Minggu, 17 Maret 2019

Inilah Sylvester Stallone

Meskipun kini ketenaran Sylvester Stallone sudah memudar, di abad 80an dan 90an ia termasuk salah satu pemeran papan atas. Film-filmnya sukses dan meraup laba jutaan dollar.

Ia pun menjadi salah satu pemeran berkelahi Hollywood yang punya fans di seluruh dunia berkat filmnya ibarat Rocky, Rambo, Over the Top, dll. Tapi tahukah Agansista betapa berat perjuangannya?

1. Kecacatan Sejak Lahir
Sejak awal lahirnya saja, Sly, begitu panggilannya, sudah mengalami masalah. Ibunya mengalami kesulitan ketika melahirkannya, sehingga memaksa dokter untuk memakai sebuah alat berjulukan forcep.


Akibat kesalahan penggunaannya, terjadi sedikit keanehan di wajah Sly. Bagian bawah sisi kiri wajahnya lumpuh, termasuk bibir, lidah, dan dagunya. Tetapi keanehan ini justru menjadi ciri khasnya ketika ia ngetop.

2. Korban Bully dan Makara Anak Nakal
Saat di usia sekolah, Sly termasuk anak yang sering dibully alasannya badannya yang kecil dan ceking. Karena itu ia terpacu untuk membesarkan tubuhnya melalui latihan-latihan berat. Untuk menghemat ongkos, ia berlatih di daerah pembuangan besi tua, dengan memakai bagian-bagian rangka kendaraan beroda empat dan mesin sebagai barbelnya.


Di sekolah sendiri, nilai nilainya selalu jeblok. Setelah tubuhnya jadi gede, ia berubah jadi pembangkang dan mulai suka berantem, bolos, main panah-panahan, mengerjai guru dll. Hal ini mengakibatkan ia harus pindah sekolah sebanyak 16 kali! Uniknya, ia tetap bertahan untuk melanjutkan sekolah hingga lulus.

3. Hidup Miskin
Saat berusia dewasa, Sly mulai tertarik dengan karir di dunia akting. Ia sempat main di beberapa drama teater. Tapi tugas yang ia dapatkan hanya peran-peran sampingan. Di masa ini Sly mencoba membiayai hidupnya secara mandiri, sambil menunggu keberuntungan tiba kepadanya. Ia pernah bekerja serabutan sebagai penjaga bioskop, pembersih sangkar singa (dan sempat dipipisin singa).


Saking miskinnya, ia terpaksa mendapatkan ajuan bermain dalam sebuah film mesum berjudul “The Party at Kitty and Stud” (yang kemudian juga dikenal dengan judul “Itallian Stallion”). Saat itu Sly memang hanya punya dua pilihan, mendapatkan ajuan itu, atau merampok semoga bisa makan.

Sebegitu miskinnya sampai-sampai ia tidak bisa membeli masakan untuk anjingnya yang berjulukan Butkus. Saat itu istrinya pun sedang hamil. Keadaan miskin ini menciptakan Sly harus menjual Butkus di sebuah toko. Ia berdiri usang di depan toko itu bersama Butkus. Berharap ada orang yang mau membeli dan merawat Butkus. Hal ini terjadi bukan alasannya Sly ingin mendapatkan uang dari penjualan Butkus, melainkan alasannya ia sendiri sudah tak bisa lagi merawatnya. Akhirnya Butkus terjual seharga $35.

4. Inspirasi
Saat Sly menonton pertandingan tinju antara Muhammad Ali dan Chuck Wepner, ia sangat terinspirasi oleh latar berlakang cerita pertarungan tinju itu. Ali ialah seorang juara dunia sedangkan Wepner hanyalah petinju papan bawah. Tetapi semangat Wepner untuk pertanda dirinya, menciptakan ia sanggup bertahan melawan Ali dan memukul jatuh juara dunia itu di ronde 9. Ali kemudian bangun dan menghajar Wepner hingga luka parah dan TKO di ronde 15.

Berdasarkan pertarungan ini, Sly mendapatkan inspirasi untuk menulis cerita perihal Rocky. Seorang petinju papan bawah yang hidup miskin dan harus menjadi debt collector. Tetapi hatinya baik dan banyak disukai orang. Rocky mendapatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya ketika juara dunia berjulukan Apollo Creed mencari lawan tanding untuk menggantikan lawan sesungguhnya yang mengalami kecelakaan.

Sly menulis script ini dalam satu malam saja sehabis selesai menonton pertandingan Ali-Wepner. Istrinya yang sedang hamil membantunya mengetik naskah itu. Setelah selesai, Sly menawarkannya ke beberapa studio. Ada produser yang tertarik untuk membeli naskah itu seharga $350.000. Tetapi Sly menolaknya ketika ia tahu bahwa sang produser tidak ingin memakai Sly sebagai bintang utama. Padahal Sly ingin menjadi bintang utama di film ini.

Tawaran ini kemudian ditolaknya padahal ketika itu istrinya sedang hamil dan mereka benar-benar butuh uang. Di sinilah kepercayaan diri dan ketabahannya mulai diuji. Tetapi Sly yakin banget terhadap kemampuan dirinya. Ia tahu bahwa ia bisa memerankan Rocky dengan baik. Ia tahu bahwa naskah filmnya ini anggun banget dan bakalan sukses.

Karena itulah ia bersabar di dalam kemiskinannya. Bertahan di dalam segala kesulitan, alasannya ia yakin akan dirinya sendiri. Di masa-masa ini, Sly dan istrinya harus bertahan hidup dengan segala cara dan upaya, padahal ajuan untuk membeli naskah itu dengan harga mahal terus berdatangan. Tetapi Sly tak ingin menjualnya jikalau ia tidak diijinkan bermain sebagai pemeran utamanya.


5. Perubahan
Nasib baik hasilnya tiba juga. Ada produser yang oke untuk mengijinkan Sly menjadi bintang utama di naskah itu, tetapi sebagai kompensasinya, harga naskah itu menjadi jauh lebih murah dari penawaran manapun. Sly pun dibayar dengan sangat murah.

Meskipun begitu, Sly tetap berusaha profesional dan pertanda bahwa orang-orang telah melaksanakan kesalahan dengan meremehkan dirinya. Film Rocky kemudian berhasil diselesaikan dan meraup laba yang sangat besar dari modal yang sangat kecil. Nama Sly mulai dikenal dunia dan kehidupannya pun perlahan-lahan membaik.

Film Rocky sendiri menerima penghargaan sebagai film terbaik dan naskah terbaik di ajang Oscar, Sly pun menerima nominasi sebagai pemeran terbaik. Di sini ia pertanda bahwa keteguhan, ketabahan untuk bertahan, serta kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.

6. Sukses Pun Datang Pada Akhirnya
Ketika ia mendapatkan bayaran dari naskah Rocky, hal yang pertama dibeli Sly ialah Butkus, anjing kesayangannya. Ia menanti selama 3 hari di depan toko daerah ia dulu menjual Butkus, berharap untuk bertemu dengan pembeli anjingnya itu. Ketika hasilnya ia bertemu dengan orang itu, ternyata orang itu tak ingin menjual Butkus kepadanya. Dengan sepenuh hati Sly memohon dan memohon, mengatakan harga puluhan kali lipat lebih tinggi dari harga awalnya. Ia hasilnya berhasil membeli Butkus kembali seharga $15.000, meskipun hal itu mengurangi jatah bayaran skripnya yang sangat besar.

Sly menjadi sangat sukses di Hollywood dan menjadi pemeran papan atas berkat film Rocky. Ia kemudian bermain di banyak film, salah satunya “Rambo” yang membuatnya jauh lebih populer lagi. Karirnya sangat kinclong di tahun 80 dan 90an untuk kemudian sangat meredup di tahun 2000an. Tetapi ia tetap sabar dan sabar serta berusaha untuk kembali menciptakan film berkualitas. Hal ini terbayar dengan suksesnya serial Rocky yang ke 6, dan serial Rambo ke 4. Ia juga menciptakan The Expendables yang tidak mengecewakan sukses.


Sylvester Stallone ialah teladan eksklusif yang tabah, percaya kepada diri sendiri, serta sabar. Jika salah satu saja dari ketiga unsur ini hilang, dipastikan ia tak akan sesukses sekarang. Kisah ini bisa kita jadikan pelajaran di dalam hidup kita sendiri. Bahwa meskipun ketika ini kehidupan kita masih belum membaik, kita harus selalu tabah, percaya diri, dan sabar. Suatu ketika nanti, kesempatan baik itu akan datang, dan kehidupan akan membaik.
Terus berjuang!

sumber : http://www.kaskus.co.id/post/55b095da9e74048b5a8b456a#post55b095da9e74048b5a8b456a

0 Kometar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini