Rabu, 20 Maret 2019

Inilah Cerita Sukses Perusahaan - Thomas Effendy

Kisah sukses perusahaan produsen kaos kenamaan Ie-Be dan  Cablines yang berlambangkan tulang ikan bandeng ini yakni jerih payah seorang laki-laki berjulukan Thomas Effendy. Dalam merintis perjuangan pembuatan kaosnya, ia selalu diterpa kegagalan demi kegagalan. Namun, berkat kerja keras dan pantang mundur dalam melakoni usaha, ia berhasil menggapai keinginannya. Perusahaan yang memproduksi kaos-kaonya sangat diminati oleh para konsumen, terutama anak remaja. Akhirnya, kaos yang banyak mempunyai aneka warna dan desain yang unik ini menjadi salah satu ikon kaos buatan orisinil Indonesia.

Laki-laki yang dibesarkan di tempat Kalimantan Barat, tepatnya di kota yang dilalui garis katulistiwa, Pontianak ini yakni anak seorang pemilik warung kopi. Saat dia kecil termasuk anak yang jujur, periang, dan suka membantu sesama. Ia pin sering membantu orang tuanua melayani konsumen yang berkunjung ke warung kopinya. Beliau ternyata mempunyai daya juang yang tinggi dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Marilah kita bersama mengikuti kisah sukses perusahaan kaos Ie-Be yang dimotori oleh tokoh Thomas Effendy ini.  

 Cablines yang berlambangkan tulang ikan bandeng ini yakni jerih payah seorang laki Inilah  Kisah Sukses Perusahaan - Thomas Effendy
Thomas Effendy

Sukses meniti karier di sebuah perusahaan absurd tidak menciptakan niat Thomas Effendy untuk menjadi pengusaha jadi surut. Bersama adiknya, Thomas pun berjualan baju untuk orang gaul: ie-be dan CabLines.

Kalau Anda rajin jalan-jalan di sentra perbelanjaan, mungkin Anda pernah melihat konter kaus dengan merek ie-be. Ini yakni merek salah satu baju kaus produksi dalam negeri, menyerupai halnya C-59 atau H&R. Kaus yang berlogo tulang ikan ini biasanya mempunyai desain yang gaul dengan warna-warna cerah. Maklum saja, ie-be memang didesain sebagai kaus untuk anak muda yang gaul.

Saat ini, kaus ie-be boleh dibilang sudah cukup terkenal. Bahkan, penggemar kaus gaul itu tampak makin banyak. “Pasar kaus untuk anak muda dan anak gaul ini ternyata bagus,” ungkap Thomas Effendy, Presiden Komisaris PT Central Aneka Busana, produsen kaus ie-be. Makanya, jangan heran jika kini ie-be memasang gelar Clothing Indonesia Number One.Tapi, posisi wahid ini bukan dicapai dengan jalan mudah. Banyak duduk masalah yang harus dihadapi Thomas sebagai pendiri ie-be untuk membesarkan merek ini.

Thomas merintis perjuangan kaus pada tahun 1996. Saat itu Thomas memang ingin menjalankan sebuah bisnis. Hal ini bukan didorong alasannya yakni Thomas butuh penghasilan tambahan, lo! Soalnya, waktu itu Thomas sudah mempunyai jabatan empuk, yakni Assistant Vice President Finance Charoen Pokphand Indonesia.

Thomas mengaku sudah usang menyimpan impian untuk berwirausaha. “Saya memang sudah bertekad, pokoknya, saya harus jadi entrepreneur,” kenang laki-laki yang berasal dari Pontianak ini. Tak tahunya, niat yang menggebu-gebu tadi sulit dilaksanakan. Pasalnya, perusahaan tempat Thomas bekerja melarang karyawannya berbisnis.

Salah segmen pasar

Hanya, laki-laki kelahiran tahun 1958 ini tidak kurang akal. Untuk mengakali ketentuan itu, Thomas hanya memosisikan dirinya sebagai investor. Urusan operasional dan manajerial bisnis diserahkan kepada adiknya.

Kebetulan, sebelumnya si adik yang berjulukan Thomas Subekti bekerja di perusahaan pakaian dengan merek Hammer. Dus, sehabis sang adik keluar dari pekerjaannya, Thomas bersaudara pun mantap menjalankan bisnis.

Awalnya Thomas menyewa sebuah ruko di Penjaringan dan merekrut empat orang untuk membantu produksi. Modalnya, berdasarkan legalisasi Thomas, hanya beberapa juta rupiah. “Saya sudah lupa,” katanya. Dengan mengusung merek Cab Equipment, Thomas mulai berbisnis kaos. “Nama Cab itu abreviasi dari Central Aneka Busana, nama perusahaannya,” kenang bapak dua anak ini, terkekeh. Awalnya, Thomas mencoba masuk ke segmen pasar dewasa.

Saat itu, model jualan yang digunakan Thomas masih door to door. Thomas meminta pertolongan teman-teman dan kenalannya untuk menjual kaos bikinan mereka.

Malangnya, dewi fortuna belum berpihak pada Thomas. Baru setahun berbisnis, perjuangan Thomas sudah kena gonjang-ganjing krisis moneter. Saat itu daya beli masyarakat benar-benar rendah, sehingga Thomas kesulitan menjual produk yang telanjur dibikin.

Gawatnya lagi, bulan Mei 1998 terjadi kerusuhan besar. “Waktu itu bisnis saya sudah hampir mati,” tutur laki-laki yang kini menjabat sebagai Wapres Direktur Charoen Pokphand Indonesia ini. Kata Thomas, dikala itu produksi kausnya sempat benar-benar berhenti.

Si adik yang menjadi pengendali perusahaan pun semakin khawatir dengan kelangsungan bisnis. Maklum saja, demi menjalankan bisnis, Subekti hingga meninggalkan pekerjaannya. Namun, Thomas meyakinkan adiknya untuk bersabar dan tetap optimistis keadaan akan membaik.

Untunglah, tahun 1999 pabrik Thomas sudah mulai sanggup berproduksi lagi. Bahkan, tahun itu Thomas mulai memasarkan produk-produknya lewat department store. “Pertama kali kami masuk lewat Ramayana,” ujarnya.

Namun, bisnis Thomas belum juga berlangsung mulus. Sebabnya: Thomas menyasar segmen pasar yang salah. Dus, beberapa kali Thomas mengubah segmen pasarnya. Mulai dari segmen dewasa, menengah ke atas, hingga menengah ke bawah.Sukses gres dirasakan Thomas dikala meluncurkan merek baru. Pada tahun 2001, Thomas mengeluarkan baju kaus dengan merek Iwak Bandeng. Sejak awal, Thomas menyasar segmen anak muda dan anak gaul lewat merek ini. Rupanya, hoki Thomas memang di segmen ini. Merek Iwak Bandeng pelan-pelan jadi terkenal.

Kalau dirunut, Iwak Bandeng jadi populer alasannya yakni perjuangan Thomas untuk mempromosikan merek ini. Thomas tidak segan-segan menyewa artis top menyerupai Irfan Hakim, Raffi Ahmad, Nadia Vega, dan Alyssa Soebandono sebagai ikon kausnya. Thomas juga rajin membawa artis-artis tadi untuk roadshow keliling Indonesia demi memperkenalkan kausnya.

Selain itu, Thomas juga menyingkat nama Iwak Bandeng menjadi ie-be. Alasannya, “Supaya terdengar lebih gaul,” kata Thomas yang kini mempunyai 900 karyawan untuk garmen ini.

Biarpun ie-be sudah berenang dengan sukses, Thomas tidak melupakan merek Cab Equipment. Thomas mengubah merek tersebut menjadi CabLines, dan memasarkannya untuk segmen administrator gaul. Strategi ini sukses.Sekarang, Thomas bersaudara mulai memetik hasil jerih payahnya. Jualan door to door pun sudah tak lagi dilakoni. Saat ini, ie-be dan CabLines sudah sanggup ditemukan di enam gerai dan 439 konter di seluruh Indonesia.

Tetap Ingat Keluarga dan Kampung

Jangan menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya. Prinsip ini rupanya dipegang teguh oleh Thomas Effendy. Anak keenam dari sepuluh bersaudara ini selalu mengingat dari mana dia berasal dan keluarga yang telah membesarkannya. Lahir dari orangtua yang bekerja sebagai pemilik warung kopi menciptakan Thomas benar-benar mengerti apa arti kerja keras. Selain itu, Thomas juga sadar, walaupun dikala ini dia sukses sebagai profesional dan juga sukses berbisnis, tidak semua anggota keluarganya sanggup sesukses dia. “Artinya, rezeki saudara-saudara saya yang lain ada yang dititipkan lewat saya,” tutur Thomas.

Karena itu, bila ada anggota keluarganya yang kemalangan, contohnya sakit keras namun tidak punya cukup dana untuk berobat, Thomas tidak segan membantu saudaranya tersebut.

Selain itu, Thomas juga tidak pernah melupakan kota tempat dia dilahirkan, yaitu Pontianak. Dus, jangan heran jika dari enam gerai ie-be dan CabLines yang ada di Indonesia, tiga di antaranya, ternyata berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan,Thomas menentukan Pontianak sebagai lokasi gerai ie-be yang pertama. “Kalau bukan kita yang orang sana yang membangun dan membesarkan Pontianak, siapa lagi?” ujar dia. Wah, salut! (sumber: blogkage.wordpress.com)

Sukses meniti karier di bidang garmen tidak membuatnya lupa akan masa kecilnya yang dilaluinya dengan kerja keras. Ia sadar bahwa tidak gampang dalam meraih semua keberhasilan itu. Terlebih dahulu ia harus berjuang melawan kegetiran dalam merintis usaha, namun alasannya yakni sebuah cit-cita luhur, segera mungkin ia bangun untuk mengatasinya. Berbekal kesabaran dan pantang menyerah, akibatnya kesuksesan menerpa dirinya. Walaupun dikenal sukses, dia tidak segan untuk menolong sesama, apalagi terhadap keluarga. Contohnya saja ketika salah satu saudaranya mengalami sakit keras, namun tidak punya cukup biaya untuk berobat, maka secepatnya pengusaha sukses ini membantu biaya saudaranya. Sukses dan selalu berjaryalah Ie-be, semoga masyarakat Indonesia selalu menanamkan perilaku cinta kepada produk dalam negeri. Itulah kisah sukses perusahaan kaos ie-be dengan Thomas Effendy sebagai nahkodanya. Semoga sanggup menginspirasi, salam sukses selalu!

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini