Berbagi Cerita - Kisah Sukses

Asalamualaikum Wr, Wb. Hidup hanya sekali dan tidak akan berulang untuk ke duakalinya di bumi yang sama ini, Lalu apa tujuan hidup Kita? bagaimana kita menghadapinya untuk bisa mencapai cita-cita kita? dan jalan apa yang harus kita tempuh untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Disini saya mencari artikel-artikel tentang kisah orang-orang yang telah sukses meniti karirnya dibidanganya masing-masing. Semoga ini bisa menjadi Inspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup didunia ini. Walaupun terkadang banyak sekali rintangan yang kita hadapi tetapi hendaklah kita bersabar untuk menjalaninya agar hidup kita menjadi lebih baik dan dari hari-hari sebelumnya, (baca dan resapi kisah perjuanganya, kemudian lakukan yang terbaik dalam hidup anda)Salam kenal dari Saya

Kamis, 20 Desember 2018

Inilah Tokuji Hayakawa Pendiri Perusahaan Sharp

Tokuji Hayakawa dilahirkan pada tahun 1893 di Tokyo, Jepang. Tokuji Hayakawa merupakan pendiri dari perusahaan elektronik asal jepang berjulukan SHARP. Tokuji Hayakawa terlahir dalam keadaan yang amat sulit dalam kondisi kemiskinan yang dimiliki oleh keluarganya, Tokuji Hayakawa kemudian diadopsi oleh keluarga Sato. Ia mendengar kenyataan bahwa Ia diadopsi tidak hingga dewasa. Dia kemudian meninggalkan sekolah dasar sehabis kelas dua dikarenakan kondisi keluarganya yang amat miskin, dan ia kemudian magang ke pembuat ornamen logam. Dia bekerja dengan rajin dan baik dengan tujuan untuk meningkatkan keahliannya dalam bidang logam dan pemahaman ihwal perdagangan dan penjualan, sebab keuletan dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dari bosnya.

Meskipun ikat pinggang telah dipakai semenjak zaman kuno untuk aksesoris menyerupai baju besi dan sepatu, yang kemudian mulai dipakai pada ikat pinggang untuk celana anak pria pada kurun ke-15 dan kemudian untuk dipakai dalam pakaian wanita di kurun ke-19. Ketika Hayakawa meluncurkan ikat pinggang ciptaanya pada tahun 1912, undangan di Jepang untuk ikat pinggang meningkat dengan penyebaran gaya model Barat. Namun, Hayakawa dan pengrajin lainnya belum sempat mengenakan pakaian gaya Barat dan ikat pinggang. Hayakawa secara kebetulan melihat seorang pemain film film yang kurang bahagia dengan model ikat pinggang yang ia gunakan. Hal ini kemudian menjadi pandangan gres beliau untuk menghabiskan waktunya membuat ikat pinggang atau sabuk gres yang panjang yang bisa diikat. ia kemudian membuatkan ikat pinggang atau ikat pinggang unik ciptaannya itu.

Bosnya kemudian mengagumi ciptaaanya dan merekomendasikan Tokuji untuk mengajukan permohonan hak paten. Dia mengusulkan nama "Tokubijo" mengadopsi salah satu huruf Tokuji untuk nama hak patennya. Karena tekanan untuk memperlihatkan produk yang sempurna waktu, Tokuji memutuskan untuk membangun pabrik untuk memproduksi produk ciptaannya. Dia kemudian meminjam emminjam sebagian lahan ibukota untuk membangun pabriknya dan kemudian ia mendirikan tokonya pada bulan September di tahun 1912. Dia memperkenalkan cara untuk membuatkan industri, ia kemudian banyak merekrut pekerja untuk dipekerjakan di pabriknya untuk meningkankan produksi dan pesanan para konsumennya. Dia kemudian bisa keluar dan membayar semua utang-utangnya. Dia terus meningkatkan proses manufaktur untuk produknya dan memperluas bisnisnya ke tahap yang lebih besar. 

Pada tahun 1913, Hayakawa memperoleh paten dari sebuah keran air yang inovatif, dan pada tahun 1915, ia juga membuatkan prototipe dari pensil mekanis yang masih dijual hingga dikala ini. Setelah itu ia memperlihatkan kecerdasan manajerialnnya dengan cara memperluas perusahaan ke dalam bisnis manufaktur elektronik yang kemudian menjadi salah satu merk produk populer di dunia yang diberi nama "SHARP", Nama "Sharp" diambil dari nama inovasi pertama pendiri perusahaan tersebut yaitu pensil mekanis temuan Tokuji Hayakawa "Ever-Sharp" yang diciptakan di tahun 1915. dengan produk unggulan radio tape-recorder dan televisi pada awal berdirinya. 

Tokuji Hayakawa menyampaikan bahwa Ada banyak kerja keras yang terlibat dalam proses pengembangan produk ke pasar. Jika produk sukses, perusahaan lain akan keluar dengan produk sejenis. Mereka menyampaikan Jepang bakir meniru, meskipun beberapa orang mengkritik ini dari sudut pandang budbahasa bisnis. Namun, apa yang ia katakan kepada divisi perusahaanya ialah "membuat produk yang orang lain ingin meniru." Produk yang bisa ditiru ialah produk yang baik yang diinginkan konsumen, produk yang menjual. Oleh sebab itu, kalau selalu mencoba untuk keluar dengan produk yang unggul maka pesaing akan meniru, dan perusahaan akan terus tumbuh. Imitasi menjadikan persaingan, meningkatkan tingkat teknologi, dan mengarah kepada kemajuan dalam masyarakat. Namun, perusahaan yang berasal produk selalu dikejar, sehingga harus memikirkan produk berikutnya dan melanjutkan penelitian. Dan perusahaan tidak bisa berpuas diri dan puas dengan hanya satu produk yang baik. Hal ini tidak bisa berpuas diri hanya sebab itu ialah penemu atau pelopor produk. Perusahaan harus melaksanakan penelitian untuk menjadikan produk yang lebih baik, sebab orang yang memperoleh hasil maksimal dari produk yang mereka kembangkan.

Tokuji Hayakawa juga aktif dalam program-program kesejahteraan sosial. Dia meninggal pada tahun 1981 pada usia 86. Sejak itu Sharp Corporation terus bermetamorfosis salah satu perusahaan elektronik terdepan di dunia. Sharp memproduksi bermacam-macam produk elektronik konsumen. Termasuk televisi LCD dengan nama merek Aquos, telepon selular, panggangan microwave, Home Cinema dan sistem audio, Penjernih Udara, penyejuk udara, mesin facsimile dan kalkulator. 

Sumber : jutaanpembaca.com

Inilah Tokuji Hayakawa Pendiri Perusahaan Sharp

Tokuji Hayakawa dilahirkan pada tahun 1893 di Tokyo, Jepang. Tokuji Hayakawa merupakan pendiri dari perusahaan elektronik asal jepang berjulukan SHARP. Tokuji Hayakawa terlahir dalam keadaan yang amat sulit dalam kondisi kemiskinan yang dimiliki oleh keluarganya, Tokuji Hayakawa kemudian diadopsi oleh keluarga Sato. Ia mendengar kenyataan bahwa Ia diadopsi tidak hingga dewasa. Dia kemudian meninggalkan sekolah dasar sehabis kelas dua dikarenakan kondisi keluarganya yang amat miskin, dan ia kemudian magang ke pembuat ornamen logam. Dia bekerja dengan rajin dan baik dengan tujuan untuk meningkatkan keahliannya dalam bidang logam dan pemahaman ihwal perdagangan dan penjualan, sebab keuletan dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dari bosnya.

Meskipun ikat pinggang telah dipakai semenjak zaman kuno untuk aksesoris menyerupai baju besi dan sepatu, yang kemudian mulai dipakai pada ikat pinggang untuk celana anak pria pada kurun ke-15 dan kemudian untuk dipakai dalam pakaian wanita di kurun ke-19. Ketika Hayakawa meluncurkan ikat pinggang ciptaanya pada tahun 1912, undangan di Jepang untuk ikat pinggang meningkat dengan penyebaran gaya model Barat. Namun, Hayakawa dan pengrajin lainnya belum sempat mengenakan pakaian gaya Barat dan ikat pinggang. Hayakawa secara kebetulan melihat seorang pemain film film yang kurang bahagia dengan model ikat pinggang yang ia gunakan. Hal ini kemudian menjadi pandangan gres beliau untuk menghabiskan waktunya membuat ikat pinggang atau sabuk gres yang panjang yang bisa diikat. ia kemudian membuatkan ikat pinggang atau ikat pinggang unik ciptaannya itu.

Bosnya kemudian mengagumi ciptaaanya dan merekomendasikan Tokuji untuk mengajukan permohonan hak paten. Dia mengusulkan nama "Tokubijo" mengadopsi salah satu huruf Tokuji untuk nama hak patennya. Karena tekanan untuk memperlihatkan produk yang sempurna waktu, Tokuji memutuskan untuk membangun pabrik untuk memproduksi produk ciptaannya. Dia kemudian meminjam emminjam sebagian lahan ibukota untuk membangun pabriknya dan kemudian ia mendirikan tokonya pada bulan September di tahun 1912. Dia memperkenalkan cara untuk membuatkan industri, ia kemudian banyak merekrut pekerja untuk dipekerjakan di pabriknya untuk meningkankan produksi dan pesanan para konsumennya. Dia kemudian bisa keluar dan membayar semua utang-utangnya. Dia terus meningkatkan proses manufaktur untuk produknya dan memperluas bisnisnya ke tahap yang lebih besar. 

Pada tahun 1913, Hayakawa memperoleh paten dari sebuah keran air yang inovatif, dan pada tahun 1915, ia juga membuatkan prototipe dari pensil mekanis yang masih dijual hingga dikala ini. Setelah itu ia memperlihatkan kecerdasan manajerialnnya dengan cara memperluas perusahaan ke dalam bisnis manufaktur elektronik yang kemudian menjadi salah satu merk produk populer di dunia yang diberi nama "SHARP", Nama "Sharp" diambil dari nama inovasi pertama pendiri perusahaan tersebut yaitu pensil mekanis temuan Tokuji Hayakawa "Ever-Sharp" yang diciptakan di tahun 1915. dengan produk unggulan radio tape-recorder dan televisi pada awal berdirinya. 

Tokuji Hayakawa menyampaikan bahwa Ada banyak kerja keras yang terlibat dalam proses pengembangan produk ke pasar. Jika produk sukses, perusahaan lain akan keluar dengan produk sejenis. Mereka menyampaikan Jepang bakir meniru, meskipun beberapa orang mengkritik ini dari sudut pandang budbahasa bisnis. Namun, apa yang ia katakan kepada divisi perusahaanya ialah "membuat produk yang orang lain ingin meniru." Produk yang bisa ditiru ialah produk yang baik yang diinginkan konsumen, produk yang menjual. Oleh sebab itu, kalau selalu mencoba untuk keluar dengan produk yang unggul maka pesaing akan meniru, dan perusahaan akan terus tumbuh. Imitasi menjadikan persaingan, meningkatkan tingkat teknologi, dan mengarah kepada kemajuan dalam masyarakat. Namun, perusahaan yang berasal produk selalu dikejar, sehingga harus memikirkan produk berikutnya dan melanjutkan penelitian. Dan perusahaan tidak bisa berpuas diri dan puas dengan hanya satu produk yang baik. Hal ini tidak bisa berpuas diri hanya sebab itu ialah penemu atau pelopor produk. Perusahaan harus melaksanakan penelitian untuk menjadikan produk yang lebih baik, sebab orang yang memperoleh hasil maksimal dari produk yang mereka kembangkan.

Tokuji Hayakawa juga aktif dalam program-program kesejahteraan sosial. Dia meninggal pada tahun 1981 pada usia 86. Sejak itu Sharp Corporation terus bermetamorfosis salah satu perusahaan elektronik terdepan di dunia. Sharp memproduksi bermacam-macam produk elektronik konsumen. Termasuk televisi LCD dengan nama merek Aquos, telepon selular, panggangan microwave, Home Cinema dan sistem audio, Penjernih Udara, penyejuk udara, mesin facsimile dan kalkulator. 

Sumber : jutaanpembaca.com

Inilah Martin Sorrell, Bos Perusahaan Periklanan Terbesar Di Dunia

Martin Sorrell yakni CEO WPP, perusahaan periklanan dengan pendapatan terbesar di dunia dan mempunyai lebih dari 2.400 cabang di 107 negara. Ia berpengalaman melewati masa-masa sulit ketika harus melepas pegawai dan menyatukan perusahaannya kembali sesudah sejumlah proses akuisisi.

Pada 1985, dia meninggalkan Saatchi dan berinvestasi di sebuah perusahaan publik kecil berjulukan WPP. Ia jadi CEO di sana. Pada usia 40 tahun dia belum pernah memegang perusahaan sendiri, jadi dia menganggap bahwa ini yakni kesempatan emas. Delapan belas bulan berada di WPP, dia pun tetapkan untuk membeli J. Walter Thompson, sebuah perusahaan periklanan yang besarnya 13 kali lipat lebih besar daripada perusahaannya sendiri. “Kami membayar $525 juta. Gampang saja, saya tak punya bayak hal untuk dipertaruhkan, jadi merasa tak ada ruginya,” ungkapnya.

Setelah WPP berkembang jadi lebih besar, dia menghadapi banyak sekali pilihan sulit, salah satunya yakni problem sumber daya manusia. “Hal yang paling berat yakni melepaskan mereka. Sangat tidak menyenangkan. Sulit mengajak semua orang bermain di daerah yang sama. Setelah akuisisi, beberapa orang tidak ingin berada di posisi terakhir mereka,” akunya.

Ia juga mengakuisisi perusahaan yang dulunya menjadi pesaing, ibarat Ogilvy, Grey, serta Y&R. Suatu langkah yang cukup berani. Namun kendalanya hampir selalu sama. Sulit bagi para pesaing untuk saling berkolaborasi. Pergantian sumber daya insan terus terjadi, sampai masuk ke generasi ke dua. Walaupun banyak orang-orang gres di generasi gres itu, namun tantangan tetap ada.

“Ketika membeli sebuah perusahaan, kami selalu menganggapnya membeli seluruh tim. Periklanan dan komunikasi yakni bisnis yang melibatkan orang-orang. Tentu orang-orangnya tiba dan pergi, dan kawan bisnis sanggup berubah, terutama ketika mereka telah menjadi lebih kaya,” ujarnya.

Ia mengaku menghabiskan $9 miliar setahun untuk mengurusi problem sumber daya manusia. Namun sayangnya dia tak mengevaluasi investasi tersebut. Dalam bisnis periklanan, yang lazim terjadi, jikalau perusahaan membutuhkan orang, perusahaan akan membajak mereka. Ia pun menyadari bahwa industri ini tidak akan bertahan usang jikalau kebiasaan semacam itu terus dipertahankan.

Baginya, WPP yakni bisnis yang telah mendarah daging dan sangat personal. Ia telah melihat proses pembangunannya semenjak awal. “Siapapun yang nantinya duduk di posisi saya, tidak akan memimpin dengan cara yang sama. Saya tidak bilang mereka lebih buruk, tapi mereka tidak punya kedekatan emosional yang sama ibarat yang saya rasakan,” ungkapnya.

Sumber : Suksesberwirausaha.blogspot.com

Inilah Martin Sorrell, Bos Perusahaan Periklanan Terbesar Di Dunia

Martin Sorrell yakni CEO WPP, perusahaan periklanan dengan pendapatan terbesar di dunia dan mempunyai lebih dari 2.400 cabang di 107 negara. Ia berpengalaman melewati masa-masa sulit ketika harus melepas pegawai dan menyatukan perusahaannya kembali sesudah sejumlah proses akuisisi.

Pada 1985, dia meninggalkan Saatchi dan berinvestasi di sebuah perusahaan publik kecil berjulukan WPP. Ia jadi CEO di sana. Pada usia 40 tahun dia belum pernah memegang perusahaan sendiri, jadi dia menganggap bahwa ini yakni kesempatan emas. Delapan belas bulan berada di WPP, dia pun tetapkan untuk membeli J. Walter Thompson, sebuah perusahaan periklanan yang besarnya 13 kali lipat lebih besar daripada perusahaannya sendiri. “Kami membayar $525 juta. Gampang saja, saya tak punya bayak hal untuk dipertaruhkan, jadi merasa tak ada ruginya,” ungkapnya.

Setelah WPP berkembang jadi lebih besar, dia menghadapi banyak sekali pilihan sulit, salah satunya yakni problem sumber daya manusia. “Hal yang paling berat yakni melepaskan mereka. Sangat tidak menyenangkan. Sulit mengajak semua orang bermain di daerah yang sama. Setelah akuisisi, beberapa orang tidak ingin berada di posisi terakhir mereka,” akunya.

Ia juga mengakuisisi perusahaan yang dulunya menjadi pesaing, ibarat Ogilvy, Grey, serta Y&R. Suatu langkah yang cukup berani. Namun kendalanya hampir selalu sama. Sulit bagi para pesaing untuk saling berkolaborasi. Pergantian sumber daya insan terus terjadi, sampai masuk ke generasi ke dua. Walaupun banyak orang-orang gres di generasi gres itu, namun tantangan tetap ada.

“Ketika membeli sebuah perusahaan, kami selalu menganggapnya membeli seluruh tim. Periklanan dan komunikasi yakni bisnis yang melibatkan orang-orang. Tentu orang-orangnya tiba dan pergi, dan kawan bisnis sanggup berubah, terutama ketika mereka telah menjadi lebih kaya,” ujarnya.

Ia mengaku menghabiskan $9 miliar setahun untuk mengurusi problem sumber daya manusia. Namun sayangnya dia tak mengevaluasi investasi tersebut. Dalam bisnis periklanan, yang lazim terjadi, jikalau perusahaan membutuhkan orang, perusahaan akan membajak mereka. Ia pun menyadari bahwa industri ini tidak akan bertahan usang jikalau kebiasaan semacam itu terus dipertahankan.

Baginya, WPP yakni bisnis yang telah mendarah daging dan sangat personal. Ia telah melihat proses pembangunannya semenjak awal. “Siapapun yang nantinya duduk di posisi saya, tidak akan memimpin dengan cara yang sama. Saya tidak bilang mereka lebih buruk, tapi mereka tidak punya kedekatan emosional yang sama ibarat yang saya rasakan,” ungkapnya.

Sumber : Suksesberwirausaha.blogspot.com

Selasa, 06 November 2018

Inilah 3 Motivator Pendatang Baru yang Bertalenta

Hai sahabat Sukses,,,
Kali ini saya akan membahas secara singkat 3 motivator indonesia yang bisa dikatakan pendatang baru dalam industri Motivator...
Sebenarnya sangat banyak motovator di indonesia ini, tapi yang sekiranya lebih menonjol yang saya tahu ada beberpa, dan yang saya anggap memiliki peminat tertinggi dan aktifitas medsos tertinggi ada 3 orang. siapakah Mereka? yuk kita lihat bersama-sama:

1. Ippho Santoso
Beliau lebih dikenal dengan nama panggilan Mas Ippho, yang telah melahirkan buku-buku terkenal dan sangat dikagumi banyak orang. ketika memberika motivasi Mas iIppho lebih menonjolkan tentang kekuatan Sedekah dan Fokus kepada Jalan Motivasi secara Islam. Mas Ippho lahir di Pekanbaru pada Tanggal 30 Desember 1977, dari pasangan Dwianto Sri Santosa dan Husnelly Nedvia. masa kecil mas Ippho terbilang biasa saja, dan bahkan dikenal sebagai seorang pemalu. rasa percaya dirinya muncul ketika telah lulus SMA dan sejak saat itu mengasah keberanianya hingga menjadi seorang Entreppreniur yang sukses. sepanjang perjalananya Mas Ippho Santosa berkarier sebagai pemasar di Sinar Mas Group, Genting Highland, dan sebuah perusahaan Filipina. Ia juga sempat bekerja sebagai penerjemah di ILO dan dosen di Universitas Internasional Batam.
Mas Ippho dalam sejarah motivasi dikenal dengan Motivatior Pakar Otak Kanan, yaitu kekuatan alam bawah sadar yang luar biasa yang mengantarkan kepada semua keinginan kita.

2. Chandra Putra Negara
Pak Chandra dikenal dengan seorang motivator yang aktif memberikan pelajarang yang sangat bermanfaat dan melalui akun Youtube nya dengan Chanel Success Before 30,  yang telah memiliki subskribe ribuan orang dan akan terus bertambah. Beliau sangat aktif memberikan masukan dan menjawab para pengunjung yang mengajukan pertanyaan di chanelnya. untuk masalah karirnya.
Pak Chandra lahir di Surabaya pada tanggal 21 Desember 1976. kehidupan masa kecilnya juga kurang menyenangkan dan hingga puncaknya Orang tuanya mewariskan hutang yang sangat besar, untuk itu Pak chandra selalu tegar dalam menghadapi cobaan itu. dari penghalaman pahitnya, beliau mengeluarkan buku dengan judul: "Badai Pasti Berlalu".
Latar Belakang pendidikanya adalah:
Alumni
SDK Theresia 1988
SMPK St Stanislaus 1991
SMA Kr Pirngadi 1994
Universitas Surabaya dengan Gelar Sarjana Teknik dan Manajemen Industri (ST)

Copy dari sumber aslinya:
Tarif mengundang Bp Chandra Putra Negara.
1. Kampus / Universitas Rp 5jt/2 jam 
2. Perusahaan / Corporate / Instansi / BUMN Rp 60jt/ 2jam.
3. Inhouse Training Rp 100jt/8jam
4. Personal Konseling Rp 5jt/jam.
Semua biaya diatas belum termasuk Biaya Akomodasi + Transportasi.
Informasi Jadwal Seminar, WA Admin 0817338678 (Nora)
Sumber: KlikDisini

3. Merry Riana
Adalah seorang wanita yang luar biasa dalam hal berbisnis, beliau berusaia masih tergolong muda untuk meraih kesuksesan. dengan bermodal tekat yang kuat dan kecerdasan yang luar biasa mengawalai karirnya di Singapura saat sedang kuliah disana.
Merry Riana dilahirkan di pada tanggal 29 Mei 1980 di Jakarta, ayahnya bernama Ir. Suanto Sosrosaputro dan ibunya bernama Lynda Sanian.
Nama Lengkap : Merry Riana
Lahir : Jakarta, 29 Mei 1980
Orang Tua : Ir. Suanto Sosrosaputro (ayah), Lynda Sanian (ibu)
Saudara : Aris, Erick
Suami : Alva Christopher Tjenderasa
Anak : Alvernia Mary Liu
Buku : Mimpi Sejuta Dollar

Dalam Biografi Merry Riana, Ia meminjam dana beasiswa dari Bank Pemerintah Singapura sebesar $40.000 dan harus dilunasi setelah ia lulus kuliah dan bekerja. Dana tersebut sangatlah minim, karena setelah dihitung-hitung ia hanya mangantungi $10 selama seminggu. Untuk berhemat, Merry menyiasatinya dengan hanya makan mie instant di pagi hari,makan siang dengan 2 lembar roti tanpa selai, ikut seminar dan perkumpulan di malam hari demi makan gratis, bahkan untuk minumpun ia mengambil dari air keran/tap water di kampusnya

MIMPI SEJUTA DOLAR

Demikan sekilas cerita 3 motivator indonesia pendatang baru, semoga dengan ini kita semua dapat termotivasi. dan bisa menghasilkan jauh lebih banyak. Amin...

******************************
Terimakasih Atas Kunjungan Anda
http://kisah-orangsukses.blogspot.com/search/label/Buku
Semoga Artikel Ini Bermanfaat
kisah-orangsukses.blogspot

Senin, 05 November 2018

Kisah Sukses Sandiaga Uno


Sandiaga adalah seorang pengusaha kaya yang kelahiranya di Pekanbaru pada Tanggal 28 Juni 1969 dari pasangan orang tua yang bernama Razif Halik Uni dan Racmini Rachman. Beliau menikah seorang istri bernama Nur Asiah, dan telah dikaruniai 3 orang anak bernama Anneesha Atheera Uno, Amyra Atheefa Uno, dan Sulaiman Saladdin Uno. Sandi Uno adalah seorang lulusan dari Wichita State University, Amerika Serika.

Setelahlulus kuliah Sandiaga mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Di Bank Summa, ia bertemu dan berguru dengan konglomerat William Soeryadjaya pemilik Bank Summa. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas George Washington, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Sandiaga Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Ia banting setir untuk bangkit dari nol, menjalani awal kariernya menjadi seorang pengusaha. Bersama rekannya, ia mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain . Pada tahun 2009, ia tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Ia menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$ 660 juta.
Pada tahun 1993 Sandiaga Uno bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi. Ia kemudian pindah ke MP Holding Limited Group di tahun 1994. Kemudian Pada 1995 ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan atau setara dengan Rp. 100.000.000,-/Bulan pada Kurs saat ini. Namun, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut sehingga memaksanya untuk pulang ke Indonesia dengan status pengangguran.
Pada tahun 1997 Sandi Uno mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya. Setelah berjalan selama satu setengah tahun Sandi kemudian bertemu dengan Edwin Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, pendiri PT Astra Internasional. Waktu itu Edwin juga mengalami kesulitan keuangan dan Sandi ditawarkan untuk membangun usaha berbasis investasi. Maka, ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.
Berbekal jejaring (network) yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi Uno sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan.Kinerja perusahaan yang krisis itu kemudian dibenahi dan dikembangkan. Setelah kembali sehat, aset perusahaan tersebut dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Hingga 2009, ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih oleh PT Saratoga. Beberapa perusahaan telah dijual kembali, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.

Pada 2005–2008, Sandi Uno menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di HIPMI meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang. Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.

Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS, pada 2007. Sementara, pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Pada 2009 Sandi masuk sebagai pendatang baru dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Majalah tersebut menuliskan Sandi memiliki kekayaan US$ 400 juta dan berada di peringkat 29.

Demikian sekilas tentang kisah sukses Sandiaga Uno dalam Bisnisnya.

Sumber: Wikipedia
******************************
Terimakasih Atas Kunjungan Anda
http://kisah-orangsukses.blogspot.com/search/label/Buku
Semoga Artikel Ini Bermanfaat
kisah-orangsukses.blogspot

Sabtu, 03 November 2018

Kisah Sukses Prabowo Subianto

Sahabat kisah sukses, kali ini saya akan membahas tentang kisah sukses Prabowo Subianto dalam hal bisnis, dikarenakan tahun 2018 ini sedang panas dalam hal politik, maka saya tidak akan membahas bidang politiknya, melainkan karir hidupnya dan usahanya.
Ok langsung saja,
Prabowo Subianto Djojohadikusumo lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951, beliau adalah putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar, atau lebih dikenal dengan nama Dora Soemitro dan memiliki 4 saudara yaitu 2 kakak dan 1 adik. kedua kakaknya bernama Biantiningsih Miderawati dan Maryani Ekowati dan adiknya bernama Hashim Djojohadikusumo.

Kehidupanya sejak kecil berada di bidang militer membuatnya memiliki metal baja dan selalu siap menghadapi tantangan apapun itu.
bisnisnya dimulai ketika Beliau sudah tidak lagi menjabat di bidang militer.
dan untuk pertama kalinya Ia membeli sebuah perusahaan kertas yang bernama Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang, Kalimantan Timur yang dananya diperoleh dari pinjaman dari bank mandiri. Sebelumnya perusahaan kiani kertas dimiliki oleh Bob Hasan yang dekat dengan mertuanya Suharto. Dari sinilah perusahaan tersebut berkembang dan sekarang memiliki 27 perusahaan di berbagai bidang baik itu di indonesia maupun diluar negeri. Prabowo adalah Presiden dan CEO PT Tidar Kerinci Agung yang bergerak dalam bidang produksi minyak kelapa sawit, kemudian PT Nusantara Energy yang bergerak dalam bidang migas, pertambangan, pertanian, kehutanan dan pulp, juga PT Jaladri Nusantara yang bergerak di bidang perikanan.

Demikian sekilas bisnis yang dimiliki prabowo, semoa termotivasi dan bermanfaat.
Terimakasih.



******************************
Terimakasih Atas Kunjungan Anda
http://kisah-orangsukses.blogspot.com/search/label/Buku
Semoga Artikel Ini Bermanfaat
kisah-orangsukses.blogspot

Jumat, 29 September 2017

Inilah Cerita Wirausahawan Sukses - Au Bintoro

Kisah wirausahawan sukses ini yakni seorang insan yang mendapat kelebihan dari sang Pencipta. Mengapa tidak, berkat tangan dinginnya ia bisa mengubah perabot rumah tangga yang dikenal dahulu sulit untuk mengangkutnya, tapi ditangannya perabot rumah tangga itu disulap menjadi produk yang sanggup dibongkar pasang.

Kisah wirausahawan sukses ini dibesarkan dari keluarga yang sederhana membuat dia hidup apa adanya. Sejak kecil anak ke-3 dari 11 bersaudara ini sudah ringan tangan.Buktinya ia selalu membantu orang tuanya bekerja. Namun, dia tidak usang tinggal di tanah kelahirannya. Di ketika usianya masih anak-anak, dia bersama saudaranya pindah ke kota Bogor. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti dan simak kisah sukses pengusaha berikut ini.


 ini yakni seorang insan yang mendapat kelebihan dari sang Pencipta Inilah  Kisah Wirausahawan Sukses - Au Bintoro
Au Bintoro

Kisah sukses Au Bintoro, pendiri Olympic Furniture, diawali tahun 1980. Ketika itu ia merasa bahwa toko furniture terlalu membebani konsumennya dengan ongkos kirim yang begitu besar. Mahalnya ongkos kirim itu disebabkan lantaran beratnya produk furniture sehingga untuk mengangkatnya diharapkan beberapa orang pekerja, selain itu pengusaha furniture tidak sanggup membawa banyak barang sekaligus—satu truk kecil hanya bisa mengangkut beberapa meja mencar ilmu saja—sehingga tidak efesien. Bayangkan jikalau meja-meja tersebut harus diantarkan ke alamat pelanggan yang berada di pelosok-pelosok daerah, bukan mustahil ongkos kirimnya lebih mahal dari harga meja itu sendiri.

Au yang ketika itu masih berprofesi sebagai pembuat box speaker memutar keras otaknya semoga bisa menemukan meja mencar ilmu yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Au mempunyai ide untuk membuat sebuah meja yang sanggup dibongkar pasang. Dengan ide ini ia berharap pengangkutan meja jadi lebih gampang dan murah. Namun ia menemukan masalah, penggunaan kayu yang berat bobotnya mengakibatkan timbul kesulitan membuat pasak-pasak yang cukup besar lengan berkuasa untuk merekatkan bagian-bagian meja.

Ia kemudian mencoba-coba membuat meja dari materi baku box speaker yang dimilikinya, dan ternyata sukses. Ia bisa membuat meja yang lebih kecil, ringan, dan gampang dibongar pasang. Meja mencar ilmu gres itu tersusun dari serpihan-serpihan papan partikel dengan perekat sekrup yang bisa di cucuk-cabut. Setiap potongan diberi tanda khusus untuk mencocokkannya dengan potongan lain. Ini menyerupai dengan mainan bongkar pasang anak-anak.

Produk ini selain gampang dibawa ternyata juga menawarkan keuntungan lain bagi penjualnya, yaitu memperkecil biaya penggudangan (storage cost) lantaran penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang.

Walau begitu Au belum mempunyai cukup nyali untuk menjualnya secara massal, dan lebih menentukan untuk menjualnya menurut pesanan. Suatu hari seorang konsumen memesan meja itu dalam jumlah ribuan. Au girangnya bukan main. Setelah harga disepakati, pengerjaan meja itu dilakukan 24 jam nonstop semoga simpulan sempurna waktu.

Namun malang di tengah jalan order itu diputus secara sepihak. Akibatnya Au terpaksa menumpuk produk dan materi baku yang tersisa di gudang. Setelah menunggu tanpa kepastian, Au nekad menjual meja pesanana itu ke toko-toko furniture. Ternyata meja-meja itu laris keras dan habis terjual. Ini membuat Au semakin percaya bahwa konsumen telah usang menantikan sebuah meja mencar ilmu yang lebih mudah menyerupai buatannya. Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker. Setahun sebelumnya dia meresmikan sebuah pabrik Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja (menyusul kemudian tempat tidur, meja serbaguna, lemari hias, lemari pakaian, rak televisi, meja kantor, dan hampir semua jenis furniture.

Au menamai merek produknya “Olympic Furniture” lantaran terinspirasi dengan Olimpiade XXIII yang berlangsung di Los Angeles pada 1984. Au mengutip ajang olahraga tersebut sebagai label dengan impian Olympic sanggup bergaung sehebat olimpiade yang populer di seluruh penjuru dunia. Inspirasi ini dikemudian hari menguntungkan Au lantaran konsumen lokal mengenalinya sebagai produk impor meskipun bahwasanya serpihan-serpihan perabot itu semuanya dibentuk di Bogor dengan tenaga kerja lokal.

Pada tahun 1997, menyerupai kebanyakan pengusaha lain, Au mengalami goncangan dahsyat jawaban Krisis Moneter yang melanda Indonesia ketika itu. Ongkos pembelian materi baku membengkak gila-gilaan dan karyawan menginginkan kenaikan gaji, sementara rata-rata 5 dari 10 konsumen membatalkan membelian. Bisnis Au mengalami masa-masa paling suram dan hampir semua planning besar terbengkalai begitu saja. Gara-gara krisis pula Au terpaksa menjual separuh lahan beserta gedung di kawasan Sentul Jawa Barat yang awalnya direncanakan sebagai sentra produksi terpadu, mulai dari pengolahan kayu hingga finishing.

Au mendapat ide lain untuk mengatasi duduk kasus ini. Bila sebelumnya ia hanya mengandalkan toko-toko furniture untuk menjual produknya, sekarang ia bekerja sama dengan peritel besar menyerupai Carrefour dan Giant. Ia juga berafiliasi dengan gerai kredit Columbia semoga konsumen lebih gampang mendapat dana untuk membeli produknya. Strategi ini berhasil mengembalikan penjualan Olympic ke tingkat semula, bahkan lebih.

Memasuki tahun 2003 ia menggandeng perusahan furniture asal Jerman, Garant Mobel International dan gotong royong mendirikan Garant Mobel Indonesia (GMI) dengan 75% saham dimiliki Olympic. GMI bertindak sebagai pemberi hak waralaba yang menghubungkan pemasok dan para peritel mebel merek Garant asal Jerman, dan merek kelas atas milik Olympic. Usaha ini membuat merek gres MER yang diwaralabakan dengan biaya minimal Rp.500 juta beserta show room seluas 100 meter persegi. Kerja sama ini mengakibatkan Au sebagai peritel furniture pertama di Indonesia.

Au juga mulai mengibarkan merek-merek gres untuk menguasai pasar, contohnya Solid Furniture, Albatros, Procella, Olympia, dan furniture berharga murah Jaliteng. Diversifikasi produk itu dibentuk menurut daya beli sasaran market-nya. Albartos contohnya mencoba menampilkan desain klasik dan minimalis yang diubahsuaikan dengan tren perkembangan desain rumah masyarakat kelas atas yang berselera ala Eropa dan Asia modern.(Sumber: noveloke.com)

Au merupakan dongeng wirausahawan sukses yang mempunyai impian besar semoga perjuangan yang telah dirintisnya bisa bertahan dan bersaing semoga menghasilkan perusahaan yang berkualitas terbaik. Semua ini yakni berkat kerja keras, kegigihan, dan pantang mengalah yang tercermin dalam sosoknya. Au Bintoro yakni aktivis industri furniture Indonesia yang sangat dikenal semua kalangan, baik dari tingkat office boy hingga eksekutif perusahaan. Dengan membawa visi yang diembannya, maka tumbuhlah perusahaan yang bisa merajai kelas dunia. Selain itu dengan membawa merek olympic furnitue, Au semakin memimpin di puncak perbisnisan furniture yang ada di Indonesia. Akhirnya saya berharap semoga pembaca sekalian bisa memetik makna dari perjalanan kisah sukses wirausahawan di atas. Jaga terus semangat entrepreneurship, salam sukses selalu!

Jumat, 01 September 2017

Inilah Kiat-Kiat Menjadi Orang Sukses - Kenneth Tjahjady Sudarto

Kiat-kiat menjadi orang sukses pendiri Matari Advertising. Mungking Anda pernah mendengar nama perusahaan yang satu ini. Perusahaan yang mengambil jalur di bidang periklanan di Indonesia ini, konon hingga kini sangat melegenda. Namun, apakah Anda tahu, siapa orang dibalik kesuksesan Matari Advertising? Ya, benar sekali, ia ialah Kenneth Tjahjady Sudarto atau yang lebih erat di panggil Ken Sudarto. Berkat tangan dinginnya, perusahaan yang dulunya didirikan disebuah garasi, kini disulapnya menjadi perusahaan yang kokoh dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kesuksesan yang telah diraih oleh Ken Sudarto memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan kiat-kita menjadi orang sukses pada ketika kita mencicipi jatuh bangun, penuh dengan kepahitan dan kegetiran. Roda kehidupan dia ketika kecil tidaklah begitu mulus. Tetapi dia terbiasa kerja keras untuk meraih cita-citanya menjadi pengusaha sukses Indonesia. Selanjutnya silakan ikuti paparan artikel berikut ini.

 Mungking Anda pernah mendengar nama perusahaan yang satu ini Inilah  Kiat-kiat Menjadi Orang Sukses -  Kenneth Tjahjady Sudarto
Kenneth Tjahjady Sudarto

Dia tokoh periklanan Indonesia. Bahkan pantas digelari legenda hidup periklanan Indonesia. Ken, panggilan erat Kenneth Tjahjady Sudarto, salah seorang perintis periklanan Indonesia. Pendiri Matari Advertising, ini memulai usahanya dari garasi di daerah Cideng hingga mempunyai gedung megah Puri Matari di segitiga emas Kuningan.

Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005.

Ken meninggal sehabis setahun lebih berjuang melawan penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Dia meninggalkan seorang isteri, Sylvie Febryanti Sudarto, dan tiga anak Michael Dirgo Sudarto, Glenn Ario Sudarto dan Cynthia Anggraini Sudarto, serta tiga orang cucu Allegra Divya, Alexa Kirana, dan Tristan Ario.

Jenazah Presiden Komisaris Kelompok Matari Advertising itu datang di Bandara Soekarno Hatta dari Singapura sekitar pukul 20.00, Sabtu 5 November 2005. Selanjutnya dibawa ke Puri Matari di daerah Kuningan. Di sana para karyawan dan staf memperlihatkan penghormatan terakhir. Setelah itu, iring-iringan kendaraan beroda empat mayit menuju ke rumah almarhum di Jl Kemang Timur IV. Selanjutnya dibawa ke rumah sedih di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat.

Tampaknya, hingga maut menjemputnya dia terus berjuang. Sebelum meninggal, dari CCU Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Ken mengirim SMS kepada stafnya berbunyi: "Hidup ialah bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, hingga ke tangan Tuhan".

Perjuangannya dalam dunia periklanan dimulai dari garasi di daerah Cideng dengan dua orang pegawai. Sebelum mendirikan Matari (Agency Representative Matari Advertising, 1970-1971), Ken meniti karir sebagai Manager US Summit Corporation (1964-1968), Wiraswasta (1968-1969) dan Staf Lokal Ubersee Handel AG (1969-1970). Kemudian semenjak 1971 dia menjabat Presiden Direktur Matari Inc, perusahaan periklanan yang semula berhubungan dengan Mark Lean Advertising. Setelah dua tahun kemudian memisahkan diri.

Kemudian Matari sepenuhnya memakai tenaga mahir Indonesia, alasannya menganggap merekalah yang lebih mengenal negeri ini. Modalnya juga domestik.

Kenneth Sudarto-Matari AdvertisingSempat mengalami masa sulit tahun 1975-1976, karena dia mencoba berspekulasi di luar bidang periklanan. Lalu menerima derma dari klien lama. PT Astra dan Konimex dengan membayar di muka, serta harian Sinar Harapan dan Surabaya Post bersedia menunda penagihan. Ditambah lagi suntikan modal dari Paul Karmadi, temannya semenjak kecil, dengan membeli 30% dari seluruh saham.

Perusahaan ini kemudian berkembang pesat., menjadi biro iklan paling lengkap di Indonesia. Matari Inc ini mempunyai studio foto, amphi-theater, studio rekaman modern, perpustakaan, dan kemudahan komputer.

Juga mempunyai kantor di gedung sendiri, Puri Matahari berlantai empat, di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Serta mempekerjakan sekitar 200 karyawan.

Biro iklan ini setidaknya melayani sekitar 30-an klien setiap tahun. Di antaranya Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, SIA, Cathay, Garuda, Fuji, Kodak, National, Sony, ITT, Unilever, BCA, dan lain-lain. Dari setiap klien, Matari menarik agency fee 15%sampai 20%.

Sulung dari lima bersaudara (Ken, Imelda, Berty, Liza dan Bambang), putera dari So Ping Hian (ayah) dan Setiawati K Sudarto (lo Bie Lan, Ibu) pedagang kelontong, ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942. Mengecap pendidikan SR, Jalan Sabang, Jakarta (1954), Sekolah Menengah Pertama Kanisius, Jakarta (1957) dan SMAK I, Jakarta (1960).

Sempat kuliah di FE UI, Jakarta, hingga tingkat IV, 1965. Kemudian berguru administrasi (Smaller Company Management Program) di Harvard Business School, AS (1982), Indonesian Senior Executive Program VI di Insead-Fountain- Bleau, Prancis (1981) dan Managing Strategic Changes di Imede-LPPM, Jakarta (1981).

Penggemar musik klasik dan pop serta olahraga jogging, renang, dan bulu tangkis, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005. Disemayamkan di rumah sedih di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat. Setelah dilakukan Misa Requiem, tiga hari berturut-turut, 6, 7 dan 8 November 2005, jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu 9 November 2005, pukul 09.30 Wib.

Panca Cita
Ketika banyak perusahaan belum menyadari arti penting dari suatu visi dan misi perusahaan, ia telah membuat Panca Cita Matari yang akan menjadi suluh penerang bagi perjalanan bisnisnya. Panca Cita ini diberlakukan pada ketika Matari berusia sembilan tahun dan Ken Sudarto berusia 38 tahun.

Kelima cita yang menjadi pematok langkah Matari sarat dengan idealisme, profesionalisme, dan semangat kekeluargaan. Cita pertamanya: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab. Pendiri Matari sangat menyadari sebagai perusahaan yang beroperasi di negara berkembang, perusahaan ikut bertanggung jawab dalam upaya perwujudan suatu masyarakat Indonesia yang sejahtera, kami akan secara aktif berpartisipasi dalam acara pembangunan nasional, terutama dalam bidang periklanan.

Cita kedua: Mengabdi kepentingan masyarakat. Kegiatan Matari dalam bidang periklanan akan dilakukan secara kreatif, membuat karya yang bermutu, jujur, harmonis dengan lingkungan, sehingga sungguh-sungguh mencerminkan dedikasi kepada kepentingan masyarakat.

Cita ketiga: Menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan. Dari awal Matari dirancang sebagai suatu keluarga besar yang dipadukan dalam satu organisasi bisnis. Di mana perusahaan akan senantiasa memperjuangkan terciptanya suasana kerja yang sesuai dan menyenangkan menuju peningkatan taraf ketrampilan dan kehidupan.

Cita keempat: Menghasilkan pendapatan yang sanggup membiayai pengembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Berikutnya demi kelangsungan hidupnya perusahaan, menjadi penting untuk terus menerus mengusahakan tercapainya pendapatan yang bisa memenuhi pembiayaan acara bisnis, menyediakan tercapainya pendapatan yang bisa memenuhi pembiayaan acara bisnis, menyediakan keuntungan untuk para pemegang saham, serta melaksanakan investasi untuk ekspansi usaha.

Cita kelima: Memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Untuk menjamin adanya kegairahan dan ketentraman kerja, perusahaan akan memperlihatkan imbalan yang masuk akal serta kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing.

Kelima cita ini telah menjadi pembimbing tindak dari Matari Advertising dalam setiap langkahnya. "Panduan semacam ini memungkinkan Matari mempunyai nilai-nilai ideologis yang akan terus membimbingnya ke masa depan," tutur Aswan Soendojo, yang mendapatkan tongkat estafet untuk melanjutkan kepemimpinan di Matari.(Sumber: jawaban.com)

Kegigihan ken Sudarto dalam membangun Matari Advertising disektor periklanan memang sudah tampak dari masa kecilnya. Ia berusaha melawan semua rintangan dan halangan yang menerpa kehidupannya. Ketika ia mengalami jatuh bangun, ia segera berdiri untuk mengatasinya. Selain itu, ia tidak pernah berputus asa untuk membawa nama perusahaan yang dikendalikannya menjadi besar. Sebuah perjalanan hidup yang patut dicontoh dari seorang tokoh yang membagikan kiat-kiat menjadi orang sukses. Semoga bermanfaat, jaga terus semangat kewirausahaan, salam sukses selalu!

Jumat, 04 Agustus 2017

Inilah Dongeng Sukses Pengusaha Kecil - Purdi E. Chandra

Kisah sukses pengusaha kecil pendiri sebuah forum pedidikan yang awalnya hanya mempunyai satu atau dua murid saja, sekarang telah mempunyai ratusan ribu murid yang hampir tersebar dari Sabang hingga Merauke. Bahkan di tangan beliau, forum pendidikan ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia.

Pasti anda tak habis pikir alasannya yaitu bisnis yang besar dimulai dari bisnis yang kecil, yang hanya satu cabang, dan yang paling parah cuma dua orang murid saja. Tokoh yang satu ini patutlah diangkat dongeng perjalanan usahanya sebagai ide kita semua. Namun siapa sangka, keberhasilannya merintis perjuangan ini ternyata penuh dengan jatuh bangun. Ia sering dihadapi dengan cobaan dan rintangan. Tetapi berbekal kerja keras dan semangat pantang menyerah, kesudahannya ia bisa untuk memperluas kesempatan kerja bagi semua orang yang ingin berkarya bersama beliau. Buktinya dia sekarang mempunyai aneka macam bisnis yang banyak dan tersebar di seluruh nusantara. Selanjutnya dengan impian bisa membagi pengetahuan ihwal dongeng sukses pengusaha kecil hingga menjadi seorang milyader, marilah kita simak artikel pengusaha sukses berikut ini.

 kecil pendiri sebuah forum pedidikan yang awalnya hanya mempunyai satu atau dua murid s Inilah  Kisah Sukses Pengusaha Kecil - Purdi E. Chandra
Purdi E Chandra

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis semenjak ia masih duduk di kursi Sekolah Menengah Pertama di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 PTN di Yogyakarta. Namun alasannya yaitu merasa “tidak menerima apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.

Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama bertahap berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak berguru dari ibunya. Sementara untuk problem kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang bau tanah Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas derma istrinya pula perjuangan tersebut makin berkembang.

Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di aneka macam bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.

Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di aneka macam organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber: purdiechandra.com)


Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA

Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang sempurna itu justru ketika kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.

Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap terbelakang alasannya yaitu nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.

“Masalahnya bila orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan forum bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.

Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ ihwal entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa membuat banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA. (sumber: megapasar.com)

Itulah perjalanan panjang kisah sukses pengusaha kecil orisinil Indonesia Purdi E. candra. Kesuksesan yang diperoleh memang bukan hasil dari keluarga, melainkan ia sendiri yang merintisnya perjuangan dari kecil dan berusaha melawan segala rintangan serta cobaan yang menerpa dalam setiap perjalanan bisnisnya. Ia juga mengatakan bahwa dengan kerja keras, berani gagal, dan pantang mengalah yaitu sumber untuk meraih keberhasilan. Kepeduliannya membangun dunia pendidikan di Indonesia patut dijadikan tumpuan bahwa dengan membuat banyak pengusaha maka akan banyak pula menekan angka pengangguran. Tak lupa saya berharap semoga pembaca bertambah semangat sehabis membaca dongeng pengusaha sukses tersebut. Salam sukses selalu!

Baca Juga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
close
Banner iklan   disini