Selasa, 19 Maret 2019

Kisah Sukses : Perjuangan Rumah Yogurt Bisnis Yogurt Modal Kecil 6 Juta

Profil Pengusaha Aditya Fajar


 meski telah mencapai kedudukan yang nyaman Kisah Sukses :  Usaha Rumah Yogurt Bisnis Yogurt Modal Kecil 6 Juta

Usaha Rumah Yogurt mempunyai dongeng unik. Bisnis yogurt yang bermodal kecil ini, cukup bermodal dongeng cinta Jakarta- Bandung. Pekerjaan kantor membuatnya jenuh, meski telah mencapai kedudukan yang nyaman.  Aditya Fajar ingin mengelola perjuangan rumah yogurt sendiri.

Dia pernah berkerja sebagai marketing di salah satu perusahaan di Jakarta. Dari bisnis, beberapa kali bangkrut, Adit tertatih bangun berbisnis lagi dan lagi. Di ujung fajar, ia mendapat hidayah berbisnis yogurt sebagai perjuangan sampingan.

Kisah cinta membawa Aditya Fajar, laki-laki kelahiran Jakarta, hingga ke kota Bandung, Jawa Barat, ke rumah pujaan hatinya. Dia menemukan wangsit bisnis tersebut disini, saat telah membina rumah tangga sendiri. Dia yang pindah dari Jakarta ke Bandung, menentukan resign kerja dan memulai usaha.

"Sekitar 2008, pasca pernikahan, aku memulai bisnis ini," kenangnya

Bisnis Yogurt Modal Kecil 6 Juta


Awalnya Adit cuma ingin memberdayakan ibu sekitar rumah. Dia berpikir daripada mereka sibuk hanya menonton sinetron, kenapa tidak membantunya menjalanka perjuangan sendiri. Ini bukan perkara gampang loh, Adit memulai tanpa tau seluk beluk cara pembuatan yogurt.

Dia berharap melalui mengikuti training mandiri, akan membuatnya bisa andal bikin yogurt. "Saya kursus menciptakan yogurt 1,5 tahun dari teman saya, orang perancis. Memang tidak mudah, aku pun awalnya sering mengalami kegagalan," ungkapnya berkisah.

Membuat yogurt tidak bolah sembarang atau akan bermetamorfosis racun. Bisnis ini merupakan bisnis sehat butuh kemahiran khusus di setiap prosesnya. Adit telah mencicipi sendiri susahnya menyiapkan bisnis barunya ini.

Saat itu, yogurt buatanya diberi nama delicieux dipasarkan melalui sistem bagi hasil. Pelan tapi niscaya bisnisnya mulai bangkit. Peminat yogurt miliknya mulai bertambah, tak mau lekas puas; Adit beserta istrinya, Tarie, membuka kedai kecil khusus menjual yogurt produksinya.

Namun tidak selalu nasib baik, usahnya mengalami kebangkrutan. Apa salahnya? Adit berkesimpulan bisnis miliknya tidak menutupi biaya operasional atau over budgeting. Konsep bisnis bagi hasil yang dijalankan kurang mendapat sokongan hingga tombok.

"Tahun 2009, aku dan istri hasilnya pindah ke Jakarta. Bukan hanya itu, aku pun membawa pindah bisnis itu ke Jakarta dengan nama gres Rumah Yogurt," ucapnya

Pengusaha Haru Gagal


Kegagalan menciptakan Adit mencar ilmu banyak, bagaimana memperbaiki semua ihwal bisnis, dari produksi hingga finansial. Hingga akhirnya, cahaya sukses itu tiba menghampiri. Dia memutuskan keluar dari kerja, menentukan fokus hanya pada bisnis yogurtnya.

"Saya keluar kerja berarti penghasilan nol. Saya bertekat mebangun bisnis yogurt ini dari nol lagi, waktu dan pikiran aku akan banyak habis mengurusi bisnis ini meski modal seadanya, 2 juta rupiah," ucap Adit berapi- api.

Otomatis ia pengangguran berharap kepada tidak kepastian. Bayangkan ia tidak menghasilkan uang sama sekali. Malahan ia harus merogoh kocek 2 juta untuk tambahan. Pilihan keluar dari pekerjaan berarti tidak adanya penunjang hidup.

Itu juga berarti tidak adanya pendukung dalam berbisnis. Ya, secara matematis tidak ada lagi modal selain uang 2 juta rupiah ditanganya, bahkan kalau terbentur duduk perkara lagi, yah, ia resmi melarat kembali. Adit hanya bermodal ketekunan serta pantang menyarah membangun dari yogurt dari nol.

Semenjak resign kerja, untuk menjalankan usaha, Adit merasa bisa lebih fokus daripada sebelumnya. Kini, meski gres seumur jagung, bisnisnya mulai mengatakan arahnya. Dia berkata untungnya sudah bisa mencapai 6 jutaan sekarang.

Meski masih tergolong industri rumah tangga, tapi ia merasa uang itu bisa menutupi keputusannya. Dia merasa uang satu bulan enam juta sama dengan gajinya selama tiga bulan. Bahkan ia sambil bercanda "Bisa dikerjakan sambil tiduran," selorohnya tertawa.

Pemasaran sekitar Jakarta terus ditingkatkan, hingga bisa mengahasilkan lebih dari 150 cup per- hari. Dia yakin terus berusaha menyebarkan pemasaran. Yogurt yang dijual seharga 6.000 itu sudah memanggil tidak hanya pelanggan dari Jakarta tapi juga Bandung dan Bekasi.

"Mudah- mudahan, aku bisa menyebarkan bisnis ini menjadi besar. Karena bagi saya, tidak ada pilihan selain sukses!" tutupnya

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini