Profil Pengusaha Chrsant Candra Putra
Definisi pengusaha muda menempel Chrsant Candra Puspa. Wanita yang membangun UKM gado- gado export hingga Tingkok. Dulunya beliau memulai perjuangan UKM kerajinan eceng gondok. Kaprikornus bagaimana kisahnya bermula. Beberapa tahun yang kemudian beliau sama tidak menyangka akan menjadi pengusaha.
Bayangan menjadi pengusaha muda tidak terlintas. Awalnya Chrysant bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan, Surabaya. Iseng- iseng beliau mengikuti training menciptakan kerajinan eceng gondok. Tepatnya di Gunung Anyar bersama kelompok tani setempat. Tidak ada perasaan enggan dikala perempuan ini memulai berguru berwirausaha.
Chrsant beberapa kali mengikuti training tersebut. Kemudian pengusaha muda ini mempraktikan itu sendiri di rumah. Satu tahun memperdalam pengetahuan akan kerajinan eceng gondok. Barulah beliau berani memasarkan kerajinan buatannya sendiri.
Kapan beliau membangun UKM gado- gado export hingga Tingkok. Perjalanan Chrsant masih berlanjut dengan eceng gondok. Pengusaha muda asal Surabaya ini mulai memasarkan produknya. Yang mana mencakup aneka vas bunga, kawasan sampah, tas, hingga wadah antaran untuk pernikahan.
Mereka tiba ke rumah sekaligus workshopnya "Dana Diana", di Rungkut Manunggal, Surabaya. Ia mengaku usahanya mempunyai omzet mencapai Rp.25 juta. Uang tersebut lebih besar dibanding yang didapatkan dikala bekerja. Bahkan bisa memberdayakan tujuh ibu rumah tangga sebagai pegawai.
Menjalani wirausaha memang bukan masalah mudah. Tetapi menyenangkan bila anda sudah berani mendalami. Sekalinya anda sukses maka bisa berlanjut perjuangan lainnya. Chrsant tidak sendiri dikala menentukan berusaha kembali. Dia membuka perjuangan gres yakni UKM gado- gado yang laku manis.
Bermula dari kesukaanya akan masakan tradisional. Seperti gado- gado yang rasanya enak, tatapi itu belum dieksplor lebih lanjut. Kebetulan perempuan 32 tahun ini memang andal memasak termasuk sambal gado- gado. Itulah kenapa beliau menciptakan perjuangan gado- gado yang dikemas siap diantar.
"Saya kan punya warung gado- gado di rumah. Ternyata banyak orang yang bisa bumbu yang saya buat enak," ia menjelaskan alasannya.
UKM gado- gado yang kemudian diberi nama Gutde. Yang dipasarkan di Surabaya sampia ke luar kota. Pengalaman pertama mengemas ini bukan masalah gampang. Percobaan pertama beliau menggunakan kemasan plastik biasa. Tetapi usang kelamaan rasa bumbunya malah berubah ibarat rasa kemasan itu.
"Saya bungkus plastik ternyata gagal," terangnya, rasa bumbu malah tercampur dengan rasa kemasan itu.
Ibu dua anak ini terus mencoba mengutak- atik kemasan. Aneka cara dilakukan hingga menemukan satu kemasan yakni alumunium foil. Istri dari Sholeh, kemudian mengemas bumbu gado- gadanya dengan alumunium foil, yang kemudian dikemas lagi dengan kerta karton.
Hasilnya bumbu gado- gadonya tetap yummy meski disimpan lama. Untuk pemasaran cukup lewat media internat, dari sosial media Facebook dan Instagram, dan juga melalui chat lewat BBM dan WA. Produknya tidak hanya dijual di Surabaya, juga dikirim ke Malang, Kediri, Bogor, dan Jakarta.
Pernah mendapat pesanan dari Tiongkok tetapi belum jadi. Kenadala utama ya perijinan daripada gagal mending tidak perlu. Untuk sementara memperluas pasar dalam negeri melalui Facebook. Satu catatan bahwa beliau kini sibuk menjadi pembicara dan masih berjualan kerajinan eceng gondok.
Chrsant beberapa kali mengikuti training tersebut. Kemudian pengusaha muda ini mempraktikan itu sendiri di rumah. Satu tahun memperdalam pengetahuan akan kerajinan eceng gondok. Barulah beliau berani memasarkan kerajinan buatannya sendiri.
Kapan beliau membangun UKM gado- gado export hingga Tingkok. Perjalanan Chrsant masih berlanjut dengan eceng gondok. Pengusaha muda asal Surabaya ini mulai memasarkan produknya. Yang mana mencakup aneka vas bunga, kawasan sampah, tas, hingga wadah antaran untuk pernikahan.
Pengusaha Muda Gado- Gado
Chrsant orangnya tidak pernah puas akan pencapaian. Alhasil beliau kembali mengikuti aneka training kembali. Produk buatanya kini sangat dikenal masyarakat luas. Pelatihan juga menjadi caranya untuk memasarkan. Bahkan sesekali turis Jepang tiba untuk membawa produknya pulang.Mereka tiba ke rumah sekaligus workshopnya "Dana Diana", di Rungkut Manunggal, Surabaya. Ia mengaku usahanya mempunyai omzet mencapai Rp.25 juta. Uang tersebut lebih besar dibanding yang didapatkan dikala bekerja. Bahkan bisa memberdayakan tujuh ibu rumah tangga sebagai pegawai.
Menjalani wirausaha memang bukan masalah mudah. Tetapi menyenangkan bila anda sudah berani mendalami. Sekalinya anda sukses maka bisa berlanjut perjuangan lainnya. Chrsant tidak sendiri dikala menentukan berusaha kembali. Dia membuka perjuangan gres yakni UKM gado- gado yang laku manis.
Bermula dari kesukaanya akan masakan tradisional. Seperti gado- gado yang rasanya enak, tatapi itu belum dieksplor lebih lanjut. Kebetulan perempuan 32 tahun ini memang andal memasak termasuk sambal gado- gado. Itulah kenapa beliau menciptakan perjuangan gado- gado yang dikemas siap diantar.
"Saya kan punya warung gado- gado di rumah. Ternyata banyak orang yang bisa bumbu yang saya buat enak," ia menjelaskan alasannya.
UKM gado- gado yang kemudian diberi nama Gutde. Yang dipasarkan di Surabaya sampia ke luar kota. Pengalaman pertama mengemas ini bukan masalah gampang. Percobaan pertama beliau menggunakan kemasan plastik biasa. Tetapi usang kelamaan rasa bumbunya malah berubah ibarat rasa kemasan itu.
"Saya bungkus plastik ternyata gagal," terangnya, rasa bumbu malah tercampur dengan rasa kemasan itu.
Ibu dua anak ini terus mencoba mengutak- atik kemasan. Aneka cara dilakukan hingga menemukan satu kemasan yakni alumunium foil. Istri dari Sholeh, kemudian mengemas bumbu gado- gadanya dengan alumunium foil, yang kemudian dikemas lagi dengan kerta karton.
Hasilnya bumbu gado- gadonya tetap yummy meski disimpan lama. Untuk pemasaran cukup lewat media internat, dari sosial media Facebook dan Instagram, dan juga melalui chat lewat BBM dan WA. Produknya tidak hanya dijual di Surabaya, juga dikirim ke Malang, Kediri, Bogor, dan Jakarta.
Pernah mendapat pesanan dari Tiongkok tetapi belum jadi. Kenadala utama ya perijinan daripada gagal mending tidak perlu. Untuk sementara memperluas pasar dalam negeri melalui Facebook. Satu catatan bahwa beliau kini sibuk menjadi pembicara dan masih berjualan kerajinan eceng gondok.





0 Kometar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih