Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2019

Kisah Sukses : Potensi Wirausaha Gula Merah Sumatra Menjanjikan

Profil Pengusaha Heri Susanto


 Ternyata potensi wirausaha gula merah Sumatra sangat menjanjikan Kisah Sukses :  Potensi Wirausaha Gula Merah Sumatra Menjanjikan

Ternyata potensi wirausaha gula merah Sumatra sangat menjanjikan. Pengusaha gula merah Sumatra ini aslinya Lampung Timur sukses menjadi produsen sekaligus distributor. Dia memasok kebutuhan gula merah di Provinsi Lampung dan Palembang, Sumatra Selatan.

Pengusaha Heri Susanto mempunyai lebih dari 250 orang petani penderes gula merah dan 25 biro gula merah, Heri bisa memasarkan sekitar 20 ton gula merah per minggu. Total omzet usahanya dalam sebulan mencapai Rp 500 juta–Rp 600 juta, dengan keuntungan higienis sekitar 30%.

Tapi, sukses tersebut bukanlah hal gampang di awalnya. 

Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur ini harus merantau dan bekerja keras berbisnis dari nol. Sebelum menjadi pengepul gula merah, ia pernah mengerjakan tempe. Bisnis yang ditekuni hingga mempunyai istri dan anak di 1998.

Suatu hari, ketika Heri berjalan keliling pasar di Lampung Timur, ia melihat seorang biro gula merah yang mendistribusikan barang dagangannya di pasar. Kebetulan, undangan gula merah di Lampung dan kawasan sekitarnya cukup besar.

Pengusaha Gula Merah Sumatra


Prospeknya cukup cantik pikirnya. Dia melihat bisnis ini menarik dan masih sedikit pengepul gula merah. Makara ia tertarik menekuni, dan menentukan meninggalkan bisnis sebelumnya. Dari tahun 2000, Heri mulai berkeliling Lampung Timur untuk mengumpulkan gula merah petani alias para penderes. 

"Saat itu saya bisa mengumpulkan hingga 70  kilogram per hari," ujarnya.

Perlu diketahui, harga gula merah ketika itu masih sekitar Rp 2.000 per kg. Maka dalam sehari, ia bisa mengumpulkan omzet Rp 100.000–Rp 140.000. Adapun keuntungan yang diperoleh hanya Rp 200–Rp 300 per kg. Dia pun terus terpacu untuk meningkatkan skala usahanya, perluasan bahasa kerennya.

Pengusaha gula merah Sumatra ini mulai dengan segera meningkatkan kualitas barang. Dia tak segan menggadaikan sepeda motor. Maklum, jikalau ia ingin mengumpulkan lebih banyak gula, maka modalnya juga harus semakin banyak. 

Agar para penderes barunya itu tidak lari ke pengepul lain, ia kadang membayar di muka. Dengan sistem itu, ia berhasil menggaet lima orang penderes yang rutin memasok gula merah. Setiap minggu, para penderes memasok 3 ton–4 ton gula merah.

Seiring meningkatnya jumlah gula merah yang ia jual, Heri pun mulai mempunyai biro gula merah, sehingga tak perlu bersusah payah mengumpulkan gula merah sendiri. Untuk bertahan dari bisnisnya ini, Heri tak mau hanya setengah- setengah, ia harus menjadi pengepul besar.

Dia harus menjaring lebih banyak biro dan penderes gula merah. Namun, itu butuh modal yang lebih besar untuk berhubungan dengan lebih banyak agen. Sampai akhirnya, ia diajak temannya mengajukan dukungan ke PT Sarana Ventura Lampung (SLV).

Wirausaha Gula Merah Sumatra Menjanjikan


Wirausaha gula merah Sumatra menjanjikan. Sayangnya hambatan utama ialah keterbatasan modal. Bahwasanya semakin besar bisnis semakin butuh modal. Modal ini dipakai untuk merangkul lebih banyak biro dan penderes gula merah yang ikut bekerja sama.

Permasalahannya, mencari modal suplemen itu bisa sangat sulit. "Bisnis saya ketika itu tidak terlihat menarik di mata perbankan," ungkapnya kepada pewarta. Untunglah seorang sobat ikut membantunya menghimpun pinjaman. Permohonan kreditnya dikabulkan sesudah melalui negosiasi.

Pencairan dukungan dilakukan secara sedikit demi sedikit tidak langsung. Mula- mula Heri menerima dana Rp 300 juta pada 2007, hingga secara sedikit demi sedikit naik menjadi Rp 500 juta di tahun 2013. Adapun untuk nilai bunga dukungan berkisar mulai 12% hingga 13% per tahun.

Suntikan modal itu lah pemacu semangat membesarkan bisnis. Uang dukungan eksklusif ia salurkan lagi sebagai modal bagi  para biro dan penderes gula merah. Kendati telah mempunyai modal cukup tetap ada penderes lain yang menentukan menjual kepada pengepul lain.

"Modalnya dipakai untuk kebutuhan biaya hidup penderes, ada pula yang saya belikan kendaraan beroda empat semoga para biro dan penderes bisa loyal," ujarnya.

Pria 43 tahun ini tetap hening menentukan mengedepankan proses kekeluargaan. Pengusaha gula merah Sumatra ini tetap merangku mereka, dan lebih menentukan mencoba mengetahui hambatan yang mereka lalui. "Jika masih sulit dan nakal, mau tidak mau saya putus kekerabatan kerja," ujarnya.

Hingga ketika ini, Heri telah mempunyai sekitar 25 agensi gula merah, yang tersebar di Lampung Timur. Itu antara lain di kawasan Taman Sari, Simpang Agung, Way Jepara, Wono Sari, Braja Sakti, Braja Selebah, dan Sidomulyo.

Setiap biro rata- rata mempunyai 10 penderes gula merah. Satu minggu, ia berhasil mengumpulkan 20 ton gula merah. Total omzet diperoleh dalam sebulannya mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta, dengan keuntungan higienis 30%.

Hampir seluruh pasar induk di Lampung Timur dan juga sebagian wilayah di Palembang menampung gula merah dagangan Heri. Ia juga memasok gula merah untuk salah satu pabrik kecap nasional. Sekarang Heri Susanto benar- benar menjadi juragan gula merah dari Lampung.

Pengusaha Wirausaha Mandiri


Saat ini, Heri memang gres memasarkan gula merah di wilayah Lampung Timur dan juga sebagian wilayah Sumatra Selatan. Heri sengaja tidak membidik Pulau Jawa alasannya produk gula merah asal Lampung masih kalah kualitas ketimbang gula merah jawa.

"Saya pernah mencoba ke pasar Jawa. Tapi kualitas gula lampung masih di bawah gula jawa, sehingga kalah bersaing," katanya.

Heri berujar lagi potensi  pasar Sumatra memang masih sangat luas, dan masih bisa ditopang oleh Lampung sebagai sumbernya.

Untuk menjangkau luas di penjuru Sumatra, tentu butuh pasokan gula merah lebih besar dari apa yang telah diusahakan. Kini, Heri memasarkan sekitar 20 ton gula merah per minggunya. Gula merah itu diperoleh dari 25 biro gula merah hasil binaannya.

Setiap biro membawahi rata-rata 10 penderes gula merah di Lampung Timur. 20 ton gula merah itu kemudian dipasok ke pasar induk di Lampung Timur hingga sebagian kawasan Sumatra Selatan, ibarat Prabumulih, Baturaja, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.

"Saya sangat bergantung pada biro dan penderes," ungkapnya kepada pewarta Kontan.com
Menurutnya ada saja duduk kasus yang tak bisa dihindari. Misalnya, ketika biro atau penderes sedang sakit, kondisi itu akan menciptakan pasokan gula merah menjadi berkurang. Ada juga para penderes bandel yang menjual gula merah ke pengepul lain.

Memang sekarang perasaingan antar pengepul gula merah sangatlah ketat. "Jika mereka nakal, saya coba menasihati dan tetap berkomunikasi," ujarnya. Menurut Heri, penting menjaga kekerabatan baik dengan biro dan penderes.

Di samping mendistribusikan gula merah ke pasar-pasar, Heri juga memenuhi pasokan gula untuk produsen kecap mereka ABC.

"Sekitar 50% untuk pasar, dan 50% lagi untuk pabrik kecap," ujarnya. 

Namun, langkah memasok gula ke pabrik kecap ini gotong royong hanya untuk cadangan bila undangan gula merah di pasar sedang turun. Selain bisnis gula merah, Heri juga mulai merambah distribusi kerupuk emping melinjo semenjak 2013 lalu.

"Omzet dan profitnya lebih tinggi dari gula merah," sebutnya.

Harga 1 kilogram (kg) emping bisa mencapai Rp 32.000. Dalam seminggu, ia bisa memasok 200 kg dengan profit Rp 2.000–Rp 3.000 per kg. Menurutnya, pasokan emping melinjo belum tinggi alasannya materi baku melinjo masih terbatas.

Saat ini, pengusaha menggandeng lima perajin emping melinjo di Kota Panjang, Bandar Lampung. Setiap perajin sanggup memasok 30 kg–40 kg per tiga hari. Emping melinjo ini distribusikan ke Kota Palembang.

Minggu, 09 Juni 2019

Kisah Sukses : Toko Online Sepatu Perempuan Mimpi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Resty Lestari


 Mimpi pengusaha muda ini ingin mempunyai merk sendiri Kisah Sukses :  Toko Online Sepatu Wanita Mimpi Pengusaha Muda
 
Mimpi pengusaha muda ini ingin mempunyai merk sendiri. Sebuah toko online sepatu perempuan yang menjual produk bikinan sendiri. Resty Lestari sudah memulai usahanya semenjak 2009 silam. Dimana ia mulai dari menjual produk ke teman- temannya sendiri di Kampus.

Prospek bisnis fashion tumbuh berkat sosmed. Munculnya influencer fashion menambah prospek. Tak ayal perjuangan Resty berkembang pesat mengikuti arus. Brand berjulukan Real Inc bisa bertahan, bahkan berkembang berkat tumbuhnya sosmed, yang sangat diperhitungkan.

Bayangkan sebulan ia bisa mengantongi omzet ratusan juta. Pasalnya bagi perempuan satu pasang sepatu saja tidak cukup. Sekali posting bisa melekat aneka produk, tidak terkecuali sepatu yang kemudian ditarget merk Real Inc.

Mimpi Toko Online Sepatu Wanita


Bagi seorang fashionista keseharian merupakan pilihan. Tidak boleh monoton dari ujung kepalanya hingga ujung kuku. Dari bisnis hijab hingga sepatu Resty berjalan maju. Berapa banyak sepatu yang dimiliki seorang fashionista.

Kemudian berapa banyak pasang sepatu seorang influencer. Pastilah mereka membutuhkan lebih dari satu sepatu. Untuk OOTD artinya Outfit of The Day, maka merk Real Inc menunjukkan produk lokal, kelebihan perusahaan milik Resty yakni dibentuk menurut pesanan.

"Pertama kali saya memasarkan jasa ini kepada teman- sahabat kampus saya melalui buku katalog yang dibagikan," kenang Resty.

Mahasiswi sebuah Universitas Swasta di Jakarta, yang menunjukkan layanan jasa pembuatan sepatu dengan custom. Ada banyak sekali model jadi jangalah khawatir buat pembeli. Karena custom maka toko online sepatu perempuan ini mengatakan bermacam ukuran sepatu.

Sejak 2012 ia mulai menyiarkan produknya melalui BBM. Dari broadcast BBM lah toko online sepatu perempuan miliknya berkembang. Awal ia menjajakan ke para teman, keluarga, dan siapapun yang terdekat.

Pesan berantai ini kemudian menjadi viral dan menyebar pesat. Darisana Resty kebanjiran orderan untuk custom sepatu. Mampu menggaet lebih banyak pelanggan online dari sini. Ketika sosmed mulai ramai kembali, dengan munculnya Twitter maka Resty punya pandangan gres menciptakan merk sendiri.

Inilah awal mula Real Inc "Saya beri nama (brand sendiri) dan nama Real Inc lah yang saya pilih," ia menambahkan. Pengusaha muda ini memasarkan melalui Twitter produk miliknya. Modal toko online sepatu perempuan miliknya hanyalah Rp.3 juta saja.

Pengusaha Muda Membangun Brand


Apakah modal segitu besar, ternyata alhasil berpuluh kali lipat dibanding harapan. Dia bisa mengantungi Rp.70 juta dari transaksi. Omzet perbulan Real Inch semakin pertanda perbaikan. Rata- rata mengantungi omzet Rp.20- 30 jutaan, dan naik tajam saat Ramadhan atau tahun baru.

Omzetnya mencapai Rp.60- 70 jutaan dari penjualan sepatu. Menurut Resty problem utama bisnis ini ialah proses pembuatan. Ya sebab dibentuk custom dan handmade, diharapkan waktu tertentu hingga satu produk jadi.

Sekitar 12 pengrajin membantu Resty menjalankan Real Inc. Ia tinggal mengontrol, dan menganalisa kepuasan konsumen. Hasilnya anggun sebab kualitas selalu terkontrol olehnya. Pembuatan sepatu itu mulai dari pola, pengaplikasian materi baku, jahit, pengeleman, mecentak dan penyelesaian.

Proses dilakukan dengan baik tanpa mengeluh. Pengusaha muda ini juga menyediakan produk yang sudah siap pakai. Siap kirim dan siap pakai oleh konsumen tanpa menunggu dulu. Meskipun sudah dikenal ia mengakui masih banyak perlu dikembangkan ke depan.

Pemasaran kini melalui Twitter dan Instagram. Ia juga menciptakan webstore atau toko onlinenya sendiri. Kedepan ia ingin membangun toko offline, dimana orang sanggup mencoba dan membeli itu pribadi tanpa lewat koneksi.

Senin, 03 Juni 2019

Kisah Sukses : Perempuan Berbisnis Tas Motif Aceh Menembus Pasar Ekspor

Profil Pengusaha Nailatul Amal


 Siapa sangka tas motif Aceh nya menembus pasar ekspor Kisah Sukses :  Wanita Berbisnis Tas Motif Aceh Menembus Pasar Ekspor
 
Siapa sangka tas motif Aceh nya menembus pasar ekspor. Dulu Nailatul Amal hanya memproduksi sedikit. Bisnis tas memang tidak gampang apalagi banyak pemain. Ia ingat betul bagaiman sukarnya, mengatakan tas produksinya kepada masyarakat.

Meskipun sukar tidak menyurutkan warga Desa Rayeuk, Kec. Nisam, Aceh Utara ini. Sekarang tidak hanya dipasarkan di Aceh, tetapi Sumatera, Jawa, dan luar negeri. Nailatul mengeskpor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.

Ke depan bahkan menyasar ke Norwegia, Spanyol, dan Denmark. Awal mula, tahun 2006, Nailatul sudah mulai  berbisnis namun tidak mudah. Pasang surut ia menjalankan bisnis tas motif Aceh, ia sama sekali tidak takut menghadapi persaingan produk yang sama.

"Saat itu saya hanya menciptakan manik- manik untuk jilbab yang biasa digunakan dan disukai konsumen," kenang pengusaha ini, yang tetap bekerja sambil berwirausaha.

Wirausaha tas merupakan satu bentuk passion baginya. Tidak gampang tetapi ia bertekad menjalankan, apapun resikonya sambil tetap bekerja.Tahun 2009 produknya mulai dilirik banyak pembeli. Waktu itu ia mengirim ke Medan, Sumatra Utara.

Pengusaha Wanita Berbisnis Tas Motif Aceh

Bisnis tanpa nama kawasan produksi tas milik Nailatul. Kini, nama Syirkatunnisa menjadi produk khas ekspor, ia memulai memproduksi dari sudut rumahnya. Dari mengerjakan semua sendiri, pengusaha perempuan ini bisa mempekerjakan sekitar 30 orang pegawai, memproduksi ratusan tas untuk dijual.

Ia juga pernah mencicipi rugi sebelum laku. Nailatul ingat bagaimana tidak lakunya tasnya ini. Mungkin sebab tas motif Aceh masih awam. Dibanding tas- tas bermotif batik yang sudah di pasaran. Namun, kini, ia berbangga hati sebab tas nya hingga ke Amerik Serikat.

Pasar menyukai tas etnik bermotif khas Aceh tersebut. Perusahaan kecil miliknya memproduksi tidak kurang 3000 buah. Pasarnya dijual baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk kini ini ia menambahkan justru pesanan terbanyak tiba dari Amerik Serikat.

Pasar Amerika meminati produk tas besar dan dompet. Amerika mengatakan prospek besar baginya sekarang. "Alhamdulillah, undangan besar. Bu Iriana Jokowi juga pernah beli tas dan kain di sini tahun lalu," gembira pengusaha ini kepada pewarta Detik.com.

Disini di rumah tanpa plang nama mempekerjaka ibu rumah tangga. Produksi bukan sekala dalam negeri, tetapi sudah pangsa pasar ekspor. Omzet perbulan menyentuh Rp.250 juta hingga Rp.400 juta. Paling ramai jika masuk tahun baru, natal, valentin, dan paskah.

Wanita yang dekat dipanggil Mi Cut ini, menjelaskan apa itu motif Aceh. Menurutnya tas ini berbasis materi bordir. Motifnya khas mengandung perpaduan Arab dan India. Produknya bermacam- macam tas dari kecil hingga besar, dari tas keong hingga koper, diproduksi oleh Mi Cut.

Dia memafasilitasi masyarakat lokal. Harganya dari 10 ribu hingga 350 ribuan dinamis. Ia berharap pihak pemerintah memperhatikan UKM menyerupai dirinya. Karena kita tau UKM mengatakan efek yang besar. UKM mengurangi pengangguran dan mengurangi kriminalitas di jalanan Aceh.

Suksesnya Mi Cut ternyata memili dongeng lain. Soal marketing ia menambahkan tidak spesifik dalam promosi. Intinya mengutamakan kualitas desain dan pelayanan. Mengikuti program pameran menjadi satu cara ia menjalankan bisnisnya, itupun tidak memaksa harus menjual banyak.

Baginya produk sanggup tampil menarik perhatian orang. Lewat pameran internasional akan membuka celah ekspor. Disamping itu menjalankan perbaikan- perbaikan lagi. Sambil nanti akan menyiapkan kapasitas produk.

Selasa, 02 April 2019

Kisah Sukses : Pacaran Sambil Perjuangan Jualan Kerupuk Rajungan Crabby

Biografi Pengusaha Hella Ayu Setyaninda


 Biografi Pengusaha Hella Ayu Setyaninda  Kisah Sukses :  Pacaran Sambil Usaha Jualan Kerupuk Rajungan Crabby
 
Inovasi bisnis harus dilakukan pengusaha muda kita. Pacaran sambil perjuangan jualan kerupuk rajungan. Nyatanya Hella dan Dani bisa membuktikan. Bahwa pacaran tidak selamanya merusak hidup kita di masa depan. Jalani gaya pacaran kau dengan kegiatan lebih baik ibarat perjuangan jualan kerupuk.

Pacaran sambil perjuangan jualan kerupuk. Kedua sejoli asal Semarang ini sudah dilakukan semenjak SMA. Sejak 24 Agustus 2014 silam, sudah bertahun- tahun merintis perjuangan tetapi belum menemukan titik suksesnya. Apakah keduanya menyerah, justru mereka menikmati setiap perjuangan dijalankan.

Ide bisnis perjuangan jualan kerupuk rajungan alasannya yaitu kesempatan. Bahwa Semarang termasuk daerah yang menghasilkan rajungan. Sebagian besar tidak diolah melainkan di ekspor langsung.

Pengusaha Muda Sejak SMA

Keduanya berpacaran semenjak Sekolah Menengan Atas sudah berwirausaha. Kedua pengusaha muda ini mengambil para rajungan kecil. Pasalnya mereka tidak layak ekspor dan dibuang nelayan. Mereka juga mengingat seorang importir asal Amerika pernah berkata, "jangan cuma mengirim rajungan mentah saja, tapi perlu diolah juga."

Kerupuk mereka komposisinya tidak cuma daging, juga cangkang. Diolah sedemikian rupa hingga menjadi kerupuk. Sumber rajungan dari nelayan asal Mangkang Wetan, Semarang. Daging dan kulit bisa mereka olah hingga menjadi kerupuk.

Mendapatkan materi baku termasuk gampang. Cara marketing mereka memanfaatkan sistem reseller. Mereka menarget ibu rumah tangga yang butuh tambahan. Kerupuk rajungan mereka hingga kini sudah berproduksi hingga lebih dari 200- 300 kg per- bulan.

Untuk awal mereka hanya beromzet 10 juta keatas. Tetapi belum beromzet hingga 50 juta. Produknya ada dua macam mentah dan matang. Ukuran produk mentah 250 gram, 500 gram, dan 1000 gram. Lalu produk kerupuk rajungan matang antara 80 gram hingga 100 gram.

Mereka memakai pasir untuk menggoreng. Tujuannya mengurangi koleterol pada kepiting.Di tahun 2016 jumlah reseller mencapai 100 orang. Mereka ingin mencoba ekspor tetapi ada hambatan produksi. Kan kalau ekspor membutuhkan ribuan kilogram untuk diekspor ke luar negeri.

Kerupuk yang kemudian diberi nama Crabby dipasarkan ke banyak sekali daerah. Mereka menjual dari Jawa, Sumatra, dan Papua. Untuk reseller kabanyakan dari Jawa Tengah. Pasangan pengusaha muda ini mengikuti banyak sekali ajang wirausaha muda, ibarat Wirausaha Muda Mandiri.

Merintis Wirausaha Jualan Kerupuk Rajungan

Lantas bagaimana wirausaha muda ini melanjutkan usahanya. Proses dilalui Hella Ayu Setyaninda memang tidak menghianati hasil. Gadis 21 tahun asal Kendal yang yakin bahwa kunci sukses satu perjuangan ialah keuangan. Kesehatan keuangan akan mendorong perusahaan berkembang dan bertahan.

Hella hanyalah gadis kelahiran Kaliwungu, Kendal, 10 April 1994 ini. Adalah mahasiswa Semester 7 Universitas PGRI Semarang. Yang mana peduli akan keadaan lingkungan tempat Mangkang. Dia bersama beberapa teman bermodal cuma Rp.5 jutaan saja.

Sebenernya beliau sudah berbisnis kerupuk rajungan semenjak lama. Awalnya keprihatian orang bau tanah teman yang membuang rajungan kecil. Ia lantas memutar otak bagaimana caranya ya. Dia tidak mau tinggal diam. Akhirnya Hella memutuskan menimbulkan itu kerupuk rajungan saja.

Awalnya kerupuk dibentuk terlalu tebal potongannya. Akhirnya beliau mengkonsumsi sendiri deh kerupuk tersebut. "Tapi saya terus penasaran, alasannya yaitu kerupuk rajungan masih langka," tuturnya. Sulung dari tiga bersaudara ini kemudian melanjutkan perjuangan jualan kerupuk rajungan.

Butuh waktu hingga beliau mencapai titik sukses sekarang. Banyak pengembangan Hella lakukan supaya sesuai trend. Butuh waktu hingga masyarakat sadar bahwa ini bukan kerupuk biasa. Harga jual dari kerupuk rajungan memang diatas rata- rata.

Agak mahal jadi membutuhkan waktu memasarkan. Ukuran 100 gram saja dijual tidak mengecewakan mahal yakni Rp.55 ribuan. Usahanya dijalankan di tempat Mangkang, Semarang. Perbulan Hella bisa memproduksi 100 kantung dan terjual habis.

Respon konsumen elok dijual hingga Batam, Bali, dan Kalimantan. Dia termasuk wirausaha yang super mandiri. Pasalnya Hella tetap bertahan tanpa meminjam ke Bank. Sebenarnya sudah banyak Bank yang tiba menawari. Melihat perkembangan bisnsi kerupuk Crabby, ia optimis bisa tanpa hutang.

"Saya semenjak awal enggan berhutang ke Bank, meski banyak yang menawari," ujar Hella.

Kemampuan menjaga kesehatan keuangan dibutuhkan. Memutar uang menjadi modal kembali tanpa menghentikan pertumbuhan. Ia menyampaikan bahwa "Tidak apa- apa kalau harus ngirit dulu, saya yakin kesannya segera menyusul."

Dari honor pegawai, pengadaan, dan biaya oprasional dibentuk sedemikian rupa. Yang dinilai bukanlah laba dan modal, tetapi kemampuan mengoprasikan keuangan. "Sebagai pengusaha pemula saya bisa mengurus keuangan tanpa masalah."

Senin, 25 Maret 2019

Kisah Sukses : Pendiri Mayora Biskuit Kelapa Jodi Hendra Atmadja

Biografi Pengusaha Jodi Hendra Atmadja


 Biografi Pengusaha Jodi Hendra Atmadja  Kisah Sukses :  Pendiri Mayora Biskuit Kelapa Jodi Hendra Atmadja
 
Siapa pendiri Mayora biskuit kelapa, ialah Jodi Hendra Atmadja. Tidak banyak soal biografi Jodi Hendra Atmadja bisa disampaikan. Tetapi ia merupakan toko kunci perluasan bisnis Mayora hingga sukses besar. Bayangkan pandangan gres pendiri Mayora biskuit kelapa itu sederhana loh teman- teman.

Beruntung persaingan makanan ringan belum ketat. Ia memiliki pandangan gres menciptakan aneka makanan ringan kemasan. Nah, jadilah aneka makanan salah satunya biskuit kelapa, waktu itu mereka bisa bersaingan dengan roti Khong Guan yang tengah naik daun.

Kelahiran 1946, Jogi terlahir dari keluarga sederhana dan berwirausaha. Layaknya keturunan Tiong Hoa lainnya. Ingin membangun perjuangan sendiri mandiri. Padahal ia tercatat sebagai lulusan Dokter dari Universitas Trisakti. Bukannya menjadi Dokter malahan menjadi wirausaha, apakah berhasil.

Dia mengajak dua rekannya sesama profesional: Mereka Drs. Raden Soedigdo dan Ir. Darmawan Kurnia, yang sama- sama bukan pengusaha. Jadilah berdiri PT. Mayora Indah, pada 17 Februari 1977 di Jakarta. Andalan mereka aneka produk makanan ringan kemasan yang dijual masal.

Persaingan Bisnis Makanan Ringan

Mayora terus berkembang susai keinginan Jodi Hendra. Dalam biografi Jodi Hendra Atmadja, ialah menjadi sosok penting perluasan bisnis Mayora. Nama- nama perusahaan ibarat PT. Torabika Eka Semestas dan PT. Hiebe Schokolade Mas Gemilang, yang makin berkembang bersinar terang.

Tangan masbodoh pengusaha Jodi menaikan pamor biskuit. Dulu dikenal nama camilan anggun Khong Guan begitu primadona. Istilahnya makanan orang kaya, kemudian munculah camilan anggun kelapa yang rasanya unik. Dengan materi baku berbeda dan sama- sama enak; keduanya bersaing ketat menjadi produk nomor satu.

Sukses Jodi menghantarkan Mayora makin ekspansif. Salah satunya mengeluarkan produk berjulukan Kopiko. Ya permen berbahan dasar kopi ini menjadi pertama. Akhirnya tahun 80 -an, menjadi produk permen yang merajai pasar alasannya ialah tanpa perasaingan.

Sejak awal berdirinya sudah menentukan Jodi dipucuk. Hasilnya itu biskuit kelapa booming pada tahun 1970 -an. Pertama kali didirikan pada 1977, Mayora sudah menguasai 40 persen pangsa pasar untuk makanan ringan. Mereka kemudian merambah ke 90 negara dan meraup omzet Rp.17 T pada tahun 2017.

Tak ayal harta kekayaan Jodi melejit mengangkat namanya. Untuk menjadi pengusaha janganlah berpuas. Kesuksesan produk harus diikuti oleh penemuan berkelanjutan. Contohnya merambah bisnis di bidang minuman kemasan, yakni teh kemasan walaupun dikuasai Group Sosro.

Jogi juga merambah ke bisnis air putih kemasan. Yakni melalui PT. Tirta Freshindo Jaya, yang lagi- lagi tidak takut berhadapan dengan pemimpin pasaran. Intuisi dari Jodi ditambah kemampuan untuk mengambil keputusan.

Kekayaanya tercatat diantara Rp.33 T dan posisinya antara nomor 10 dari daftar Forbes. Untuk hal regenerasi maka ia sudah menyiapkan ketiga putranya, yakni Andre Sukendra Atmadja, Hendarta Atmadja dan Wardhana Atmadja, yang jadi Direksi di Mayora sendiri.

Berani mengambil resiko Teh Pucuk Harum jor- joran. Untuk iklan hampir setiap hari melihatnya di tayangan televisi. Riset Nielsen menyampaikan per- 2011- 2012, Teh Pucuk Harum sudah mengluarkan biaya iklan hingga 226,39 miliar.

Untuk air mineral brandnya apalagi jika bukan Le Mineral. Produksinya melalui lima pabrikan dari Makassar, Medan, Pasuruan, Ciawi dan Sukabumi. Di 2016, dua pabrik dibangun di Palembang serta Cianjur, Jodi sama sekali tidak takut berhadapan eksklusif dengan penguasa pasar Aqua langsung.

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini