Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada dalam genggamannya, ia justru tetapkan pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar mancanegara? Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan indah menyerupai mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat sosialita New York. Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah, ramah dan cekatan itu, menerima julukan Suarti Perak Bali. Namanya makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai desainer perhiasan perak melanglang hingga ke London, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini.
Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah berkibar di mancanegara seiring perannya membeli perusahaan perak Kanada, Bali Inc. Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin produksi supaya para tukang peraknya menuntaskan order sempurna waktu. “Waktu penyelesaian menjadi hambatan terbesar dalam menuntaskan pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini dibutuhkan Suarti bisa meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan. Sementara pemasaran, Suarti semenjak awal memfokuskan diri menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah dibinanya dikala masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS, Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel produk saya serahkan sepenuhnya pada kawan bisnis,” ujarnya. Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan undangan perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu laba yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.
Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design Centre, yang dikala ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan idenya. “Saya tetap memperlihatkan makna dan jiwa pada setiap produk yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya. “Tanggung jawab desain dan memperlihatkan jiwa pada setiap produk Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan wangsit mengingat begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya. Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang bergaya tropis, menghadap eksklusif ke maritim lepas di Desa Ketewel, Gianyar, Bali.
Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350 tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-Juli, yang menghabiskan materi baku hingga mencapai tidak kurang dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan banyak sekali bebatuan. Selain memenuhi pesanan kawan bisnis wholesale-nya, secara rutin setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang, kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk cincin, sedangkan kalung US$ 350. Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per bulan dengan margin laba rata-rata 30%. Pemasaran produk Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari kawan bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,” ungkapnya bersemangat.
Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu bersemangat melaksanakan perjalanan lantaran baginya tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya digunakan untuk memajang pola produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia menentukan tidak mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya kawan bisnis yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris, Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata bisa memberi pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun. Karakteristik pembeli di negara maju, berdasarkan Suarti, sangat simpel ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai kesepakatan dan bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya. Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak hanya memproduksi perhiasan berbahan baku perak. Saat ini tidak kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti menyerupai Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold, Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu (koperasi).
Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa” dalam setiap produk yang dihasilkan ialah kunci keberhasilan Suarti mengekspor perhiasan perak ke mancanegara dengan omset puluhan miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya, Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, populer sebagai penari Arja yang juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah, Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10 tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali. Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa seakan-akan berada di nirwana dikala mulai membuat ukiran di atas kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu, menurutnya, lantaran sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah lantaran kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata mengundang kekaguman seorang editor populer dari New York, Mr. Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti.
Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar negeri pada 1972 dikala diajak bergabung oleh Anak Agung Gede Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat populer dikala itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut menari di Australia. Sejak dikala itu, perjalanan Suarti melanglang buana seolah tak terbendung. Apalagi sehabis ia diperistri Charles Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil berguru fashion. Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York School of Design.
Seiring perceraiannya sehabis 7 tahun menikah, Suarti tetapkan hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai menekuni dunia fashion dengan fokus mendesain dan membuat kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat di luar perkiraannya. Namanya berkibar sehabis ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang pengusaha populer yang juga pemilik gerai perhiasan populer di Fifth Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para desainer populer di seluruh dunia.
Kiprah bisnis Suarti makin menjadi dikala dirinya dipercaya mempunyai gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas dunia. “Aksesori saya bisa berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung filosofi dan bermakna sehingga mempunyai ‘jiwa’,” tambah peraih Kartini Award 2007 ini. Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang berdasarkan Suarti menjadikannya bisa menyejajarkan diri dengan para desainer perhiasan dunia lainnya yang secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya sehingga ia lebih simpel berekspresi untuk membuat suatu desain. Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga, menyerupai sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke pasar internasional seiring taktik pemasaran yang dikembangkannya lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah situs belanja dunia.
Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup usang berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham benar jikalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional. Sehingga untuk bisa menggunakan motif tertentu, perajin harus membayar sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten. Ancaman eksekusi dan penolakan dari negara pengimpor hasil kerajinan berdasarkan Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap pasang tubuh di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya leluhur kita. Jangan hingga di kemudian hari kita harus membayar pada pihak absurd untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti. Kepedulian Suarti untuk bisa maju bahu-membahu ditunjukkannya dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak wacana seluk-beluk bisnisnya mulai dari produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka, ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain mengajarkan wacana seluk-beluk desain, juga administrasi pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan melaksanakan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya.
Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti yang erat dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung mendidik eksklusif bila ada karyawan yang gres bergabung. Hal ini dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang eksklusif bergabung begitu lulus Sekolah Menengah kejuruan Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit menyebarkan ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang tidak punya latar belakang pengetahuan wacana perak, kini tahu banyak wacana produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.
Sumber : franchise-entrepreneur.blogspot.com





1 Kometar:
permisi min numpang share ya :)
Hayyy guys...
sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih