities fraud, Livedoor dicoret dari Tosho tepatnya di 14 April 2006. Fuji TV melaksanakan tuntutan kerugian kepada Livedoor senilai 35 miliar yen ganti rugi, disusual oleh 3.340 individu pemilik saham sebesar 23 miliar yen.

Tuntutan, dari pemilik saham menuntut Livedoor untuk 7,6 miliar yen dan diikuti tuntutan sebesar 4,9 miliar yen. Livedoor kemudian menuntut balik sang CEO Horie dan ekeskutifnya senilai 21 miliar yen dan menghasilkan 760 juta yen.

Ada rumor yang menyatakan bahwa Livedoor melaksanakan penjualan aset sebesar 2 miliar yen pada 2008. Berita ini menciptakan para pemilik situs portal di seluruh dunia tertarik akan isu tersebut untuk membeli, tetapi tak ada IPO sama sekali.

Faktanya, Livedoor dijual kepada sebuah web portal asal Korea 6,3 miliar yen. Lanta, bagaimana dengan nasib Horie?

Kekayaanya turun dari 1,3 miliar yen manjadi hanya 280 juta yen di Juni 2006.  Mengenang itu semua, Horie cuma sanggup menulis buku berjudul Complete Resistance, sebuah legalisasi ke tidak bersalahan selama di penjara.

Dia mengaku menjadi sasaran pemerintah alasannya kekayaanya, bukan alasannya sifat atau tindakan kriminal. Meski demikian ia menjadi tokoh non- konservatif penentang tradisi. Dia disebut seorang ambisius melawan kekuatan besar para konglomerat masa lalu. 

"Orang kini mengkritik Horie alasannya upayanya menjadi kaya cepat dengan taktik, tapi apa yang salah dari sana?," ucap Hamada, yang stress alasannya kesulitan meningkatkan penjualan. "Tanpa mind set menyerupai itu, kau tidak akan menemukan wangsit bisnis baru."

Hari ini merupakan jamannya efisiensi waktu dibutuhkan. Dia melanjutkan ceritanya lagi, "jika (dia ditahan) menjalankan entrepreneurial, saya berpikir masyarakat menjadi tumpul."

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini