Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya
Tampilkan postingan dengan label Budayawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budayawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2019

Inilah Iwan Fals

Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Selama di Jeddah itu, Iwan Fals selalu menyanyikan dua lagu utnuk hiburannya, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya. Bermain gitar dilakukannya semenjak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Bicara perihal perjalanan karir musiknya, Iwan Fals mengaku semua dimulai ketika ia aktif ngamen di Bandung ketika masih berumur berumur 13 tahun atau masih duduk di dingklik SMP. Iwan Fals mencar ilmu memainkan gitar dari teman-teman nongkrong. Setiap kali teman-temannya bermain gitar dan memainkan lagu-lagu Rolling Stones, Iwan Fals suka memperhatikan hingga karenanya ia nekat memainkan gitar itu namun saying ia malah memutuskan salah satu senar hingga dimarahi teman-temannya. Sejak ketika itu, gitar ibarat terekam berpengaruh dalam ingatan seorang Iwan Fals. 

Untuk menarik perhatian teman-temannya, Iwan Fals menciptakan lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temannya tetawa mendengarkan lagu-lagu yang ia bawakan. Setelah merasa bisa menciptakan lagu sendiri, apalagi bisa menciptakan orang tertawa, timbul harapan untuk mencari pendengar lebih banyak. Iwan Fals pun suka mengisi acaraa hajatan, kimpoian, atau sunatan. Dulu Iwan Fals memilki manajer berjulukan Engkos, seorang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, ia selalu tahu jikalau ada orang yang punya hajatan. Karena itulah Iwan Fals un mulai sering tampil di acara-acara.

Ketika di Sekolah Menengah Pertama 5 Bandung, Iwan Fals juga menjadi gitaris kelompok paduan bunyi sekolah. Suatu ketika, seorang guru menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi alasannya yaitu ada anak wanita yang ahli memainkan gitar, Iwan Fals menunjukkan diri. Maka jadilah ia pemain gitar di paduan bunyi sekolahnya.

Banyak yang bertanya perihal asal nama Fals yang ia gunakan. Nama itu ternyata didapat sewaktu dalam perjanan dari Jeddah kembali ke Jakarta. Waktu pulang dari Jeddah pas animo Haji, di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, Iwan hanya menenteng gitar kesayangannya. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, menciptakan seorang pramugari heran. Pramugari itu kemudian menghampiri Iwan dan meminjam gitarnya. Tapi begitu gres akan memainkan, pramugari itu heran. Suara gitar milik Iwan terdengar fals. Setelah membetulkan steman nada gitar, pramugari itu kemudian mengajari Iwan memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan. Peristiwa itulah yang menginspirasi Iwan menambahkan Fals di belakang namanya hingga kini populer dengan panggilan Iwan Fals.

Karir bermusik Iwan Fals makin terbentuk ketika ada orang tiba ke Bandung dari Jakarta yang mengenal produser musik. Waktu itu Iwan Fals gres sadar jikalau ternyata lagu-lagu yang ia ciptakan sudah populer di Jakarta. Jauh sebelumnya, Iwan Fals pernah rekaman di Radio 8 EH dan lagunya sering diputar di radio itu hingga karenanya radio itu kena bredel oleh Pemerintah. Waktu itu Iwan Fals masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Ia kemudian menjual sepeda motornya untuk biaya menciptakan master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Setelah menerima juara di ekspo musik country, Iwan Fals ikut ekspo lagu humor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan.

Akhirnya Iwan Fals melaksanakan rekaman di Musica Studio. Musiknya mulai digarap lebih serius. Setelah itu, lahirlah album bertajuk arjana Muda, yang musiknya ditangani Willy Soemantri dan menerima respon luar biasa. Namun, Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Kemudian sempat masuk televisi sesudah tahun 1987. Waktu siaran program Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen eksklusif dihentikan.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika ia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa ketika itu hingga kini dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia. Selama Orde Baru, banyak jadwal program konser Iwan yang tidak boleh dan dibatalkan oleh pegawanegeri pemerintah, alasannya yaitu lirik-lirik lagunya yang kritis.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan permintaan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga kini kantor cabang Oi sanggup ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan hingga ke mancanegara.

Album-album karya Iwan Fals antara lain: Canda Dalam Nada (1979), Canda Dalam Ronda (1979), Perjalanan (1979), 3 Bulan (1980), Sarjana Muda (1981), Opini (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) (1985), Sore Tugu Pancoran (1985), Aku Sayang Kamu (1986), Ethiopia (1986), Lancar (1987), Wakil Rakyat (1988), 1910 (1988), Antara Aku, Kau Dan Bekas Pacarmu (1988), Mata Dewa (1989), Swami I (1989), Kantata Takwa (1990), Cikal (1991), Swami II (1991), Belum Ada Judul (1992), Hijau (1992), Dalbo (1993), Anak Wayang (1994), Orang Gila (1994), Lagu Pemanjat (bersama Trahlor) (1996), Kantata Samsara (1998), Best Of The Best (2000), Suara Hati (2002), In Collaboration with (2003), Manusia Setengah Dewa (2004), Iwan Fals in Love (2005), 50:50 (2007), Untukmu Terkasih (2009) - mini album, Keseimbangan - Iwan Fals (2010), Tergila-gila (2011).

sumber : kaskus

Sabtu, 04 Mei 2019

Inilah /Sejarah Blangkon

Blangkon yaitu tutup kepala yang dipakai oleh kaum laki-laki sebagai bab dari pakaian tradisional jawa. Blangkon bahwasanya bentuk mudah dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibentuk dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang sanggup menjelaskan asal mula laki-laki jawa menggunakan ikat kepala atau epilog kepala ini.

Pada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu kisah Legenda perihal Aji Soko. Dalam kisah ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu dikala Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar sejenis sorban yang sanggup menutup seluruh tanah Jawa. Padahal ibarat kita ketahui , Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941.

Ada sejumlah teori yang menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan imbas dari, budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis yaitu keturuan cina dari Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini yaitu orang keturunan Arab, mereka selalu mengenakan sorban, yaitu kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala mereka. Sorban inilah yang meng-inspirasi orang jawa untuk menggunakan iket kepala ibarat halnya orang keturunan arab tersebut.

Ada teori lain yang berasal dari para sesepuh yang menyampaikan bahwa pada jaman dahulu, iket kepala tidaklah permanen ibarat sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akhir perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat.

Oleh alasannya itu , para petinggi keraton meminta seniman untuk membuat ikat kepala yang menggunakan separoh dari biasanya untuk efisiensi Maka terciptalah bentuk epilog kepala yang permanen dengan kain yang lebih ekonomis yang disebut blangkon.

Pada jaman dahulu, blangkon memang hanya sanggup dibentuk oleh para seniman andal dengan pakem (aturan) yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya. Seorang andal kebudayaan berjulukan Becker pernah meneliti tata cara pembuatan Blangkon ini, ternyata pembuatan blangkon memerlukan satu keahlian yang disebut virtuso skill. Menurut nya : That an object is useful, that it required virtuso skill to make neither of these precludes it from also thought beatiful. Some craft generete from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriete aesthetic standards and common of taste.

Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari pemenuhan terhadap pakem juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan standard cita rasa serta ketentuan- ketentuan yang sudah menjadi standar sosial. Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya. Seperti yang diungkapkan oleh Becker sebagai berikut: By accepting beauty as a criterion, participants in craft activities on a concern characteristic of the folk definition of art. That definition includes an emphasis on beauty as typified in the tradition of some particular art, on the traditions and conserns of the art world itself as the source of value, on expression of someones thoughts and feelings, and on the relative freedom of artist from outside interference with the work.

Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan bahwasanya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari pendengaran kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar.

Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bab belakang blangkon yang berbentuk ibarat Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya Yogyakarta. Tonjolan ini menerangkan model rambut laki-laki masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bab belakang kepala, sehingga bab tersebut tersembul di bab belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang semoga tidak gampang lepas.

Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul lantaran kebanyakan laki-laki kini berambut pendek. Model trepes ini dibentuk dengan cara menjahit pribadi mondholan pada bab belakang blangkon. Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang menggunakan iket kepala yang ibarat dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda.

Minggu, 24 Februari 2019

Inilah Buya Hamka


 dan Siti Safiyah Binti Gelanggar yang bergelar Bagindo nan Batuah Inilah   Buya Hamka

Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, dari pasangan Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Siti Safiyah Binti Gelanggar yang bergelar Bagindo nan Batuah. Hamka mewarisi darah ulama dan pejuang yang kokoh pada pendirian dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama penggerak Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau serta salah satu tokoh utama dari gerakan pembaharuan yang membawa reformasi Islam (kaum muda).

Nama Hamka sendiri merupakan kependekan dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan sebutan Buya ialah panggilan khas untuk orang Minangkabau. Kata Buya sebetulnya berasal dari kata abi, atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau orang yang dihormati.

Jika banyak tokoh kuat yang bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah formal, tidak demikian halnya dengan Hamka. Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya hingga kelas dua Sekolah Dasar Maninjau. Setelah itu, dikala usianya menginjak 10 tahun, Hamka lebih menentukan untuk mendalami ilmu agama di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam yang didirikan ayahnya sekembalinya dari Makkah sekitar tahun 1906.

Di sekolah itu, Hamka mulai serius mempelajari agama Islam serta bahasa Arab. Sejak kecil Hamka memang dikenal sebagai anak yang haus akan ilmu. Selain di sekolah, ia juga menambah wawasannya di surau dan masjid dari sejumlah ulama populer menyerupai Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Pada tahun 1924, Hamka yang ketika itu masih sampaumur sempat berkunjung ke Pulau Jawa. Di sana ia banyak menimba ilmu pada pemimpin gerakan Islam Indonesia diantaranya Haji Omar Said Chakraminoto, Haji Fakharudin, Hadi Kesumo bahkan pada Rashid Sultan Mansur yang merupakan saudara iparnya sendiri.

Selanjutnya pada 1927, berbekal ilmu agama yang didapatnya dari aneka macam tokoh Islam kuat tadi, Hamka memulai karirnya sebagai Guru Agama di Perkebunan Tebingtinggi, Medan. Dua tahun kemudian, ia mengabdi di Padang masih sebagai Guru Agama. Masih di tahun yang sama, Hamka mendirikan Madrasah Mubalighin. Bukan hanya dalam hal ilmu keagamaan, Hamka juga menguasai aneka macam bidang ilmu pengetahuan menyerupai filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik. Yang menarik, semua ilmu tadi dipelajarinya secara belajar sendiri tanpa melalui pendidikan khusus. John L. Espito dalam Oxford History of Islam bahkan menyejajarkan sosok Hamka dengan Sir Muhammad Iqbal, Sayid Ahmad Khan dan Muhammad Asad.

Hamka juga pernah menekuni bidang jurnalistik dengan berkarir sebagai wartawan, penulis, editor dan penerbit semenjak awal tahun 1920an. Ia tercatat pernah menjadi wartawan aneka macam surat kabar, yakni Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.
Di sela kegiatannya sebagai jurnalis, Hamka memulai perannya di dunia politik dengan menjadi anggota partai Sarekat Islam pada tahun 1925. Di waktu yang hampir bersamaan, ia ikut mendirikan Muhammadiyah untuk menentang khurafat, bidaah dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Selanjutnya Hamka terlibat dalam kepengurusan organisasi Islam tersebut dari tahun 1928 hingga 1953.
Bersama dengan KH Fakih Usman (Menteri agama dalam Kabinet Wilopo 1952), Hamka menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat pada Juli 1959. Majalah ini menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini kemudian dibredel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr Muhammad Hatta berjudul 'Demokrasi Kita', yang isinya mengkritik tajam konsep Demokrasi Terpimpin. Majalah ini gres terbit kembali sesudah Orde Lama tumbang, tepatnya pada 1967. Hamka sendiri dipercaya sebagai pimpinan umum majalah Panji Masyarakat hingga selesai hayatnya.

Hamka juga pernah menjadi editor di majalah Pedoman Masyarakat dan Gema Islam. Pada tahun 1928 hingga 1932, Hamka pernah menjadi editor sekaligus penerbit dari dua media yang berbeda, yakni majalah Kemajuan Masyarakat yang terbit hanya beberapa nomor serta majalah al-Mahdi di Makasar.

Di sela kegiatannya sebagai jurnalis, Hamka memulai perannya di dunia politik dengan menjadi anggota partai Sarekat Islam pada tahun 1925. Di waktu yang hampir bersamaan, ia ikut mendirikan Muhammadiyah untuk menentang khurafat, bidaah dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Selanjutnya Hamka terlibat dalam kepengurusan organisasi Islam tersebut dari tahun 1928 hingga 1953. Mulai tahun 1928, ia mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Setahun kemudian, ia mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah. Pada 1931, ia menjabat sebagai konsul Muhammadiyah di Makassar.

Lima tahun berselang, usai menjabat sebagai Konsul Muhammadiyah, Hamka pindah ke Medan. Kemudian di tahun 1945, ia kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Saat itulah, bakatnya sebagai pengarang mulai tumbuh. Buku pertama yang dikarangnya berjudul Khathibul Ummah, yang kemudian disusul dengan sederet judul lain yakni Revolusi Fikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Dari Lembah Cita-Cita, Merdeka, Islam dan Demokrasi, Dilamun Ombak Masyarakat, dan Menunggu Beduk Berbunyi.

Saat perang revolusi, Hamka juga turut berjuang mengusir penjajah. Lewat pidato, ia mengobarkan semangat para pejuang untuk merebut kedaulatan negara. Dalam dongeng perjuangannya, Hamka juga pernah ikut serta menentang kembalinya Belanda ke Indonesia dengan bergerilya di dalam hutan di Medan. Selain didorong rasa cinta pada Tanah Air yang demikian besar, semangat usaha Hamka juga senantiasa berkobar tiap kali mengingat pesan ayahnya yang diucapkan ketika Muktamar Muhammadiyah tahun 1930 di Bukittinggi, "Ulama harus tampil ke muka masyarakat, memimpinnya menuju kebenaran."

Pasca kemerdekaan, Konferensi Muhammadiyah menentukan Hamka untuk menduduki posisi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto di tahun 1946. Lalu pada 1947, ia menjabat sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional yang beranggotakan Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said dan Karim Halim. Hamka juga menerima amanat dari Wapres Mohammad Hatta untuk menjabat sebagai sekretaris Front Pertahanan Nasional.

Pada tahun 1953, Hamka terpilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada tahun 1951-1960, Hamka menerima mandat dari Menteri Agama Indonesia untuk duduk sebagai Pejabat Tinggi Agama. Namun belakangan, ia lebih menentukan untuk mengundurkan diri lantaran pada waktu itu Presiden Soekarno memintanya menentukan antara menjadi pegawai negeri atau berkiprah di dunia politik.

Pada tahun 1955, Hamka memang tercatat sebagai anggota konstituante Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan berpidato dalam Pemilu Raya di tahun yang sama. Meskipun pada akhirnya, partai yang didirikan di Yogyakarta pada 7 November 1945 itu dibubarkan Presiden Soekarno di awal tahun 1960. Pada dekade 1950-an, politik seakan menjadi "panglima", menyikapi kenyataan tersebut, Hamka pernah memberikan pernyataannya yang melukiskan martabat sebagai pemimpin umat, "Kursi-kursi banyak, dan orang yang ingin pun banyak. Tetapi kursiku ialah buatanku sendiri," kata Hamka menyerupai dikutip dari situs Republika.co.id

Hamka kembali ke dunia pendidikan pada tahun 1957 sesudah resmi diangkat menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang. Karirnya sebagai pendidik terus menanjak, sesudah ia terpilih sebagai rektor pada Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, kemudian dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Moestopo, Jakarta, dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Di samping sering memberi kuliah di aneka macam sekolah tinggi tinggi, Hamka juga memberikan dakwahnya melalui Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI yang diminati jutaan masyarakat Indonesia di masa itu.

Menjelang tumbangnya rezim Orde Lama, persisnya tahun 1964, Hamka pernah mendekam di penjara selama dua tahun lantaran dituduh pro-Malaysia. Meski secara fisik ia terkurung, Hamka terus berkarya. Jika kebanyakan orang usai menjalani eksekusi sebagai tahanan politik lebih menentukan untuk mengeluarkan buku kecaman terhadap rezim penguasa, tak demikian halnya dengan Hamka. Ia justru menghasilkan mahakarya yang membuat namanya tersohor hingga ke mancanegara, yakni tafsir Al Alquran yang diberi nama Tafsir Al-Azhar, sesuai dengan nama masjid kawasan Hamka selalu memperlihatkan kuliah subuh. Tafsir Al-Azhar yang berisi terjemahan Al-Quran sebanyak 30 juz lengkap itu merupakan satu-satunya Tafsir Al Qur'an yang ditulis oleh ulama melayu dengan gaya bahasa yang khas dan gampang dicerna. Diantara ratusan judul buku mengenai agama, sastra, filsafat, tasauf, politik, sejarah dan kebudayaan yang melegenda hingga hari ini, bisa dibilang Tafsir Al-Azhar ialah karya Hamka yang paling fenomenal.

Di samping dikenal sebagai ulama dan politisi berpengaruh, sejarah juga mencatat Hamka sebagai seorang sastrawan yang cerdas. Dengan kemampuan bahasa Arabnya yang mumpuni, ia sanggup mendalami karya para ulama dan pujangga besar asal Timur Tengah menyerupai Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Tak hanya itu, ia juga sanggup meneliti karya sarjana Barat menyerupai Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti.

Hamka juga banyak memberikan pemikirannya perihal Islam lewat sejumlah bukunya yang antara lain berjudul Agama dan perempuan, Pembela Islam, Adat Minangkabau dan Agama Islam, Kepentingan Tabligh, Ayat-Ayat Mi'raj, dan masih banyak lagi. Sementara dalam hal agama dan filsafat, Hamka juga mengarang beberapa buku yang diberi judul Tasauf Moderen, Falsafat Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi, Pedoman Muballigh Islam, dan lain-lain.

Tak hanya piawai menghasilkan karya yang bernafaskan Islam, Hamka juga cukup produktif menghasilkan beberapa karya sastra kreatif menyerupai novel, diantaranya Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj , Merantau ke Deli, serta novel terbitan tahun 1936, Di Bawah Lindungan Ka'bah, yang telah dua kali diangkat dalam film layar lebar. Karya-karya Hamka bahkan tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit nasional sekelas Balai Pustaka dan Pustaka Bulan Bintang melainkan juga diterbitkan di beberapa negara Asia Tenggara bahkan dirilis di aneka macam situs, blog dan media informasi lainnya.

Hebatnya lagi, hasil karya Hamka menjadi buku teks sastra di luar negeri menyerupai Malaysia dan Singapura. Banyak warga Malaysia yang mengagumi karakter, pemikiran dan usaha Buya Hamka bahkan menjadikannya sebagai salah satu soko guru agama Islam di tanah Melayu.Pada tahun 1974, Hamka mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia dari pemerintah Malaysia melalui Perdana Menteri Tun Abdul Razak sebagai bentuk penghargaan atas pemikiran dan sumbangsihnya dalam memajukan perkembangan agama Islam, serta kegigihannya dalam berdakwah terutama di tanah Melayu. Karena dedikasinya di bidang dakwah, gelar yang sama juga pernah diberikan Universitas Al Azhar pada Hamka yang membawakan pidato ilmiah berjudul "Pengaruh Ajaran dan Pikiran Syekh Mohammad Abduh di Indonesia". Pemerintah Indonesia sendiri pernah memberinya gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno.

Tak hanya lewat tulisan, Hamka juga memperlihatkan watak mulia dan suri tauladan bagi para pengikutnya, salah satunya secara terbuka memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya. Misalnya pada 21 Juni 1970 ketika Presiden RI pertama Ir. Soekarno wafat, ia bertindak sebagai imam shalat jenazahnya. Tak ada sedikit pun rasa dendam atau sakit hati dalam dirinya, bahkan konon Hamka sempat menitikkan airmata begitu mendengar gosip kepergian Sang Proklamator. Setelah sholat jenazah, ia berkata kepada mayit Soekarno, "Aku telah doakan engkau dalam sholatku semoga Allah memberi ampun atas dosamu. Aku bergantung kepada akad Allah bahwa walaupun hingga ke lawang langit timbunan dosa, asal memohon ampun dengan tulus, akan diampuni-Nya".

Pada awal dekade 70-an, Hamka mengingatkan umat Islam terhadap tantangan al-ghazwul fikri (penjajahan alam pikiran). Menurut Hamka, penjajahan alam pikiran beriringan dengan penghancuran watak dan kebudayaan di negeri-negeri Islam. Sekularisasi atau sekularisme ialah setali tiga uang dengan ghazwul fikr yang dilancarkan dunia Barat untuk menaklukkan dunia Islam, sesudah kolonialisme politik dalam aneka macam bentuk, gagal.

Cap sebagai mantan narapidana juga tak membuat kharisma seorang Hamka luntur begitu saja. Usai menjalani hukuman, ia masih menerima kepercayaan untuk mengemban sejumlah jabatan, diantaranya menjadi anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama RI Prof. Dr. Mukti Ali mempercayakan jabatan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Hamka. Berbagai pihak waktu itu sempat ragu apakah Hamka bisa menghadapi intervensi kebijakan pemerintah Orde Baru kepada umat Islam yang dikala itu berlangsung dengan sangat massif. Hamka rupanya berhasil menepis keraguan itu dengan menentukan masjid Al-Azhar sebagai pusat aktivitas MUI ketimbang harus berkantor di Masjid Istiqlal. Istilahnya yang populer waktu itu ialah kalau tidak hati-hati nasib ulama itu akan menyerupai masakan ringan manis bika , yakni bila MUI terpanggang dari atas (pemerintah) dan bawah (masyarakat) terlalu panas, maka situasinya akan menjadi sulit. Bahkan bukan tidak mungkin, MUI bisa mengalami kemunduran serius.

Usaha Hamka untuk mewujudkan MUI sebagai forum yang independen kian terasa kental pada awal dekade 80-an. Lembaga ini berani melawan arus dengan mengeluarkan pemikiran mengenai dilema perayaan Natal bersama. Buya Hamka menyatakan haram bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu. Adanya pemikiran tersebut kontan membuat publik geger. Terlebih ketika itu pemerintah tengah gencar mendengungkan isu toleransi.

Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan natal. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal maka mereka dianggap orang berbahaya, fundamentalis, dan anti Pancasila. Umat Islam pun merasa resah, keadaan itulah yang kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Fatwa tersebut bukan tanpa risiko. Sebagai orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas keluarnya pemikiran tersebut, Buya Hamka pun menuai kecaman dari aneka macam pihak tak terkecuali pemerintah. MUI ditekan dengan gencar melalui aneka macam pendapat di media massa yang menyatakan bahwa keputusan itu hanya akan mengancam persatuan negara.

Akhirnya pada 21 Mei 1981, Hamka meletakkan jabatan sebagai Ketua MUI daripada harus mencabut pemikiran tersebut. Sebagai pengawal kepercayaan umat, Hamka memberikan masukan kepada Presiden Soeharto mengenai dilema Kristenisasi. Sikap Soeharto pun sejalan dengan pandangan MUI bahwa jikalau hendak membuat kerukunan beragama, maka orang yang sudah beragama jangan dijadikan target untuk propaganda agama yang lain.

Namun tak dipungkiri, keteguhan Hamka dalam mempertahankan prinsipnya, berhasil membangun gambaran MUI sebagai forum yang mewakili bunyi umat Islam. Seperti yang pernah disampaikan Mantan Menteri Agama H.A. Mukti Ali menyerupai dikutip dari situs Republika.co.id, "Berdirinya MUI ialah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, forum itu tak akan bisa berdiri."

Dua bulan sesudah pengunduran dirinya itu, Hamka dilarikan ke rumah sakit lantaran komplikasi penyakit kencing manis, gangguan jantung, radang paru-paru, dan gangguan pada pembuluh darah yang dideritanya. Setelah tiga hari menjalani perawatan di ruang (ICU) RS Pusat Pertamina, Hamka kesudahannya menghadap Sang Khalik di usia 73 tahun pada hari Jumat, 24 Juli 1981 pukul 10.41. Setelah disholatkan di Masjid Al-Azhar, jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Atas jasa-jasanya pada negara, Presiden Soeharto menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama pada tahun 1993. Kemudian di tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar satria Nasional pada Hamka menurut surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011. Pemberian gelar tersebut disambut dengan rasa besar hati oleh pihak keluarga Hamka, "Kami, keluarga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan dia itu semenjak awal sudah jadi satria bagi kami," kata anak kesepuluh Buya Hamka, Afif Hamka kepada wartawan.

Ulama cerdas nan kharismatik itu memang telah berpulang ke rahmatullah, namun pengabdian dan sumbangannya dalam membangun kesadaran umat Islam dan impian bangsa tetap dikenang dan menjadi ide bagi generasi masa kini. Cendekiawan sekaligus budayawan, Dr. Nurcholish Madjid dalam buku 70 Tahun Buya Hamka (1978) mencatat peranan dan ketokohan Hamka sebagai figur sentral yang telah berhasil ikut mendorong terjadinya mobilitas vertikal atau gerakan ke atas agama Islam di Indonesia, dari suatu agama yang "berharga" hanya untuk kaum sarungan dan pemakai bakiyak di zaman kolonial menjadi agama yang semakin diterima dan dipeluk dengan sungguh-sungguh oleh "kaum atas" Indonesia merdeka. Hamka berhasil merubah postur kumal seorang kiai atau ulama Islam menjadi postur yang patut menjadikan rasa hormat dan respek. Cak Nur lebih lanjut mengutarakan, melihat keadaan lahiriah yang ada sekarang, sulit membayangkan bahwa di bumi Indonesia akan lahir lagi seorang imam dan ulama yang menyamai Buya Hamka.

Sayangnya, banyak generasi muda yang tak mengenal sosoknya apalagi mengkaji ketokohannya. Nama besar Hamka justru lebih dihormati negara tetangga. Hal itu bisa dilihat dari kunjungan masyarakat ke Museum Buya Hamka yang lebih didominasi wisatawan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam ketimbang wisatawan lokal. Memang amat disayangkan, entah lantaran kurangnya promosi, museum yang terletak di tepi Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat dan diresmikan pada 11 November 2001 oleh H. Zainal Bakar, Gubernur Sumatera Barat masa itu, ternyata tak begitu menggoda masyarakat Indonesia.

Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan, Muhammadiyah mengabadikan namanya menjadi nama sebuah sekolah tinggi tinggi yang berada di Yogyakarta dan Jakarta, yakni Universitas Hamka (UHAMKA). Akhir tahun 2007, sebuah panitia yang dibuat oleh Universitas Prof Dr Hamka Jakarta telah menyelenggarakan beberapa aktivitas penting dalam rangka 100 tahun Buya Hamka di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, salah satunya ialah meluncurkan buku 100 tahun Buya Hamka.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/1259-ulama-politisi-dan-sastrawan-besar

Senin, 18 Februari 2019

Inilah Chairil Anwar



Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya berjulukan Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Selepas perceraian itu, dikala habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi beliau keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang cukup umur tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana beliau berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan beliau mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak eksklusif mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat ialah dikala neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu mendapatkan segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan murung maha tuan bertahta”

Sesudah nenek, ibu ialah perempuan kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga memperlihatkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil populer kedegilannya. Seorang sobat dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu goresan pena ihwal kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan impian hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Masa Dewasa Chairil Anwar
Nama Chairil mulai populer dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada dikala itu beliau gres berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang beliau tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga simpulan hayatnya Chairil tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya insan meraih kemerdekaan, termasuk usaha bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).

Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku hewan jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) ialah aktivis Angkatan ’45 yang membuat ekspresi dominan gres pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda lantaran penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Puisi-puisinya digemari hingga dikala ini. Salah satu puisinya yang paling populer sering dideklamasikan berjudul Aku ( “Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra abnormal ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946).

Rakannya, Jassin pun punya kenangan ihwal Chairil Anwar. “Kami pernah bermain badminton bersama, dan beliau kalah. Tapi beliau tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita ialah dunia Chairil setelah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Akhir Hidup Chairil Anwar
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akhir gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum beliau bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, beliau sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda lantaran penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.




15 Alasan Kenapa Chairil Anwar Lebih Keren Daripada Kamu

1. Chairil Tahu Gimana Caranya Deketin Cewek — Biarpun Dia Jarang Mandi.


Sepanjang hidupnya, Chairil dikenal ugal-ugalan. Matanya merah gara-gara jarang tidur, bajunya kusut lusuh, tubuhnya amis lantaran jarang mandi, tapi jangan salah — beliau selalu bisa membuat cewek-cewek tergila-gila. Tercatat nama Dien Tamaela, Sri Ajati, Ida, Tuti, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini dalam persembahan puisi-puisinya, meskipun balasannya ia kimpoi juga dengan ‘H’ alias Hapsah Wiraredja, seorang gadis asal Karawang.

2. Panggilan Sayang Chairil ke Istrinya Adalah ‘Gajah’.
Penyair sih penyair, tapi Chairil anti ngegombalin cewek dengan panggilan yang manis-manis. Hapsah Wiraredja yang sempat menjadi istrinya, misalnya, dipanggilnya ‘Gajah’ lantaran mempunyai badan yang bongsor.

3. Anak Chairil Mengenal Ayahnya Lewat Cara Yang Mencengangkan.

Ada satu dongeng unik ihwal Chairil dan putrinya, Evawani. Chairil wafat dikala Eva masih berusia 1 tahun 10 bulan, dan semenjak itu Eva diasuh oleh ibunya. Evawani gres mengetahui bahwa beliau anak Chairil Anwar waktu kelas III SD, setelah gurunya menunjuk foto penyair itu di sebuah buku sastra sambil berkata: “Eva, ini namanya Chairil Anwar, ayah kamu.”

4. Dia Super Anti-Mainstream.

Salah satu alasan Chairil sering disebut sebagai penyair terbaik yang pernah hidup ialah lantaran beliau mengubah selamanya wajah sastra dan bahasa Indonesia. Di tengah popularitas puisi dan gaya bicara Melayu yang mendayu-dayu, Chairil tampil dengan gaya yang galak dan gagah. Waktu umurnya gres 21, misalnya, beliau sudah populer dengan kata-kata ini:
Kalau hingga waktuku /
Ku mau tak seorang pun merayu /
Tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu!
…yang bahwasanya ialah cara lain untuk bilang: “Bitch please, gak usah nangisin gue kalau ntar gue mati.”

5. Dia Adalah Alasan Kenapa Pelukis Affandi Berpoligami.

Sudah diam-diam umum kalau Chairil suka “jajan” di banyak sekali tempat pelacuran. Suatu hari, setelah selesai “jajan” di daerah Senen, Jakarta, Chairil sadar bahwa beliau lupa bawa dompet. Akhirnya beliau serahkan sebuah kertas berisi alamat ke si Mbak PSK. “Besok tiba saja ke alamat ini untuk bayarannya,” katanya. Alamat itu ialah alamat rumah maestro seni lukis Indonesia, Affandi, yang memang sering dijadikan tempat Chairil menumpang.

Esoknya, Mbak PSK itu tiba ke rumah Affandi untuk menagih uang. Yang mendapatkan si Mbak PSK itu – celakanya - ialah istri Affandi, Maryati. Maryati pun murka besar lantaran menduga Affandi menyeleweng.

Biarpun balasannya Chairil tiba dan menjelaskan duduk duduk masalah yang sebenarnya, istri pelukis itu tetap curiga pada suaminya. Akibatnya, kekerabatan Maryati dan Affandi yang tadinya serasi menjadi runyam. Maryati pun merasa bahwa ia sudah “tidak cukup” lagi untuk suaminya — bahwa mungkin lebih baik kalau Affandi punya istri lagi.

Affandi menolak mentah-mentah proposal Maryati. Tapi istrinya bersikeras; perempuan itu percaya bahwa itu satu-satunya cara biar dirinya bisa tenang. Akhirnya, Affandi pun menikah dengan Rubiyem – seorang perempuan yang diusulkan Maryati – dan dikaruniai tiga anak dari ijab kabul keduanya itu.

6. Dia Adalah Alasan Kenapa Kalimat ‘Bung, Ayo Bung!’ Makara Terkenal.

Suatu hari, Bung Karno menugaskan pelukis Affandi membuat poster untuk menyemangati para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika gambar sudah selesai dan Affandi kebingungan memikirkan slogan yang tepat, Chairil pun menyambar: “Tulis saja ‘Boeng, Ajo Boeng!’” Kalimat ini pun jadi populer sebagai pembakar semangat usaha melawan penjajahan.

7. …Dan Kalimat ‘Boeng, Ayo Boeng!’ Itu Dia Comot Dari Para Pelacur Di Daerah Senen.

Sebenarnya, ‘Boeng, Ajo Boeng!’ ialah kalimat yang dipakai para pekerja seksual di daerah Senen untuk mengatakan servis mereka ke para laki-laki yang kemudian lalang.

8. Dia Adalah Keponakan Perdana Menteri Pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.

 “Sebenarnya Chairil ini harus dimintakan maaf atas segala perbuatannya,” Boeng Ketjil, yang masih paman dari Chairil, berpidato di upacara pemakaman keponakannya itu di bulan April 1949.

“Tetapi, tolak ukuran kita yang biasa tak sanggup dipakai untuk [menilai] dia.”

9. Dia Menjadikan Anak Gadis Seorang Pemilik Toko Buku Pacarnya Supaya Bisa Baca Buku Gratis.

Chairil populer di kalangan teman-temannya sebagai pencuri buku yang ulung. “Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang kini jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan Van Dorp. Chairil dan saya suka mencuri buku disitu,” kenang sutradara film Nagabonar, Asrul Sani.

Chairil akan memasukkan buku-buku itu ke dalam baju singlet atau kantong celananya yang memang gombrong. Chairil juga pernah mendekati anak gadis seorang pemilik toko buku cuma supaya bisa berlama-lama membaca di toko itu, dan supaya kalau tertangkap berair mencuri tidak dimarahi.

10. Dia Nggak Butuh Bikin Puisi Super Panjang Untuk Membuktikan Bakatnya Yang Luar Biasa.
Hampir semua puisi Chairil selesai dalam 10 hingga 15 baris. Baru di zaman W.S. Rendra, pembuatan puisi-puisi panjang jadi fashionable lagi di khazanah sastra Indonesia.

11. Walaupun Plagiat, Dia Tetap Dihormati.

Beberapa puisi Chairil diketahui merupakan hasil saduran dari beberapa penyair Barat. Yang paling kentara mungkin puisinya ‘Krawang – Bekasi’, yang menyerupai banget sama ‘The Young Dead Soldier’ karya Archibald Macleish. Dugaan plagiasi pertama kali diutarakan oleh H.B. Jassin dalam tulisannya yang berjudul ‘Karya Asli, Saduran, dan Plagiat’ di Mimbar Indonesia.

Biarpun begitu, bahkan Jassin sendiri tidak menyalahkan Chairil. Sebaliknya, Paus Sastra Indonesia tersebut malah berkata tetap ada ‘rasa khas Chairil’ di dalam ‘Krawang-Bekasi’.

12. Dia Fasih Bicara Dalam Empat Bahasa.

Meskipun putus sekolah, Chairil lancar berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Indonesia — hingga ia bisa menerjemahkan dengan sangat baik karya-karya sastra dari masing-masing bahasa.

13. Dia Adalah Penyair Indonesia Pertama Yang Karyanya Dimuat Di Majalah Sastra Luar Negeri.

Karena tema dan tata bahasanya lebih “Barat” dibandingkan penyair-penyair Indonesia lain pada zamannya, Chairil menjadi penyair pertama yang karyanya diterjemahkan dan dimuat di majalah sastra luar negeri — tepatnya majalah Amerika Prairie Schooner edisi musim panas tahun 1962.

Komentar kritikus sastra berkebangsaan Amerika Burton Raffel: “At its glowing best, this is brilliant writing: touched at times with macabre elements, and at other times with fierce sentimentality.”

14. Dia Memberikan Bukunya Judul-Judul Yang Paling Badass.

 ‘Kerikil Tajam dan Yang Terampas Dan Yang Putus’.
‘Tiga Menguak Takdir’.
‘Deru Campur Debu’.

Bandingin sama judul-judul buku yang beredar jaman sekarang:
‘Kitab Antibangkrut’.
‘Dear Zarry’.
‘Udah Putusin Aja’.

15. Dia Mati Muda – Di Umur 26 – Tapi Sampai Sekarang Orang-Orang Masih Mengenangnya.
Chairil wafat sebagai seorang twenty-something, mungkin malah nggak lebih bau tanah dari kau sekarang. Biar begitu, 70 puisinya akan memastikan bahwa beliau akan terus dikenang.

Sekarang, kita memperingati haul kematiannya di tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional. Dan sekarang, kalau kau ketemu foto Chairil di buku SD/SMP/SMA adik atau anakmu, kau bisa bercerita banyak ke mereka ihwal kisah hidup nyeleneh penyair itu, ‘kan?

Sumber :
http://profil.merdeka.com/indonesia/c/chairil-anwar/

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini