Selasa, 12 Maret 2019

Inilah Pelukis Palet Ekspresionis Kontemporer


Suwandi, yang sekarang lebih dikenal sebagai MS Wawan, seorang pelukis hebat dari Jember, yang sudah melaksanakan festival di empat benua di dunia, tak pernah menyangka nasibnya sebagai pelukis akan menyerupai ini. Mantab menjadi pelukis semenjak masih duduk di dingklik SMP, MS Wawan harus mendaki bukit terjal untuk mencapai kesuksesannya ketika ini. Masa kemudian Wawan penuh dengan ikhtiar dan keprihatinan. Dibesarkan oleh kakek dan nenek di Kota Malang, alasannya orangtua sudah meninggal dunia, membuatnya menjadi seorang anak yang pendiam dan tertutup. Sejak, masih kanak-kanak Wawan erat dengan kesunyian. Dia bahagia menyendiri dan merenung sendiri. Untuk ukuran anak lelaki, sifat Wawan bisa jadi sentimental layaknya anak perempuan. Dia bisa mendiamkan sahabat lelakinya hanya alasannya sakit hati melihat sang sahabat berpelukan mesra dengan orangtuanya. Rasa sakit yang mengiris hatinya kolam sembilu itu alasannya Wawan tak pernah mencicipi sentuhan ayah dan ibunya. Yang beliau tahu, beliau hanya anak yatim-piatu yang dibesarkan oleh kakek-nenek dan hidup bersama saudara-saudaranya. Hidup dalam keterbatasan, yang menciptakan beliau mulai termotivasi untuk mencari nafkah semenjak masih kanak-kanak. Di dingklik sekolah dasar, di Malang, beliau menentukan menjadi penjual es. Dia jual ke teman-temannya untuk menambah uang saku ke sekolah.

Berlanjut ke SMP, Wawan menentukan menjual kacang permen. Di masa Sekolah Menengah Pertama ini, beliau mulai menunjukkan ketertarikan yang sangat pada dunia melukis. Bakat itu memang ada semenjak beliau masih kecil, hanya tak terlalu menarik minatnya. Di dingklik SMP, beliau melukis wajah kakek dan nenek salah seorang temannya dalam bentuk sketsa. Karena keterbatasan bahan, waktu itu beliau tidak memakai pensil ketika menciptakan sketsa. “Saya memakai bekas baterai,” katanya. Komponen baterai memang memakai abu karbon yang berwarna hitam. Bubuk itu, beliau keluarkan dari baterai, dan beliau gunakan sebagai alat pengganti pensil. Itu pertama kalinya beliau melukis dan langsung mendapatkan bayaran. “Itu uang pertama dari lukisan. Dan saya gembira sekali,” katanya. Kejadian menggembirakan itu ialah tonggak pertama, beliau mulai berpikir untuk mencari nafkah dari melukis. Dia sudah memantabkan diri untuk menjadi seorang pelukis. Hanya saja, karirnya untuk menjadi seorang pelukis tak bisa langsung beliau wujudkan. Dia masih diharuskan untuk melanjutkan sekolah di dingklik SMA. Sambil terus melukis, beliau kembali berjualan. Kali ini, beliau menentukan menjadi penjual koran, majalah, dan buku TTS di Stasiun Tugu Yogyakarta. Setiap hari beliau menumpang kereta yang melaju di jalur Solo-Klaten-Yogyakarta-Kutoarjo. Begitu terus setiap hari. Di sela-sela menjual koran, majalah, dan buku TTS itu, rahasia Wawkat mengasah talenta lukisnya. Dia memakai aneka kardus yang sisa bungkus barang-barang yang bergeletakan di stasiun sebagai media gambarnya. Dia tentu saja tak bisa dengan gampang membeli kertas gambar. Mahal dan niscaya akan menghabiskan uang hasilnya bekerja. Dari kardus-kardus bekas itu, beliau melukis seorang anak, seorang kakek, seorang ibu, hiruk pikuk stasiun.

Awal yang mendekatkannya pada potret kehidupan anak manusia. Lulus dari Sekolah Menengan Atas Jetis Yogyakarta, beliau mantab melanjutkan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Masuk ke sekolah seni beliau menerima saingan dari kakaknya. Masa depan seniman ketika itu kerap menciptakan orang mengerutkan keningnya ketika anak sanak saudara atau anak mereka memilihnya menjadi gantungan nafkah. “Mau jadi apa kau kalau jadi seniman lukis. Itu kata abang saya. Masak kau nggak ingin menjadi dokter. Itu kan lebih enak. Masa depan terjamin,” katanya menirukan provokasi sang kakak. Secara terus menerus, sang abang terus memprovokasi Wawan untuk mengubah cita-cita menjadi pelukis. Sang abang terus menerus menekankan bahwa menjadi dokter atau pegawai akan membuatnya hidup makmur.

Wawan hanya bisa menghela napas panjang. Dengan pelan, beliau berusaha memberi pengertian kepada sang kakak. Tentu, beliau tak ingin sang abang sakit hati. Karena kakaklah yang merawat beliau sebagai pengganti orangtua. “Saya bilang, Kak, selama ini pernahkah saya menolak saran dan hikmah kakak. Tolong, sekali ini biarkan saya menempuh jalan hidup saya sendiri,” katanya. Tak ada kesepakatan. Yang ada hanya pembiaran dan perilaku diam. Sang abang menentukan tidak menegurnya ketika Wawan nekat melanjutkan pendidikannya di ASRI. Melanjutkan mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang pelukis. Tiga kali hari raya kakaknya tak menegurnya. Tapi, usang kelamaan keluarga bisa mendapatkan dirinya sebagai seorang pelukis. Perjuangannya yang tak tanggung-tanggung menciptakan beliau sukses menjadi seniman lukis.

Wawan sudah festival di 26 negara. Pertama kali festival diluar negeri, beliau sudah mengunjungi Berlin, Belgia, Rotterdam, Amsterdam, dan Brussel, serta beberapa negara lain. Bulan Juni nanti, beliau kembali akan melangsungkan festival di Menara Jamsostek Jakarta, Yogyakarta, Nusa Dua Bali, Kyoto Jepang, Singapura, dan Putra Jaya Malaysia. Pameran, bagi seorang seniman sangat mutlak diperlukan. Wawan menilai seniman itu harus konsisten untuk pameran. “Selain untuk menambah wawasan dan untuk menunjukkan inilah karyaku, festival itu untuk menambah poin kharismanya. Sebuah titik awal menjadi maestro,” katanya. Pameran di banyak sekali negara juga sangat menguntungkan pelukis tanah air alasannya menambah kemajuan bagi karya mereka. Berbeda dengan seniman di Indonesia yang kadang kelewat eksklusif, seniman mancanegara justru lebih bersahabat dengan sesama seniman. Ada sharing pengetahuan dan teknik melukis, ada rasa saling isi mengisi. “Beda jauh, kalau seniman luar negeri mereka lebih friendly. Akhirnya, kami bisa saling isi mengisi,” katanya.

Di Jember, seniman masih terikat dengan teori. Bagi Wawan itu menghambat seorang seniman untuk lebih maju. Seniman hanya karam dalam idealisme tapi tak kunjung berkembang. “Kalau teori sudah hingga Pluto, tapi orangnya masih di Jelbuk. Padahal, kalau mau lebih maju, niscaya bagus,” katanya. Untuk hingga ke festival di banyak sekali negara, selepas dari ASRI Yogyakarta, beliau masih harus magang di seorang maestro Belanda, yang sekarang tinggal di Bali. Di sana, beliau terus mengasah kemampuan melukis, sekaligus kepekaan sebagai seorang seniman. Kini, karya-karyanya sudah banyak dipesan oleh kolektor dengan pasaran sekitar Rp 40 juta ke atas. Bahkan ada sebuah karya yang sudah ditawar Rp 120 juta. Karya itu beliau beri nama Bamboo Village. Tak usang untuk menciptakan sebuah lukisan. Wawan juga tak percaya dalam proses berkreativitas, seorang seniman tergantung pada mood. “Oh saya tak percaya itu. Seniman ya seniman, mau suasana kacau, tenang, berisik, harusnya ya tetap bisa berkarya,” katanya. Dia sendiri merasa ada hutang ide bila beliau tidak segera menuangkan ide-idenya dalam sebuah karya lukis.

Untuk ide, beliau juga mengaku tidak tergantung mood. Ide bisa tiba dari mana saja. Bahkan, pertemuan dengan seorang perempuan muda Tiongkok ketika beliau berada di Shan Dong, bisa menjadi sumber inspirasi. Awalnya hanya say hello, berlanjut dalam hubungan pertemanan, balasannya perempuan muda itu bersedia menjadi modelnya. Sungguh gampang bukan, asal ada niat disitu niscaya ada jalan. “Berkarya dengan memakai otak yang diciptakan Tuhan, itu sungguh tak terbatas. Bukan alasannya mood, mood bisa dikendalikan asal kita sungguh-sungguh menjalani dengan sepenuh hati,”pungkasnya.

Sumber : sosok.kompasiana.com

2 Kometar:

permisi min numpang share ya :)
Hayyy guys...
sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^

KEtemu MS Wawan di Bakso Maestro GDC DEPOK...bener apa ga ya?

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini