Senin, 03 Juni 2019

Kisah Sukses : Perempuan Berbisnis Tas Motif Aceh Menembus Pasar Ekspor

Profil Pengusaha Nailatul Amal


 Siapa sangka tas motif Aceh nya menembus pasar ekspor Kisah Sukses :  Wanita Berbisnis Tas Motif Aceh Menembus Pasar Ekspor
 
Siapa sangka tas motif Aceh nya menembus pasar ekspor. Dulu Nailatul Amal hanya memproduksi sedikit. Bisnis tas memang tidak gampang apalagi banyak pemain. Ia ingat betul bagaiman sukarnya, mengatakan tas produksinya kepada masyarakat.

Meskipun sukar tidak menyurutkan warga Desa Rayeuk, Kec. Nisam, Aceh Utara ini. Sekarang tidak hanya dipasarkan di Aceh, tetapi Sumatera, Jawa, dan luar negeri. Nailatul mengeskpor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.

Ke depan bahkan menyasar ke Norwegia, Spanyol, dan Denmark. Awal mula, tahun 2006, Nailatul sudah mulai  berbisnis namun tidak mudah. Pasang surut ia menjalankan bisnis tas motif Aceh, ia sama sekali tidak takut menghadapi persaingan produk yang sama.

"Saat itu saya hanya menciptakan manik- manik untuk jilbab yang biasa digunakan dan disukai konsumen," kenang pengusaha ini, yang tetap bekerja sambil berwirausaha.

Wirausaha tas merupakan satu bentuk passion baginya. Tidak gampang tetapi ia bertekad menjalankan, apapun resikonya sambil tetap bekerja.Tahun 2009 produknya mulai dilirik banyak pembeli. Waktu itu ia mengirim ke Medan, Sumatra Utara.

Pengusaha Wanita Berbisnis Tas Motif Aceh

Bisnis tanpa nama kawasan produksi tas milik Nailatul. Kini, nama Syirkatunnisa menjadi produk khas ekspor, ia memulai memproduksi dari sudut rumahnya. Dari mengerjakan semua sendiri, pengusaha perempuan ini bisa mempekerjakan sekitar 30 orang pegawai, memproduksi ratusan tas untuk dijual.

Ia juga pernah mencicipi rugi sebelum laku. Nailatul ingat bagaimana tidak lakunya tasnya ini. Mungkin sebab tas motif Aceh masih awam. Dibanding tas- tas bermotif batik yang sudah di pasaran. Namun, kini, ia berbangga hati sebab tas nya hingga ke Amerik Serikat.

Pasar menyukai tas etnik bermotif khas Aceh tersebut. Perusahaan kecil miliknya memproduksi tidak kurang 3000 buah. Pasarnya dijual baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk kini ini ia menambahkan justru pesanan terbanyak tiba dari Amerik Serikat.

Pasar Amerika meminati produk tas besar dan dompet. Amerika mengatakan prospek besar baginya sekarang. "Alhamdulillah, undangan besar. Bu Iriana Jokowi juga pernah beli tas dan kain di sini tahun lalu," gembira pengusaha ini kepada pewarta Detik.com.

Disini di rumah tanpa plang nama mempekerjaka ibu rumah tangga. Produksi bukan sekala dalam negeri, tetapi sudah pangsa pasar ekspor. Omzet perbulan menyentuh Rp.250 juta hingga Rp.400 juta. Paling ramai jika masuk tahun baru, natal, valentin, dan paskah.

Wanita yang dekat dipanggil Mi Cut ini, menjelaskan apa itu motif Aceh. Menurutnya tas ini berbasis materi bordir. Motifnya khas mengandung perpaduan Arab dan India. Produknya bermacam- macam tas dari kecil hingga besar, dari tas keong hingga koper, diproduksi oleh Mi Cut.

Dia memafasilitasi masyarakat lokal. Harganya dari 10 ribu hingga 350 ribuan dinamis. Ia berharap pihak pemerintah memperhatikan UKM menyerupai dirinya. Karena kita tau UKM mengatakan efek yang besar. UKM mengurangi pengangguran dan mengurangi kriminalitas di jalanan Aceh.

Suksesnya Mi Cut ternyata memili dongeng lain. Soal marketing ia menambahkan tidak spesifik dalam promosi. Intinya mengutamakan kualitas desain dan pelayanan. Mengikuti program pameran menjadi satu cara ia menjalankan bisnisnya, itupun tidak memaksa harus menjual banyak.

Baginya produk sanggup tampil menarik perhatian orang. Lewat pameran internasional akan membuka celah ekspor. Disamping itu menjalankan perbaikan- perbaikan lagi. Sambil nanti akan menyiapkan kapasitas produk.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan kalian semua.
Silahkan tinggalkan komentar anda dengan baik dan sopan.
Silahkan berikan saran dan kritik untuk membangun blog ini jauh lebih baik.
terimakasih

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini