Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya
Tampilkan postingan dengan label Pemuda Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda Sukses. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Kisah Dongeng Hamzah Izzulhaq, Entrepreneur Sukses Berusia 18 Tahun !


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'



Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !
Entrepreneur berusia 18 tahun ini tidak ingat secara niscaya kapan pertama kali dirinya mulai berdagang. Namun satu hal yang niscaya yaitu bibit-bibit kemandiriannya telah terbentuk semenjak ia masih duduk di dingklik sekolah dasar. Mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan sampai menjual koran, menjadi tukang parkir serta ojek payung, Hamzah Izzulhaq, demikian nama entrepreneur muda ini memoles jiwa entrepreneurship-nya. Bertujuan menambah uang saku, ia melakoni semua itu di sela-sela waktu luang dikala kelas 5 SD.
 Hamzah, begitu beliau sering disapa, terlahir dari keluarga menengah sederhana. Sang ayah berprofesi sebagai dosen sementara ibunda yaitu guru SMP. Secara ekonomi, Hamzah tak kekurangan. Ia senantiasa mendapatkan uang saku dari orangtuanya. Namun terdorong oleh rasa ingin Mandiri dan mempunyai uang saku yang lebih banyak, Hamzah rela menghabiskan waktu senggangnya untuk mencari penghasilan bersama dengan teman-temannya yang secara ekonomi masuk dalam kategori kurang mampu.
 Hamzah mulai menekuni bisnisnya secara serius ketika beranjak dewasa dan duduk di dingklik kelas 1 SMA. Ia berjualan pulsa dan buku sekolah setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 ini melobi sang paman yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi biro dengan diskon sebesar 30% per buku. “Buku itu kemudian saya jual ke teman-teman dan kakak kelas. Saya beri diskon untuk mereka 10%, sehingga saya menerima 20% dari setiap buku yang berhasil terjual. Alhamdulillah, saya mengantongi nett profit pada dikala itu mencapai Rp950 ribu/semester,”.
 Uang jerih payah dari hasil penjualan pulsa dan laba buku kemudian ditabungnya. Sebagian digunakan untuk membuka konter pulsa dimana bab operasional diserahkan kepada sobat SMP-nya sementara Hamzah hanya menaruh modal saja. Sayangnya, bisnis itu tak berjalan lancar. Omzet yang didapat sering kali digunakan tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi. Dengan kerugian yang diteriman, Hamzah hasilnya memutuskan untuk menutup perjuangan yang hanya berjalan selama kurang lebih 3 bulan itu. “Sampai kini etalase untuk menjual pulsa masih tersimpan di gudang rumah,” kenang Hamzah sambil tertawa.
 Dengan menyimpan rasa kecewa, Hamzah berusaha bangkit. “Saya sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Terutama buku “Ciputra Way” dan “Quantum Leap”. Sehingga itu yang menciptakan saya bangun ketika rugi berbisnis,” jelasnya. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah membeli alat mesin pin. Hal itu nekat dilakoninya karena ia melihat peluang perjuangan di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah program ibarat pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. Dari acara-acara di sekolah, ia mendapatkan order yang cukup besar. Tapi lagi-lagi ia harus mendapatkan kenyataan merugi karena tak menguasai teknik sehingga banyak produk orderan yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. “Ayah sedikit murka dengan kerugian yang saya buat itu,” lanjut Hamzah.
 Dari kerugian itu, Hamzah merenung dan membaca biografi pengusaha sukses untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Tak berapa lama, ia mulai berjualan snack di sekolah ibarat roti, piza dan kue-kue. Profit yang terkumpul dari penjualan camilan itu sebesar Rp5 juta. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan kawan bisnisnya yang menawari perjuangan franchise bimbingan berguru (bimbel) berjulukan Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya gres 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang,” terangnya.
 Hamzah kemudian diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai perhiasan modal bisnisnya. “Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya kemudian melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari laba tiap semester. Alhamdulillah, usul saya dipenuhi,” kenang Hamzah.
 Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi laba selalu diputarnya untuk menciptakan bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah mempunyai 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah kemudian melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.
 Sejak bulan Agustus lalu, bisnis Hamzah telah resmi berbadan aturan dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan Sekolah Menengan Atas tahun 2011 ini duduk sebagai eksekutif utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan. “Saat ini saya sedang mencicil perlahan-lahan modal yang saya pinjam 2 tahun kemudian dari ayah. Alhamdulillaah, berkat motivasi dan Pak Ci saya sudah bisa ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri,” ujarnya.
 Menurut Hamzah, dari pengalamannya, berbisnis di usia muda mempunyai sejumlah tantangan plus hambatan ibarat contohnya diremehkan, tidak dipercaya dan lain sebagainya. Hal itu dianggapnya wajar. “Maklum saja, alasannya yaitu di Indonesia, entrepreneur muda dibawah 20 tahun masih amat langka. Kalau di Amerika usia ibarat saya ini mungkin hal yang sangat biasa,” tutupnya.

Baca Juga : Kisah Orang Sukses -- Pendiri Apple ' Steve Jobs '

Source :
ciputraentrepreneurship.com

Share Artikel :

Jumat, 08 Maret 2019

Kisah Dongeng Sukses Yasa Singgih, Miliarder Muda Berumur 21 Tahun


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !
Bukan kasus gampang untuk bisa menjadi miliarder di usia yang masih sangat muda. Karena pengusaha muda terkadang dipandang sebelah mata. Banyak juga yang menilai, perjuangan yang dilakoni ada campur tangan dari kedua orang tuanya.
Hal itu dialami oleh seorang pengusaha muda di bidang fashion pria. Yasa berhasil menjadi miliarder di usianya yang masih 20 tahun berkat produknya dengan label Men's Republik yang sudah mendunia. 
Di tengah perjalanan, perjuangan Yasa tak selalu berjalan mulus. Tak jarang ia mendapat cibiran serta komentar tidak mengenakan. Namun ia tak ambil pusing dan percaya diri bahwa usahanya akan sukses.
“Saya pertama kali memulainya dengan cibiran sebab setiap kali aku masuk dalam pemberitaan media online selalu saja ada yang komen “pasti ia anak konglomerat atau emang terlahir udah kaya makanya bisa masuk Forbes, dan lain-lain” untungnya, aku tidak pernah mengambil pusing akan itu” ujar laki-laki 21 tahun itu.
Banyak yang tidak mengetahui bahwa Yasa hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi ia pernah ada di satu posisi di mana ia merasa harus berubah dan mulai mencari uang untuk dirinya sendiri..

Titik Balik

Pada ketika itu, Sang Ayah masuk rumah sakit akhir serangan jantung yang menyumbat keempat pembuluh darahnya. Sang Ibu pribadi memutuskan untuk operasi pemasangan ring.  
Namun, Sang Ayah menolak hal tersebut dan menentukan untuk memakai uang itu untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Momen itu menjadi salah satu momen yang mengubah hidup Yasa Singgih.
“Dari situ aku menyadari aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. Karena untuk membayar rumah sakit saja Ayah aku tidak mampu. Lalu aku memutuskan di usia ke 15 tahun untuk mencari uang sendiri” terangnya.
Pada ketika itu, Yasa masuk Sekolah Menengan Atas dan ia mulai menjadi pembawa acara di beberapa program untuk mendapat uang. Setelah itu ia ingin memulai bisnisnya dengan dibantu seorang teman berjulukan Jevon untuk menciptakan kaos.
“Karena aku yaitu seorang yang gaptek (gagap teknologi-red) tidak bisa memakai Adobe atau yang lain, hanya mengandalkan Microsoft Word dan Paint aku membawa desain itu ke Jevon. Singkat dongeng jadilah desain baju pertama aku yang diberi brand Men’s Republic” ungkapnya.
Men’s Republic hasilnya bisa berkembang pesat. Tapi sayangnya pada tahun 2012 ketika Yasa berusia 17 tahun, ia menjadi tidak fokus dan coba-coba membuatkan usahanya ke kuliner dengan membuka kedai. Hanya bertahan 10 bulan kedai Yasa bangkrut, ia rugi sampai Rp 100 juta dan tidak bisa meneruskan bisnis kaosnya lagi.
“Setelah gulung tikar pada tahun 2014 aku kembali memulai semuanya dari 0, pada ketika itu aku mau masuk kuliah dan aku sudah berjanji pada orang renta aku untuk membayar kuliah aku sendiri” terangnya.
Untuk memenuhi janjinya, Yasa kembali berupaya untuk memulai kembali usahanya dari 0. Dengan menganalisis pasar fashion pria sekarang, Yasa mampu menemukan solusi yang tepat.
“Akhirnya aku menciptakan solusi dengan menciptakan sebuah brand fashion bernama Men’s Republic khusus untuk dewasa pria, middle class dan harganya di bawah Rp 500.000,- dan go online tapi kualitas mall dengan harga online shop. Akhirnya produk perjuangan ini terus berkembang, kami hanya memproduksi produk yang manly dengan warna maroon, hitam, abu-abu, coklat, putih, dll" kata Pria kelahiran 1995 itu.
Dari situ Yasa sukses melebarkan sayap bisnisnya sampai ke delapan negara, serta bisa meraih omzet ratusan juta rupiah dan masuk dalam daftar Forbes sebagai entrepreneur muda di bawah usia 30 tahun di Asia yang memberi warna tersendiri di bidang e-commerce dan retail.



Source :

bisnis.liputan6.com


Share Artikel :

Sabtu, 02 Maret 2019

Kisah Atina Maulia ‘Wanita Muda Yang Sukses Berjualan Hijab’



'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !
Sukses berbisnis di usia muda bahkan sebelum 20 tahun, percaya? Anything is possible. Mengapa? Ini cuma dilema waktu untuk start saja, bukan? Kalau semenjak berusia remaja, Anda mulai merintis usaha, bukan mustahil 3 atau 4 tahun lalu Anda akan sukses – bahkan mungkin kurang dari itu.
Kisah abang beradik Intan Kusuma Fauzia dan Atina Maulia. Bisnis yang dijalankan oleh kedua gais bagus ini berjulukan Vanilla Hijab. Awalnya bisnis jilbab online tersebut dijalankan Atina seorang diri. Tetapi alasannya yaitu kakaknya, Intan Kusuma Fauzia yang mendapat kiprah untuk menciptakan bisnis sebagai syarat kelulusan, jadinya mereka berdua menjalankan bisnis ini.
Wanita yang memulai bisnisnya ketika usia 20 tahun ini memproduksi jilbab yang diberi nama Vanilla Hijab. Setiap bulannya, setidaknya ada 3.500 potong jilbab habis terjual olah para pembelinya. Usaha yang dijalankan oleh abang beradik ini juga tak selamanya mulus bebas hambatan, mereka juga pernah mengalami kerugian sampai Rp 70 juta. 
Namun dorongan dari orangtua menciptakan mereka berdiri kembali menghadapi suka murung dan persaingan di dunia bisnis. Berkat itu, sekarang nama Vanilla Hijab populer di media umum khususnya Instagram dengan jumlah pengikut lebih dari 300 ribu followers dan berhasil mempunyai dua konveksi sendiri.


Dalam sebulan, mereka memproduksi sekitar empat model jilbab yang masing-masing jenisnya diproduksi sebanyak 1500 potong. Jilbab tersebut terdiri dari delapan sampai 10 warna yang didominasi oleh warna-warna pastel.




Source :

Maxmanroe.com


Share Artikel :

Jumat, 01 Maret 2019

Kisah Hafiza Elfira, Pengusaha Muda Sukses Yang Berjiwa Sosial


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !

Menjadi seorang pengusaha yang sukses di usia muda tentu tidak bisa dialami oleh semua orang di muka bumi ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, akan diharapkan banyak perjuangan dan juga kerja keras alasannya kesuksesan tidak akan di dapatkan dengan gampang apalagi di usia yang masih muda. Namun banyak sekali macam perjuangan dan juga kesempatan yang coba diciptakan oleh beberapa orang anak muda bisa membawa mereka menjadi pengusaha yang sukses di usia muda. Seperti perempuan muda yang satu ini ia mempunyai rasa kepedulian dan jiwa social yang tinggi ia ialah seorang socialpreneur, yakni entrepreneur yang mempunyai dan memperlihatkan efek faktual di bidang social.
Dengan berbekal hal tersebut mahasiswi Universitas Indonesia ini memberdayakan ibu-ibu penderita kusta di Sitanala di bawah naungan Nalacity Foundation. Selain memakai jiwa sosialnya yang tinggi Hafiza juga mengandalkan kemampuan bisnisnya untuk membekali ibu-ibu penderita kusta di daerah tersebut dengan banyak sekali keterampilan menjahit manik-manik pada jilbab. Dengan ketelatenan yang dimilikinya maka Hafiza dan Nalacity Foundation bisa mendapat omset penjualan sampai ratusan juta per bulannya. Hafiza juga berhasil mendapat penghargaan sebagai 10 Pengusaha Muda Sukses.
Dalam bisnisnya ini Hafiza memanfaatkan media online dan social media menyerupai website, twitter, Facebook, Instagram sebagai sarana untuk memasarkan jilbab produksi Nalacity Foundation tersebut. Karena berdasarkan Hafiza proses pemasaran dengan memanfaatkan media social ini tidak ribet dan cukup gampang lantaran itu juga sanggup dijangkau dari banyak sekali wilayah di Indonesia bahkan seluruh dunia. Kegiatan social ini memang sudah terbilang sukses, namun Hafiza dan teman-temannya tidak melupakan tujuan besar mereka yaitu memberdayakan masyarakat penyandang difabel untuk mendapat penghidupan yang lebih baik dan mandiri.
Perempuan berjulukan lengkap Hafiza Elfira Nofitariani ini memang menggambarkan kesuksesannya di masa muda dan sanggup memperlihatkan wangsit dan semangat bagi semua. Anak muda Indonesia ialah anak muda yang harus berani berkarya, menuangkan ide kreatif dan bisa menjadi yang terbaik dari yang lainnya.



Source :

Generasimudaid.com

Share Artikel :

Rabu, 27 Februari 2019

Kisah Cowok Miskin Tak Berpendidikan Ini Sukses Jadi Menteri Gara-Gara Tak Boleh Minum Air


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !

Seorang cowok yang bekerja di sebuah perusahaan perminyakan di Arab Saudi ini Selalu mendapatkan hardikan dan hinaan dari teman-teman daerah ia bekerja.
Suatu Hari ia merasa kehausan dan bergegas mencari air untuk melegakan tenggorokannya.
Akhirnya ia menemukan air dan segera dimasukkannya kedalam gelas.
Ketika hendak diminum, dan belum hingga air itu masuk ke dalam mulutnya, ia berhenti alasannya yaitu mendengar bunyi sesorang: "Hei, kau tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan.
Air ini hanya khusus untuk insinyur".
Ternyata itu yaitu bunyi dari seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.
Pemuda tersebut termangu dan kembali menahan hausnya, alasannya yaitu ia tau jikalau ia hanyalah anak miskin yang hanya lulusan SD.
Ia lulusan Tahfidz Quran, namun keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang dikala itu masih dikendalikan oleh administrasi Amerika.
Kata-kata yang diucapkan seorang Insinyur Amerika tersebut selalu terngiang di kepalanya.
Hingga ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah alasannya yaitu saya pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur hingga tidak sanggup minum air tersebut? Apakah saya sanggup jadi insinyur menyerupai mereka?

Kata-kata tersebut ternyata menjadi spirit baginya untuk bangun dan mempunyai tekat yang berpengaruh untuk menjadi seorang insinyur menyerupai mereka.
Ia bekerja siang ari dan melanjutkan sekolahnya pada malam hari. Hingga ia kurang tidur.
Akhirnya kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil hingga ia sanggup lulus SMA.
Dan perusahaan pun menunjukkan kesempatan kepadanya untuk mendalami ilmu.
Ia pun dikirim ke Amerika untuk mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.
Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, cowok tersebut pun berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studinya.
Dan ia pun lulus dengan hasil yang memuaskan.
Dengan membawa gelar S1nya, cowok tersebut pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.
Kini ia pun sanggup meminum air yang dulu dihentikan baginya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa cowok tersebut sudah terlatih bekerja keras hingga karirnya terus melesat.

Ia telah menduduki beberapa jabatan penting di perusahaan tersebut dan terus meningkat, mulai dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum hingga kesudahannya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang sanggup dicapai oleh orang lokal dikala itu.
Uniknya, cowok tersebut kembali bertemu dengan insinyur Amerika yang dulu pernah melarangnya untuk minum air tersebut.
Bedanya, kini insinyur Amerika tersebut menjadi bawahannya.
Suatu hari insinyur tersebut menemui cowok tersebut untuk meminta izin libur.
"Aku ingin mengajukan izin liburan, Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa kemudian dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak balas dendam atas kekasaran dan sikap burukku di masa lalu".

Pemuda tersebut dengan senyum menjawab.

" Aku malah ingin berterima kasih kepadamu dari lubuk hatiku yang paling dalam, alasannya yaitu kau telah melarangku minum dikala itu."
"Ya...Dulu saya memang sangat membencimu".
"Namun kata-katamu itulah yang menciptakan semangatku begitu berpengaruh untuk meraih sukses".
"Dengan izin Allah saya meraih sukses menyerupai yang kini ini, kamulah penyebabnya"
Beberapa bulan kemudian, cowok tersebut kembali meraih sukses dengan menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur.

Ia yaitu Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Perusahaan yang ia pimpin yaitu perusahaan minyak terbesar di dunia, yaitu Aramco (Arabian American Oil Company).
Dibawah pimpinannya, perusahaan tersebut semakin berkembang besar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan.
Melihat perkembangan perusahaan ini dengan begitu cepatnya, dikarenakan telah menghasilkan 3,4 juta barrels dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20 x 1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas, Raja Arab Saudi pun menunjuk cowok tersebut sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral.
Pemuda tersebut yaitu Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang semenjak tahun 1995 hingga dikala ini menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.




Source :

Tribunnews.com



Share Artikel :

Selasa, 26 Februari 2019

Kisah Nicholas Kurniawan, Sukses Dari Berbisnis Ikan Hias


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !

Inilah Nicholas Kurniawan, semenjak Sekolah Menengan Atas sudah bisa menghasilkan uang Rp2-3 juta setiap bulannya. Di usia 23 tahun, beliau sudah meraup laba ratusan juta dari berbisnis ikan hias.
iapa sangka Nicholas Kurniawan yakni seorang anak dari keluarga yang dulunya mengalami kesulitan ekonomi. Mungkin Anda semua tidak mempercayainya, namun kenyataannya memanglah demikian. Nicholas Kurniawan dibesarkan dari keluarga kurang bisa yang bahkan untuk membiayai sekolahnya orang tuanya terpaksa mencari hutangan. Penghasilan yang pas-pasan dari kedua orang renta Nicholas, dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebutuhan pendidikan anaknya.
Perjuangan Nicholas Kurniawan sungguh sangat berat semenjak ia kecil. Nicho begitu ia erat dipanggil, sering merasa kasihan kepada kedua orang tuanya alasannya mereka sering dipermalukan alasannya besarnya hutang yang mereka tanggung. Karena melihat hal itu sering terjadi, maka semenjak kecil Nicholas Kurniawan bertekad untuk menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan kedua orang tuanya.

Akrab Dengan Kegagalan Sejak SD


Nicholas Kurniawan yakni sosok pekerja keras dan tak kenal lelah semenjak masih kecil. Ia bahkan sudah mulai berjualan semenjak usia 8 tahun, semenjak ia masih duduk di kursi Sekolah Dasar. Tak hanya sekali dua kali ia mengalami kegagalan dalam menjalankan sebuah usaha. Namun ia tidak pernah sekalipun mempunyai pikiran untuk berhenti dari berbisnis.
Meskipun masih di kursi Sekolah Dasar, namun Nicholas Kurniawan sudah banyak mencoba memulai bisnis meskipun ketika itu masih dalam skala yang kecil. Ia pernah berjualan masakan dan minuman, namun tidak berlangsung usang dan bisa dikatakan gagal.
Ia kemudian memulai lagi namun berganti produk, kali ini ia menjual pakaian namun sama saja, ia mengalami kegagalan juga di bisnis ini. Meskipun sering mengalami kegagalan, namun Nicho tidak mau disebut gagal, ia lebih suka menyebutnya belum menemukan cara yang sempurna untuk mencapai kesuksesan.


Turning Point Bisnis Nicholas Kurniawan

Dari banyak sekali bidang perjuangan yang telah ia jalani dan menemui jalan kegagalan, gres pada usia 17 tahun ia menemukan peluang usaha yang sangat besar. Saat itu ia masih duduk di kursi kelas 2 di Sekolah Menengan Atas Kolese Kanisius. Ini berawal dari seorang temannya yang memperlihatkan sepaket ikan Garra Rufa yang biasanya dipakai untuk banyak sekali terapi. Nah, alasannya ia merasa ikan tersebut tidak terlalu berkhasiat baginya, ia pun iseng mencoba menjualnya di Forum Jual-Beli di Kaskus.
Tanpa ia kira sebelumnya, ternyata peminat ikan Garra Rufa yang ia post di Kaskus sangat banyak sekali. Hanya dalam hitungan jam, ikan yang ia tawarkan berhasil terjual dan masih banyak orang yang menawarnya. Melihat dari respon luar biasa dari pembeli, ia kemudian mempelajari lebih dalam perihal ikan ini. Kemudian ia tidak lupa bertanya pada temannya dari mana ia mendapat ikan tersebut. Dari situ ia mendapat supplier untuk ikan Garra Rufa yang ia jual kembali secara online melalui #Kaskus.


Perkembangan Bisnis dan Lahirnya Brand Venus Aquatics

Dari mengelola bisnis jual beli ikan Garra Rufa, Nicho bisa menghasilkan 2-3 juta rupiah perbulan. Kemudian bisnisnya semakin berkembang tidak hanya fokus pada satu jenis ikan saja, namun merambah pada segala jenis ikan hias.
Berbekal ilmu yang ia sanggup dari pekuliahan, ia kemudian membuatkan bisnisnya dan membangun sebuah merk dengan nama Venus Aquatics. Dari merk yang ia bangun ini, ia bisa memperoleh pemasukan ratusan juta rupiah tiap bulannya. Dan ia bisa menjual ikan hias ke banyak sekali kawasan di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
Meskipun dari kegiatan bisnis melalui merk yang ia kembangkan sudah berhasil mendapat pemasukan yang besar, namun Nicho tidak ingin berhenti hingga di situ saja. Bersama dengan sobat kampusnya, ia ingin menularkan virus kesuksesan dalam berbisnis pada adik-adik Sekolah Menengan Atas nya melalui Synergy Entrepreneur Academy. Synergy Entrepreneur Academy yakni suatu konsep inisiasi untuk memperlihatkan workshop startup bisnis bagi para siswa SMA. Dari sini Nicho Kurniawan berharap bisa mencetak 5 juta pengusaha baru.

Prinsip Bisnis Nicholas Kurniawan

Dalam menjalankan sebuah bisnis, ia menekankan bahwa ia selalu memgang nilai perseverance atau kegigihan.
Tanpa itu, rasanya sangat sulit untuk mendapat kesuksesan dalam berbisnis. Dalam perjalanan sebuah bisnis, niscaya ada kalanya peristiwa alam datang. Ia sendiri pernah bercerita bahwa pernah ditipu oleh rekannya sendiri senilai 30 juta pada ketika membuatkan bisnisnya. Namun dengan kegigihan yang ia miliki, ia bisa bangun dan bahkan sekarang mempunyai aset yang lebih besar.


Source :

Maxmanroe.com



Share Artikel :

Senin, 25 Februari 2019

Kisah Anugrah Pakerti Belum 25, Sudah Sukses Jadi Pengusaha Beromzet Ratusan Juta


'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !

Cowok kok bikin perjuangan di bidang kecantikan? Itu bukan masalah, Bro. Seperti kata Bob Sadino, bisnis yang baik yaitu yang dijalankan, bukan ditanyakan.
Selama yakin bisnis itu bakal berhasil, ya jalani saja. Seperti Anugrah. Dia menjalankan bisnisnya sebagai penyedia produk dan jasa perawatan kecantikan dengan optimisme.
Ia menjalankan perjuangan itu bersama beberapa kawannya. Outlet skin care yang ia kelola kini banyak terdapat di jalanan kota besar.
Riwayatnya sebagai enterpreneur saat sekolah mungkin berkontribusi pada kesuksesannya sekarang. Dari jadi penjual kaus sampai sales properti pernah ia geluti. Kini ia lebih berfokus pada usaha skin care.
Nicholas Kurniawan, Lambertus Darian, hingga Anugrah Pakerti yaitu pola bagaimana pengusaha sanggup sukses ketika berusia muda. Mungkin beberapa di antaranya ketika ini sudah berusia lebih dari 25.
Tapi mereka masih sanggup membanggakan pengalaman mengecap kesuksesan sebelumnya. Jangan tunggu usia tua, rebut kesempatan jadi pengusaha sukses selagi masih muda, menyerupai mereka.

Source : 
Duitpintar.com


Share Artikel :

Sabtu, 23 Februari 2019

Kisah Dea Valencia, Gadis Miliuner Dari Perjuangan Batik



'Mari Berdikari Di Negeri Sendiri'
Hai P.I Lovers Selamat membaca, Salam Sukses !

Bagi sebagian orang, mungkin sulit membayangkan bahwa seorang gadis muda belia sudah bisa menjadi pengusaha sukses dengan penghasilan milyaran. Apalagi kalau capaian tersebut diperoleh dengan keringat sendiri tanpa warisan kekayaan harta orang tua.
Namun Dea Valencia Budiarto menerangkan bahwa hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dicapai. Jika banyak orang berusia muda yang gres lulus dari universitas (fresh graduate) mempunyai pendapatan bulanan pada kisaran jutaan, hal ini tak berlaku bagi Dea. Di usia 22 tahun, Dea telah menjadi wirausahawan sukses dengan berdagang batik dengan merek Batik Kultur.
“Saya benar-benar mencar ilmu dari awal semenjak saya mulai jatuh cinta dengan batik. Makara semua motif batik yang saya jual designnya yakni hasil karya saya sendiri. Tentu banyak yang saya pembiasaan dari model batik lawasan. Awal tahun 1900-an, banyak orang Belanda yang mencar ilmu membatik.Mereka pembiasaan beberapa dari kisah Belanda. Nah, ini yang saya modernisasi,” kata Dea dalam wawancara khusus dengan Suara.com di kegiatan Astra Startup Challenge di Jakarta.
Dea mulai menjalankan bisnis batik semenjak usia 16 tahun di tahun 2011. Setahun pertama, ia menjual batik lawasan. Seiring berjalan waktu, ia mulai menjual batik tidak lagi dalam bentuk kain, tetapi sudah menjadi baju Ketidaksanggupannya membeli batik yang ia inginkan justru menjadi awal mula kesuksesannya.
Seiring berjalannya waktu, dikala awal produksi Batik Kultur hanya menciptakan 20 potong pakaian, sekarang bisnis Dea bisa memproduksi 800 potong Batik Kultur setiap bulan Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp3,5 miliar per tahun atau Rp300 juta per bulan.
Dea memulai Batik Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Beruntunglah, wajah Dea yang elok mempermudah jalannya untuk tampil di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar. Untuk itu,  Dea mempunyai seorang rekan yang bisa diandalkan untuk mentranfer imajinasinya wacana rujukan batik menjadi sebuah gambar.
Kini Batik Kultur bahkan telah diekspor ke beberapa negara. Beberapa customer dari Norwegia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Singapura dan Hongkong sudah melaksanakan pemesanan. “Cuma produksinya untuk ekspor dalam jumlah besar belum dilakukan. Karena kemampuan produksi kami masih kurang untuk memenuhi usul dari konsumen dalam negeri,” terperinci Dea.
Tak cuma batik, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan pusat tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, sekarang sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.
Sebagai alumni kegiatan studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.
Dea mengakibatkan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Batik Kultur menyebar dari verbal ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia faktual menyukseskan bisnis Dea.
Bagi Dea, kesuksesan bisnis tak diukur dari berapa banyak produknya terjual atau berapa banyak customer yang dimiliki. Termasuk soal pendapatan usaha, menurutnya itu bukanlah hal yang utama. “Bagi saya justru berapa banyak orang yang bisa saya berdayakan untuk bekerja di bisnis yang saya miliki ini. Saya gembira awalnya saya hanya punya seorang karyawan, sekarang saya punya 85 karyawan. Bahkan 40 diantara mereka yakni diffabel. Untuk saya, ini tolak ukur yang lebih penting,” terperinci Dea.
Saat ini Batik Kultur gres mempunyai 1 galeri penjualan di Semarang, Jawa Tengah, kota asal kelahiran Dea. Namun dalam waktu dekat, ia akan mendirikan 1 galeri lagi di Ibu Kota Jakarta. “Karena memang pemesanan pembelian online terbanyak kami dari Jakarta,” tutup Dea.


Source :
Suara.com


Share Artikel :

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini